Deeptalk.co.id – Istilah depresi tentu menjadi istilah yang tidak asing lagi ditelinga kita. Terlebih lagi jika kita mengingat isu kesehatan mental sudah cukup sering menjadi pembahasan dalam berbagai media. Selain itu, generasi saat ini sudah memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatan mental. Hal ini membuat penelitian mengenai isu kesehatan mental juga semakin luas. Namun disisi lain, tidak sedikit orang yang justru dengan mudahnya melakukan self diagnosis terhadap kondisi mental mereka.
Terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu benar adanya. Untuk itu, penting bagi kita memastikan kondisi mental kita kepada orang-orang yang ahli di bidangnya. Dalam hal ini adalah psikolog atau psikiater. Pada dasarnya hanya merekalah yang boleh memberikan diagnosis terkait kondisi mental seseorang.
Kamu mungkin pernah mendengar keluhan seseorang seperti “kayaknya aku depresi deh”, atau “gejala depresi dalam artikel ini cocok banget dengan apa yang ku rasakan”. Pernyataan semacam itu memang tidak boleh dianggap remeh, namun juga tidak boleh dibenarkan. Bisa jadi mereka memang dalam kondisi depresi, namun mungkin tidak separah yang mereka bayangkan.
Lantas bagaimana depresi itu sebenarnya? Sekali lagi, untuk dapat memastikan hal tersebut hanya bisa lakukan oleh orang-orang dengan kualifikasi khusus, yaitu psikolog atau psikiater. Namun, depresi sendiri tidak hanya sekedar rasa sedih yang mendalam. Depresi adalah kondisi mental yang jauh lebih parah dari rasa sedih. Selain itu, depresi juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Maka tidak heran jika kamu melihat klien A dan klien B dengan kondisi mental yang berbeda, namun sama-sama didiagnosis depresi.
Depresi Bisa Kambuh Kembali

Jika selama ini kamu menganggap bahwa semua kasus depresi bisa diatasi dengan sekali penanganan, maka kamu sedikit keliru akan hal tersebut. Pasalnya beberapa kasus depresi justru bisa masuk dalam kategori kronis. Artinya, depresi yang dialami bisa kambuh di lain kesempatan.
Umumnya, penderita depresi akan melalui episode depresi sebanyak 4 sampai 5 kali. Namun pada beberapa orang bahkan bisa lebih dari itu. Kembalinya episode depresi itu sendiri terbagi atas dua bagian, yaitu relapse dan recurrence.
Relapse sendiri adalah kondisi dimana depresi kembali kambuh atau menjadi semakin parah selama melakukan proses perawatan untuk episode awal. Kondisi relapse ini biasanya terjadi pada waktu 2 bulan setelah menghentikan pengobatan untuk episode awal.
Sedangkan recurence adalah kondisi dimana depresi kembali setelah penderita dinyatakan bebas dari depresi. Penderita depresi umumnya akan mengalami kondisi ini setelah beberapa bulan atau tahun setelah dinyatakan bebas dari depresi. Namun pada umumnya akan dialami setelah 6 bulan dari dinyatakan bebas dari depresi. Walaupun dalam kasus depresi yang cukup berat bisa jadi lebih cepat dari itu.
Baca juga : Cara Bijak Memberikan Dukungan Pada Penderita Midlife Crisis
Kesulitan Memberikan Dukungan Pada Penderita Depresi

Dalam kondisi fisik maupun mental yang tidak stabil, tentu dukungan akan menjadi sangat dibutuhkan. Sayangnya, memberikan dukungan bagi penderita depresi tidak semudah yang kita bayangkan.
Dalam banyak kasus, penderita depresi akan menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan apa yang kita kenal sebelumnya. Mereka akan sangat menutup diri dari orang-orang disekitarnya. Hal ini akan memperkecil akses orang lain untuk bisa menunjukan kepedulian mereka.
Selain itu, sering kali penderita depresi juga merasa malu jika orang lain menyaksikan kondisi mereka. Hal ini tentu akan menurunkan harga diri, dan membuat proses penyembuhan menjadi lebih lambat.
Meski demikian, bukan berarti penderita depresi tidak membutuhkan dukungan dari orang disekitarnya. Hanya saja, kita tidak bisa memberikan dukungan sebagaimana cara yang kita berikan pada penderita gangguan lainnya. Bahkan terkadang kita butuh memberikan space kepada mereka. Namun dukungan terbaik adalah membuat mereka mendapatkan penanganan secara medis oleh orang-orang yang ahli dibidang tersebut.
Depresi Bisa Membuat Seseorang Tidur Berhari-Hari

Salah satu gejala dari depresi adalah pola tidur yang tidak teratur. Dalam hal ini, penderita depresi bisa memiliki jam tidur yang sangat panjang. Jam tidur yang berlebihan ini perlu menjadi perhatian penting. Pasalnya, penderita depresi bahkan bisa melewatkan waktu makan hanya untuk tidur. Mereka bisa tidur berhari-hari tanpa jeda sama sekali.
Penderita depresi juga seakan kehilangan tenaga mereka untuk sekedar bisa bangkit dari tempat tidur mereka. Hal inilah yang membuat mereka tertidur dalam waktu yang sangat lama. Namun, memaksa mereka untuk bangkit dari tempat tidurnya juga akan sangat menyakitkan. Hal tersebut justru bisa dianggap kekerasan bagi penderita depresi.
Itu dia sedikit gambaran dari apa yang dialami oleh penderita depresi. Pada dasarnya, depresi memang tidak sesederhana apa yang kita bayangkan. Cukup banyak upaya yang justru dapat menyakitkan mereka. Untuk itu, meminta bantuan dari para ahli adalah cara terbaik untuk membantu penderita depresi agar bisa keluar dari kondisi tersebut.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Tips Menghadapi Midlife Crisis
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



