Deeptalk.co.id – Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya, self diagnosis mendatangkan berbagai kondisi negatif terhadap kehidupan seseorang. Self diagnosis dapat mengakibatkan under diagnosis, over diagnosis, misdiagnosis, kesalahan penanganan, dan stigma negatif.
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh tindakan self diagnosis tentu akan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Tidak hanya memperburuk kondisi mental, namun juga dapat mengakibatkan komplikasi terhadap banyaknya gangguan kesehatan mental lainnya.
Seorang psikolog dan psikiater yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun perlu melakukan banyak proses untuk memastikan kondisi kesehatan mental kliennya. Bagaimana bisa orang awam melakukan diagnosis dengan tepat bermodalkan informasi yang didapatkan di internet?
Pengertian Self Diagnosis

Perkembangan teknologi memudahkan kita untuk mencari tahu informasi apapun. Sayangnya, hal ini tidak selalu berdampak baik. Beberapa orang mencari tahu kondisi kesehatan mental dan fisiknya melalui internet. Hal inilah yang sering kali membuat seseorang melakukan self diagnosis.
Self diagnosis sendiri merupakan upaya untuk mendeskripsikan kondisi yang sedang dialami secara pribadi dengan berlandaskan informasi-informasi yang didapatkan tanpa melalui campur tangan para ahli. Informasi yang didapatkan sering diterima begitu saja, tanpa melakukan pertimbangan lebih lanjut.
Selain mendapatkan informasi dari internet, self diagnosis sering juga terjadi akibat sharing mengenai kondisi kesehatan dengan orang-orang terdekat. Pada dasarnya satu kondisi kesehatan yang sama bisa jadi memunculkan gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Hal inilah yang sering kali tidak menjadi pertimbangan pelaku self diagnosis.
Ciri-Ciri Self Diagnosis

Pelaku self diagnosis sering kali tidak menyadari bahwa yang dilakukan merupakan bagian dari self diagnosis. Hal ini umumnya dikarenakan kebiasaan untuk mencari segala informasi yang ada di internet. Sebenarnya tidak ada salahnya untuk mencari tahu kondisi kesehatan mental di internet, namun jangan sampai informasi yang ditemukan menjadikan diri mu melakukan self diagnosis.
Berikut beberapa ciri-ciri jika kamu sudah mulai melakukan self diagnosis:
Panik
Self diagnosis cenderung menimbulkan kepanikan. Tidak ada yang bisa menenangkan mu saat berhadapan dengan berbagai macam gangguan mental yang sedang kamu prediksi. Berbeda dengan diagnosis yang dilakukan oleh para ahli. Mereka akan menyesuaikan kondisi mu untuk bisa menyampaikan hasil dari diagnosis yang ada.
Menyangkal kebenaran
Terlalu sering melakukan self diagnosis akan membuat pelaku menyangkal kebenaran yang ada. Misalnya, pelaku sebenarnya hanya mengalami mood swing. Namun karena gejala yang ditunjukkan serupa dengan bipolar, mereka akan menganggap dirinya merupakan menderita bipolar dan tidak percaya jika diberitahu bahwa itu hanyalah mood swing yang normal. Hal ini membuat pelaku self diagnosis tidak dapat memahami kebenaran yang ada.
Tidak mau berkonsultasi dengan para ahli
Ciri yang satu ini hanya akan memperparah kondisi pelaku. Karena menganggap telah mengetahui segala hal melalui internet atau ilmu-ilmu yang didapatkan secara pribadi, konsultasi dengan para ahli dianggap hanya membuang-buang waktu dan materi saja. Beberapa dari mereka justru mengalami trust issue pada para Psikolog sebab mereka cenderung lebih mempercayai internet ketimbang diagnosis para ahli.
Baca juga: Astrafobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Guntur dan Kilat
Tips Mengatasi Kebiasaan Self Diagnosis

Self diagnosis merupakan perilaku yang perlu untuk dihindari. Sayangnya, beberapa orang tidak dapat terlepas dari perilaku tersebut. Untuk itu, kamu bisa mencoba beberapa tips berikut agar terhindar dari perilaku self diagnosis.
Berhenti mencari tahu kondisi kesehatan di internet
Perkembangan teknologi memang memudahkan kita untuk mendapatkan informasi mengenai masalah kesehatan di internet, namun ini bukan langkah yang baik. Terlepas itu mengenai kondisi kesehatan mental maupun kesehatan fisik, mencari tahu di internet cenderung membuat seseorang melakukan self diagnosis. Banyak kondisi kesehatan mental yang serupa namun tak sama. Hal inilah yang membuat self diagnosis menjadi seringkali melenceng dari kondisi sebenarnya.
Hindari tes online
Kamu tentu pernah menjumpai beberapa tes psikolog yang dapat dilakukan dengan bebas di internet. Sayangnya, beberapa tes tersebut justru dibuat tanpa landasan ilmu psikologi yang tepat. Tidak ada salahnya melakukan tes online jika hanya sekedar senang-senang, namun jika kamu terpengaruh akan hasilnya akan membawa dampak negatif.
Selain itu, kamu juga bisa melakukan tes online yang memang sudah disediakan oleh penyedia jasa terpercaya. Tentunya tes dan hasilnya harus berdasarkan landasan ilmu psikologi dan dijalankan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya.
Gangguan mental yang dialami orang lain tidak bisa dijadikan patokan
Tidak hanya kondisi gangguan mental, hal ini juga berlaku untuk kondisi gangguan fisik. Bukan berarti karena anak tetangga yang hiperaktif didiagnosis ADHD, maka anak lain yang juga hiperaktif merupakan pengidap ADHD juga. Banyak langkah yang perlu diambil untuk bisa melakukan diagnosis. Tidak serta merta menyamakan gejala atau kondisi yang ada.
Jangan ragu untuk ke Psikolog atau Psikiater
Berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Lagi pula, kamu tidak akan langsung di cap “gila” jika mengunjungi mereka. Sekedar curhat mengenai kondisi kesehatan mental juga bisa dilakukan dengan mengunjungi psikolog atau psikiater, tidak harus menunggu kondisi mental mu benar-benar terganggu.
Itu dia cara yang bisa kamu coba. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Bahaya Self-Diagnosis Terhadap Gangguan Kesehatan Mental



