Deeptalk.co.id – Maladaptive daydreaming adalah kondisi psikologis yang cukup unik. Pasalnya, maladaptive daydreaming justru membuat imajinasi dan fantasi yang seharusnya menciptakan ide-ide dan inovasi yang brilian, justru imajinasi justru dijadikan pelarian yang bisa memperburuk kondisi mental seseorang.
Maladaptive daydreaming memang berhubungan erat dengan imajinasi dan segala kerja otak kita. Namun, secara tidak langsung maladaptive daydreaming juga bisa mempengaruhi kemampuan regulasi emosi, dan kondisi mental seseorang. Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang dampak maladaptive daydreaming terhadap regulasi emosi dan kesehatan mental.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental atau perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa yang tepat, dan penanganan yang sesuai.
Maladaptive Daydreaming dan Regulasi Emosi

Maladaptive daydreaming adalah kondisi psikologis dimana seseorang terlalu larut dalam imajinasi atau fantasi mereka, yang membuatnya terhambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Artinya, kondisi maladaptive daydreaming ini cukup mengganggu produktivitas, termasuk fungsi sosial penderitanya.
Regulasi emosi adalah proses dimana seseorang mengenali, memahami, mengolah, dan mengekspresikan emosinya agar sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Regulasi emosi tidak hanya tentang menahan emosi, melainkan lebih luas dari itu. Individu dengan kemampuan regulasi emosi yang baik tidak mengabaikan emosi mereka, namun tahu bagaimana cara bersikap dan berekspresi yang lebih bijak.
Kondisi maladaptive daydreaming memang memiliki kaitan dengan kemampuan regulasi emosi seseorang. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa penjelasan tentang hubungan maladaptive daydreaming dengan regulasi emosi:
Maladaptive daydreaming sebagai strategi penghindaran sementara
Saat berada dalam situasi tidak menyenangkan, tubuh secara otomatis ingin keluar dari situasi tersebut. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya dengan maladaptive daydreaming. Sayangnya, maladaptive daydreaming ini merupakan strategi penghindaran sementara. Artinya, seseorang bisa saja dengan cepat keluar dari situasi tidak menyenangkan itu, namun kehilangan waktu untuk memproses emosi secara adaptif sehingga masalah emosional tetap ada atau menumpuk. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa dalam situasi ini maladaptive daydreaming menghambat kemampuan regulasi emosi seseorang.
Kehilangan pengendalian akan fantasi
Salah satu hal yang membuat maladaptive daydreaming tidak bisa dibiarkan begitu saja adalah karena kondisi tersebut membuat seseorang kesulitan untuk kembali ke realitas dan termasuk kesulitan dalam mengendalikan fantasi atau imajinasi mereka. Dalam kondisi maladaptive daydreaming, seseorang akan berkali-kali ditarik kembali lagi ke dalam imajinasi dan fantasi mereka. Dengan demikian, maladaptive daydreaming secara tidak langsung menunjukkan masalah dalam kontrol atensi dan impulse regulation yang memperburuk kemampuan regulasi emosi.
Maladaptive daydreaming sebagai siklus memburuk kemampuan regulasi emosi
Fantasi atau imajinasi yang berlebihan ini bisa menciptakan siklus yang memperburuk kemampuan regulasi emosi seseorang. Dimana saat seseorang merasakan emosi negatif, mereka akan menjadikan maladaptive daydreaming sebagai pelarian. Maladaptive daydreaming dalam hal ini memberikan reward psikologis yang memperkuat pelariannya. Pada akhirnya terjadi penundaan pemrosesan emosi yang menghambat kemampuan regulasi emosi.
Baca juga: Maladaptive Daydreaming dan Hubungannya dengan Gangguan Kecemasan
Maladaptive Daydreaming dan Kesehatan Mental

Kesehatan mental merupakan kondisi yang harus dijaga, dan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Terganggunya kesehatan mental bisa menghambat produktivitas, kemampuan sosial, bahkan mengganggu kesehatan fisik seseorang. Kondisi seperti maladaptive daydreaming bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang, misalnya:
Komorbiditas tinggi
Banyak studi yang menunjukan kemunculan maladaptive daydreaming dengan berbagai gangguan mental lainnya, misalnya ADHD, gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan obsesif-kompulsif. Selain itu, maladaptive daydreaming juga meningkatkan resiko percobaan bunuh diri.
Penurunan fungsi sosial
Dari pengertian maladaptive daydreaming sendiri kita sudah bisa melihat bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi fungsi sosial dan produktivitas seseorang. Semakin seseorang larut dalam imajinasi dan fantasi mereka, maka akan semakin sulit untuk keluar, dan semakin banyak waktu yang terpakai. Dimana waktu tersebut seharusnya digunakan untuk melakukan aktivitas sosial yang bisa menunjang kesehatan mental.
Trauma
Bagi sebagian orang, maladaptive daydreaming memang menjadi pelarian dari trauma. Namun sayangnya maladaptive daydreaming bukan cara yang tepat untuk menghindari trauma. Nyatanya, maladaptive daydreaming justru bisa menghambat proses pemulihan trauma, karena maladaptive daydreaming hanya menjadi protektif awal untuk menghindari kenangan menyakitkan.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai maladaptive daydreaming dan hubungannya dengan kemampuan regulasi emosi serta kesehatan mental. Dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa maladaptive daydreaming bisa menghambat kemampuan regulasi emosi seseorang, dan memperburuk kondisi mental. Maka dari itu, jika kamu mengalami maladaptive daydreaming, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Keterkaitan Maladaptive Daydreaming dengan Trauma Masa Lalu
Sumber:
Somer, E., Lehrfeld, J., Jopp, D. S., & Bigelsen, J. (2016). Development and validation of the Maladaptive Daydreaming Scale (MDS). Consciousness and Cognition, 39, 77–91.
Somer, E. (2017). The Comorbidity of Daydreaming Disorder (Maladaptive Daydreaming).
Greene, T., West, M., & Somer, E. (2020). Maladaptive daydreaming and emotional regulation difficulties: A network analysis.
Soffer-Dudek, N., et al. (2022). Maladaptive Daydreaming: Epidemiological data on a novel syndrome. (Open access article).
Ross, C. A., et al. (2020). Maladaptive daydreaming, dissociation, and the dissociative disorders. Journal / PMC article
Schimmenti, A., & Somer, E. (2020). Psychometric properties of the Maladaptive Daydreaming Scale (adaptations & validations).
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



