Deeptalk.co.id – Setiap anak tentu memiliki karakternya masing-masing. Namun beberapa anak mungkin akan tampak sangat nakal, suka menantang, terlalu agresif, atau sering mengganggu orang lain. Jika kondisi tersebut sudah terlalu berlebihan dan kelewat batas, orang tua perlu waspada. Bisa jadi kenakalan yang kita anggap biasa saja, menjadi gejala salah satu gangguan perilaku yang umum dialami anak dan remaja. Gangguan tersebut dikenal dengan istilah conduct disorder.
Lalu bagaimana orang tua dapat membedakan antara kenakalan yang normal dengan gejala conduct disorder? Untuk itu, setiap orang tua perlu membekali diri mengenai kondisi conduct disorder ini. Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai conduct disorder.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu memiliki anak dengan beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka jangan ragu membawa anak untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu anak akan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai conduct disorder.
Pengertian Conduct Disorder

Baik psikolog maupun psikiater menggunakan buku panduan sebagai patokan dalam penentuan diagnosa gangguan mental. Buku tersebut berjudul diagnostic and statistical manual of mental disorders, 5th edition (DSM-5). Dengan demikian, jenis-jenis gangguan mental yang tercantum dalam DSM-5 merupakan gangguan yang sudah disepakati bersama.
Dalam DSM-5 sendiri, conduct disorder termasuk di dalamnya. Dengan demikian, conduct disorder merupakan salah satu gangguan mental yang penting untuk mendapatkan penanganan. Conduct disorder sendiri merupakan bagian dari gangguan emosi yang menimbulkan pola perilaku menyimpang.
Conduct disorder bisa dialami sebelum anak berusia 10 tahun. Namun kondisi ini lebih sering dideteksi pada usia 10-19 tahun. Selain itu, conduct disorder juga lebih sering dijumpai pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.
Seorang anak bisa dikategorikan dalam kondisi conduct disorder jika gejala dialami selama lebih dari 6 bulan. Kondisi conduct disorder pada anak juga menimbulkan berbagai masalah, mulai dari masalah di sekolah, keluarga, atau lingkungan sosial lainnya.
Conduct disorder seringkali disalah artikan sebagai oppositional defiant disorder. Keduanya memang sama-sama gangguan perilaku yang umum dijumpai pada anak dan remaja. Meski demikian, conduct disorder merupakan kondisi yang lebih serius dibandingkan dengan oppositional defiant disorder. Selain itu, conduct disorder melibatkan perilaku agresi, kekerasan, pelanggaran aturan, hingga pencurian. Sedangkan oppositional defiant disorder lebih melibatkan perilaku menentang figur otoritas, seperti orang tua, guru, atau aparat penegak hukum.
Maka dari itu, diagnosa oppositional defiant disorder maupun conduct disorder hanya bisa diberikan setelah terduga penderita melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan diagnosa dan penanganan bagi penderita.
Baca juga: Penanganan dan Cara Menghadapi Anak Pengidap Oppositional Defiant Disorder
Penyebab Conduct Disorder

Sama halnya dengan kebanyakan gangguan mental pada umumnya, hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari kondisi conduct disorder. Meski demikian, para ahli sependapat bahwa conduct disorder bisa dipicu oleh beberapa faktor, yaitu:
Faktor genetik
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor genetik memang cukup berkontribusi dalam pembentukan karakteristik, dan kondisi mental seseorang. Hal yang sama berlaku untuk kondisi conduct disorder. Dimana, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi conduct disorder, maka akan beresiko mengalami kondisi serupa. Walaupun memang hal tersebut tidak bisa menjamin sepenuhnya.
Faktor biologis
Dalam beberapa kasus, kondisi conduct disorder sering kali dikaitkan dengan masalah pada otak. Dimana terdapat bagian otak yang berfungsi untuk mengatur perilaku, kontrol impuls, dan emosi. Seseorang yang mengalami trauma atau cedera otak, gangguan saraf, serta riwayat kejang, dapat menimbulkan gangguan pada bagian otak tersebut. Kondisi semacam itulah yang pada akhirnya memicu conduct disorder.
Faktor lingkungan
Faktor berikutnya yang bisa memicu kondisi conduct disorder pada anak adalah faktor lingkungan. Dalam hal ini, seseorang yang pernah mengalami kekerasan, tinggal di daerah konflik atau tingkat kriminalitas yang tinggi, dan pernah mengalami kejadian traumatis, bisa memicu kondisi conduct disorder.
Faktor psikologis
Kondisi conduct disorder juga dipercaya bisa dipicu oleh beberapa masalah kesehatan mental. Misalnya pada penderita depresi, skizofrenia, gangguan kepribadian, gangguan bipolar, dan beberapa gangguan mental lainnya.
Faktor sosial
Faktor lain yang bisa memicu kondisi conduct disorder pada anak adalah faktor sosial. Dalam hal ini, faktor sosial yang dimaksud bisa berupa anak yang dikucilkan oleh teman sebayanya, atau menjadi korban perundungan.
Itu dia penjelasan singkat mengenai kondisi conduct disorder dan faktor resiko yang bisa memicu kondisi conduct disorder. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater jika anak menunjukkan beberapa gejala conduct disorder. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Kenali Penyebab Oppositional Defiant Disorder Pada Anak
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



