Semua artikel
Sosial

Dari Pilihan hingga Keterpaksaan: Memahami Isolasi Sosial Sukarela dan Tidak Sukarela

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Isolasi sosial adalah kondisi dimana seseorang memiliki sedikit sekali interaksi sosial, atau minim kedekatan dengan orang lain. Kondisi isolasi sosial ini bisa menimbulkan banyak sekali dampak dalam kehidupan sosial, termasuk mempengaruhi kondisi psikologis penderitanya.

Namun uniknya, ada saja orang yang dengan suka rela melakukan isolasi sosial. Artinya, isolasi sosial tersebut memang merupakan pilihan yang dijalaninya. Meski demikian, ada juga orang-orang yang terpaksa mengalami isolasi sosial. Artikel kali ini akan secara khusus membahas isolasi sosial sukarela dan isolasi sosial tidak sukarela.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa didapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Isolasi Sosial Sukarela

Wanita, Wanita Muda, Lukisan, Melukis

Isolasi sosial sukarela adalah kondisi dimana individu dengan kemauan sendiri memilih untuk menarik diri dari interaksi sosial karena alasan pribadi, seperti mencari ketenangan, ingin merefleksikan diri, atau sekedar membutuhkan privasi lebih.

Misalnya, seorang seniman yang memilih untuk tinggal di lingkungan terpencil demi mendapatkan inspirasi untuk ide-ide cemerlang yang akan dituangkan dalam sebuah seni. Bisa juga terjadi pada seorang remaja yang menghindari media sosial karena merasa tekanan sosial akibatnya.

Ciri-ciri isolasi sosial sukarela

Individu yang melakukan isolasi sosial sukarela biasanya akan menunjukan beberapa ciri-ciri berikut:

  • Merasa nyaman dengan minimnya aktivitas sosial yang dijalani, dan tidak mengalami tekanan psikologis akibat pilihannya tersebut.
  • Masih memiliki kontrol diri terhadap keputusannya dalam menarik diri.
  • Masih memiliki kemampuan untuk berelasi di kemudian hari saat memilih untuk kembali melakukan aktivitas sosial.
  • Tidak menunjukan gejala stress atau emosional yang berat.

Dampak isolasi sosial sukarela

Walau bagaimanapun, isolasi sosial sukarela tetap memiliki berbagai dampak bagi yang menjalaninya, yaitu:

  • Dampak positif, seperti kemampuan refleksi diri dan tumbuh secara pribadi, meningkatkan kreativitas dan produktivitas, serta meningkatkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik.
  • Dampak negatif, seperti penurunan kemampuan sosial, kesulitan adaptasi saat kembali ke lingkungan sosial, serta memperbesar potensi berkembangnya isolasi sosial tidak sukarela jika individu kehilangan kemampuan sosial dalam prosesnya.

Baca juga: Isolasi Sosial pada Remaja: Implikasi Psikososial dan Perkembangan Identitas

Isolasi Sosial Tidak Sukarela

Gadis, Asia, Model, Potret, Rambut Hitam

Berbeda dengan isolasi sosial sukarela, isolasi sosial tidak sukarela terjadi karena terpaksa atau tanpa kemauan pribadi. Bisa karena faktor eksternal, seperti diskriminasi, penolakan sosial, atau keterbatasan ekonomi. Bisa juga karena faktor internal, seperti kondisi kesehatan fisik atau mental.

Misalnya anak yang menjadi korban bullying di sekolah, sehingga memiliki sedikit sekali interaksi sosial dengan teman sebayanya. Bisa juga terjadi pada seorang lansia yang hidup dengan segala keterbatasan tanpa dukungan keluarga atau keterbatasan mobilitas.

Ciri-ciri isolasi sosial tidak sukarela

Individu dengan kondisi isolasi sosial tidak sukarela umumnya akan menunjukan beberapa ciri-ciri berikut:

  • Mengalami perasaan kesepian, terabaikan, bahkan tidak jarang mengalami depresi dalam skala yang cukup berat.
  • Mengalami kesulitan atau bahkan tidak mampu untuk menjalin hubungan sosial yang sehat dengan orang lain.
  • Timbulnya perasaan-perasaan negatif, seperti perasaan ditolak, dikucilkan, atau terabaikan oleh orang terdekat atau lingkungannya.
  • Menunjukan gejala stress, gangguan kecemasan, atau jenis gangguan mental lainnya.

Dampak isolasi sosial tidak sukarela

Tidak seperti isolasi sosial sukarela yang masih memiliki dampak positif, secara umum dampak dari isolasi sosial tidak sukarela berbentuk negatif, misalnya:

  • Beresiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, atau menimbulkan pikiran untuk menyakiti bahkan bunuh diri.
  • Beresiko mengalami berbagai gangguan kognitif, seperti penurunan daya ingat dan kesulitan untuk fokus, khususnya yang banyak terjadi pada lansia
  • Beresiko mengalami berbagai masalah kesehatan fisik, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga kematian dini.
  • Bagi anak dan remaja, isolasi sosial tidak sukarela ini bisa memicu terhambatnya perkembangan sosial yang bisa berdampak pada masa depannya.

Itu dia penjelasan tentang isolasi sosial sukarela, dan tidak sukarela. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial yang selama ini kita ketahui sebagai hal negatif adalah osilasi sosial tidak sukarela. Selain itu, walaupun isolasi sosial sukarela memiliki dampak positif, bukan berarti hal tersebut bisa dibiarkan berlangsung lama. Pasalnya seperti yang sudah dijelaskan, kondisi tersebut bisa memicu isolasi sosial tidak sukarela yang bisa memberikan dampak negatif bagi kehidupan.

Jika kamu mengalami ciri-ciri isolasi sosial, atau gangguan dalam kemampuan sosial. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Mekanisme Koping Individu dalam Menghadapi Isolasi Sosial

 

Sumber:

Cacioppo, J. T., & Cacioppo, S. (2014). Social Relationships and Health: The Toxic Effects of Perceived Social Isolation. Social and Personality Psychology Compass, 8(2), 58-72. https://doi.org/10.1111/spc3.12087
Hawkley, L. C., & Cacioppo, J. T. (2010). Loneliness Matters: A Theoretical and Empirical Review of Consequences and Mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 40(2), 218-227.
Rokach, A. (2005). The causes of adult loneliness vary with age and gender. Social Behavior and Personality: an international journal, 33(6), 477-494.
Lay, J. C., et al. (2020). Loneliness and Social Isolation: A Modern Health Crisis. Prim Care Companion CNS Disord, 22(5). https://doi.org/10.4088/PCC.20com02845
Perlman, D., & Peplau, L. A. (1981). Toward a Social Psychology of Loneliness. In R. Gilmour & S. Duck (Eds.), Personal Relationships in Disorder (pp. 31–56). Academic Press.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Dari Pilihan hingga Keterpaksaan: Memahami Isolasi Sosial Sukarela dan Tidak Sukarela — DeepTalk