Deeptalk.co.id – Gen z merupakan generasi yang sangat kreatif. Mereka memiliki pola pikir yang cukup unik, dan terkadang tidak terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Kemudahan mereka dalam mengakses informasi tentu mempengaruhi hal tersebut. Lantas, apakah itu juga yang membuat banyak gen z mengalami overthinking?
Overthinking adalah kondisi dimana seseorang memikirkan hal-hal secara berlebihan, dan cenderung tidak perlu untuk dipikirkan. Kondisi semacam ini mampu membuat seseorang mengalami kelelahan otak, dan membuang banyak waktu. Pada umumnya, hal tersebut juga akan mengganggu produktivitas seseorang.
Salah satu jenis overthinking adalah rumination. Rumination sendiri merupakan kondisi dimana seseorang terlalu berlebihan dalam memikirkan kesalahan, kegagalan, masalah, atau hal-hal negatif lainnya. Untuk mengenal lebih jauh mengenai kondisi rumination, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai dampak dan cara mengatasi rumination. Khususnya kondisi rumination yang dialami oleh gen z.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa masalah kesehatan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dampak Rumination Pada Gen Z

Sebenarnya rumination bisa dialami oleh siapa saja. Hanya saja, tidak bisa dipungkiri bahwa gen z memang sudah mulai mendominasi populasi manusia. Selain itu, generasi sebelumnya juga menganggap gen z tidak memiliki mental yang kuat. Maka dari itu, gen z cukup sering menjadi pembahasan dibalik setiap manfaat yang mereka dapatkan.
Rumination dalam fase yang ringan tentu tidak begitu mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, tentu kita tidak menunggu kondisi tersebut menjadi semakin parah untuk ditangani. Pasalnya, rumination yang berlarut-larut tentu akan memberikan dampak nyata. Berikut beberapa dampak rumination yang bisa dialami oleh gen z:
Beresiko mengalami gangguan mental
Dampak pertama gen z dengan kebiasaan rumination adalah beresiko lebih besar mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang dimaksud bisa berupa stress berlebih, depresi, gangguan kecemasan, gangguan tidur, dan masih banyak lagi.
Penurunan produktivitas
Dampak kedua gen z dengan kebiasaan rumination adalah mengalami penurunan produktivitas. Seperti yang sudah dipaparkan di awal. Seseorang yang terlalu larut dengan pikirannya, terutama untuk hal-hal yang tidak penting. Akan kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas bermanfaat lainnya. Pasalnya, banyak waktu mereka yang habis digunakan untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Terganggunya hubungan sosial
Dampak ketiga gen z dengan kebiasaan rumination adalah mengalami gangguan dalam hubungan sosial. Kondisi rumination membuat seseorang berlebihan memikirkan hal-hal negatif. Hal semacam itu cenderung membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Penurunan rasa percaya diri
Dampak keempat gen z dengan kebiasaan rumination adalah mengalami penurunan rasa percaya diri. Pasalnya, mereka terlalu larut dalam kegagalan, kesalahan, dan kondisi-kondisi negatif yang ada dalam dirinya. Hal ini membuat mereka tidak bisa melihat kemampuan dan kelebihannya.
Penurunan kesehatan fisik
Dampak kelima gen z dengan kebiasaan rumination adalah mengalami penurunan kesehatan fisik. Bukan rahasia lagi bagaimana pikiran dan mental mempengaruhi kondisi fisik seseorang. Ditambah lagi banyaknya pikiran membuat orang mengalami gangguan tidur, dan gangguan makan yang menimbulkan penurunan daya tahan tubuh.
Baca juga: Apa Itu Rumination?
Cara Mengatasi Rumination Pada Gen Z

Kondisi rumination ini pada dasarnya menyerang pikiran seseorang. Artinya, untuk mengatasi rumination kita harus mengatur pikiran agar jauh lebih tenang. Sayangnya, gen z hidup di era yang sangat sibuk. Banyak hal yang membuat mereka harus terus berpikir. Maka dari itu, berikut beberapa cara yang bisa gen z lakukan untuk mengatasi rumination:
Meditasi atau mindfulness
Cara pertama ini memang sedikit klasik. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa meditasi dan mindfulness memang sangat membantu untuk menenangkan pikiran. Banyak sekali teknik meditasi dan mindfulness yang bisa kamu praktekkan. Tinggal pilih sesuai dengan apa yang membuatmu lebih nyaman.
Olahraga teratur
Cara kedua bisa dengan membiasakan diri untuk olahraga secara teratur. Aktivitas fisik yang satu ini terbukti mampu meningkatkan mood seseorang. Pasalnya, olahraga memang mengaktifkan hormon-hormon tertentu yang bisa meningkatkan suasana hati. Dengan suasana hati yang baik, seseorang tentu tidak terjebak dalam pikiran-pikiran negatif.
Dukungan sosial
Sebagai makhluk sosial, kita memang sangat membutuhkan kontribusi orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Sesuka apapun seseorang akan kesendirian, mereka tetap butuh support dari orang lain. Maka dari itu, temukan orang yang bisa mendukung mu. Bisa itu teman, orang tua, saudara, atau orang-orang yang kamu percaya.
Batasi penggunaan sosial media
Menyaksikan apa yang ada di sosial media memang cukup menghibur. Namun untuk beberapa orang itu bisa menjadi bahan overthinking. Maka dari itu, cobalah untuk membatasi penggunaan sosial media. Lakukan aktivitas lain di dunia nyata untuk mengalihkan keinginan bereksplorasi di sosial media.
Dapatkan bantuan profesional
Memang benar bahwa rumination tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Namun, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Terutama jika pikiranmu sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika bingung kemana kamu bisa menemukan jasa profesional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk bertemu dengan orang-orang profesional di bidang kesehatan mental.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai rumination pada gen z. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenal Karakter dan Jenis-Jenis Overthinking
Sumber:
Nolen-Hoeksema, S. (2000). Women who think too much. Journal of Personality and Social Psychology, 79(4), 696-707.
Beck, A. T., Rush, J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1977). Cognitive Therapy of Depression. Guilford Press.
Brewin, C. R., Dalgleish, T., & Joseph, S. (1996). A dual representation theory of post-traumatic stress disorder. Psychological Review, 103(4), 670-686.
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Generation Z is Growing Up More Slowly Than Any Generation Before. Atria Books.
American Psychological Association. (2020). Rumination.
World Health Organization. (2019). Mental Health.
National Institute of Mental Health. (2020). Depression.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



