Semua artikel
Gangguan Psikotik

Delusi : Keyakinan Terhadap Sesuatu yang Tidak Nyata

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Mungkin diantara kalian pernah bertemu orang-orang yang memiliki kepercayaan terhadap sesuatu yang tidak nyata. Uniknya, walaupun sudah dijelaskan bawah hal tersebut tidak nyata, namun mereka tetap bersikukuh akan kepercayaannya. Jika kamu pernah menemui orang semacam itu, bisa jadi orang tersebut sedang mengalami kondisi yang dikenal dengan delusi.

Istilah delusi mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bagaimana tidak, selain memang sering menjadi pembahasan dalam dunia psikologis, istilah ini juga cukup sering menjadi candaan diantara masyarakat umum. Namun sayangnya, masih ada saja orang-orang yang tidak memahami secara benar mengenai apa itu delusi. Bahkan beberapa orang beranggapan bahwa delusi adalah halusinasi. Namun pada kenyataannya kedua hal tersebut memiliki perbedaan mendasar.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai delusi, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai hal tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi atau pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut pembahasan mengenai delusi.

Pengertian Delusi

Seperti yang sudah tertera pada judul artikel ini, delusi adalah kondisi dimana seseorang meyakini sesuatu yang pada kenyataannya tidak nyata. Delusi juga memiliki istilah lain, yaitu waham. Delusi sendiri merupakan bagian dari gangguan psikotik. Dimana penderita gangguan psikotik umumnya mengalami kondisi delusi.

Saking seringnya mempercayai hal-hal yang tidak nyata, penderita delusi pada akhirnya mengalami kesulitan untuk membedakan kenyataan dan imajinasi. Hal semacam ini tentu akan mengganggu kehidupan sehari-harinya.

Dalam kasus delusi sering kali diiringi dengan halusinasi. Hal inilah yang membuat delusi dan halusinasi sering kali dianggap sebagai satu kondisi yang sama. Selain itu, delusi maupun halusinasi, keduanya sama-sama membuat penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi. Walau pada kenyataannya delusi dan halusinasi adalah dua hal yang berbeda.

Penyebab Delusi

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab utama dari kondisi delusi itu sendiri. Meski demikian, banyak ahli yang beranggapan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

Genetik

Walaupun tidak selalu kasus delusi disebabkan oleh genetik, namun beberapa diantaranya memang memiliki hubungan akan hal tersebut. Dengan demikian, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi delusi atau gangguan psikotik, akan beresiko mengalami delusi.

Baca juga : Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget

Faktor biologis

Faktor berikutnya yang bisa memicu delusi adalah faktor biologis. Dalam hal ini penderita delusi cenderung memiliki kelainan pada bagian otak tertentu. Bagian otak tersebut adalah lobus frontal yang membantu proses berpikir, dan lobus parietal yang mengatur persepsi.

Senyawa kimia dalam otak juga sedikit banyak berkontribusi dalam membentuk delusi dalam diri seseorang. Dimana penderita delusi cenderung mengalami ketidakseimbangan neurotransmitter pada otak, yang mengakibatkan terhambatnya pesan dari dari sel saraf ke saraf pusat.

Trauma

Faktor ketiga yang memicu kondisi delusi adalah kondisi psikologis seperti trauma. Tidak bisa dipungkiri bahwa seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis sedikit banyak akan mengalami gangguan psikologis. Salah satu yang bisa menimpa penderita trauma adalah kondisi delusi.

Faktor lingkungan

Faktor lainnya yang tidak kalah berkontribusi dalam kondisi mental seseorang adalah faktor lingkungan. Dalam kasus delusi, umumnya adalah orang-orang yang tinggal pada lingkungan yang masih kental akan hal-hal mistis. Bisa juga seseorang yang tinggal dengan orang yang juga mengalami kondisi delusi.

Kondisi medis

Faktor berikutnya yang bisa membentuk delusi dalam diri seseorang adalah beberapa kondisi medis. Seperti yang kita ketahui delusi merupakan gejala dari beberapa gangguan. Adapun kondisi medis yang bisa memicu kondisi delusi adalah gangguan psikotik, gangguan suasana hati, postpartum psychosis, demensia, atau penyakit parkinson.

Gejala Delusi

Untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar mengalami delusi atau tidak adalah dengan melakukan konsultasi lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Namun sebagai bahan pertimbangan, kamu bisa melihat beberapa gejala delusi berikut:

·         Grandiose, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki harga diri tinggi dan menganggap diri sangat berpengaruh.

·         Persecutory, yaitu kondisi dimana seseorang merasa dirinya diperlakukan tidak adil.

·         Erotomania, yaitu keyakinan bahwa seseorang sangat mencintai dirinya, namun tidak pada kenyataannya.

·         Jealous, yaitu keyakinan bahwa pasangannya sedang tidak setia, walau tidak pada kenyataannya.

·         Bizzare, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki keyakinan yang tidak wajar atau tidak masuk akal.

·         Somatic, yaitu kondisi dimana seseorang merasa dirinya sedang dalam kondisi cacat fisik atau gangguan tertentu.

·         Waham nihilistik, yaitu kondisi dimana seseorang meyakini bahwa dirinya telah meninggal.

·         Mixed, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami gabungan dari beberapa kondisi diatas.

Itu dia penjelasan mengenai delusi. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Perkembangan Kognitif : Tingkat Kemampuan Individu Dalam Berpikir

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait