Semua artikel
Gangguan Suasana Hati

Bukan Lebay! Ini Dia Penjelasan Mengenai Premenstrual Dysphoric Disorder

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Istilah PMS atau premenstrual syndrome tentu sudah menjadi cukup familiar di kalangan masyarakat. Istilah tersebut memang sering kali digunakan untuk menggambarkan rasa sakit atau suasana hati yang berantakan menjelang masa menstruasi. Namun, apakah bagaimana dengan premenstrual dysphoric disorder? Apakah kedua kondisi tersebut adalah dua hal yang sama?

Pada dasarnya, premenstrual dysphoric disorder merupakan tahapan yang lebih parah dibandingkan dengan premenstrual syndrome. Namun untuk penjelasan detailnya, artikel ini akan secara khusus membahas mengenai premenstrual dysphoric disorder. Tentunya dalam kacamata psikologis.

Namun sebelum kita masuk ke dalam pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tindak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu menemukan kondisi yang sama dengan apa yang dijelaskan dalam artikel ini, silahkan berkonsultasi dengan Dokter, Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Pengertian Premenstrual Dysphoric Disorder

Saat menjelang masa menstruasi, wanita memang cenderung mengalami suasana hati yang lebih sensitif. Mereka akan mudah marah, mudah tersinggung, dan lain sebagainya. Selain itu, beberapa wanita mengalami rasa sakit di bagian perut hingga pinggang. Kondisi ini juga bisa saja tidak dirasakan oleh wanita yang menjelang masa menstruasi, atau justru merasakan dengan intensitas yang cukup parah. Saat kondisi sudah menjadi sangat parah, bisa jadi wanita sedang mengalami premenstrual dysphoric disorder.

Premenstrual dysphoric disorder atau yang juga disingkat dengan PMDD, merupakan kondisi dimana seseorang mengalami gangguan baik secara fisik maupun mental yang dialami oleh wanita sebelum masa menstruasi. Gejala yang timbul akibat premenstrual dysphoric disorder ini umumnya akan dirasakan 1-2 minggu sebelum masa menstruasi dan akan menghilang pada 2-3 hari saat menstruasi dimulai.

Banyak orang yang meremehkan kondisi ini, terutama mereka yang belum pernah mengalami hal tersebut. Hal ini dikarenakan setiap wanita memang memiliki pembawaan yang berbeda-beda saat memasuki waktu menstruasi mereka. Selain itu, pria juga tidak mengalami dan tidak tahu sama sekali apa yang dirasakan wanita saat mengalami menstruasi.

Penderita premenstrual dysphoric disorder memang menunjukkan gejala yang kurang lebih sama dengan premenstrual syndrome. Bedanya pada kasus premenstrual dysphoric disorder, gejala yang dialami akan lebih parah. Selain itu, penderita premenstrual syndrome umumnya masih bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Sedangkan penderita premenstrual dysphoric disorder mengalami kesulitan untuk beraktivitas, bahkan mengganggu hubungan dengan orang-orang terdekat mereka.

Penderita premenstrual syndrome umumnya tidak membutuhkan pertolongan medis, sedangkan penderita premenstrual dysphoric disorder sangat memerlukan pertolongan medis. Bahkan dalam kondisi premenstrual dysphoric disorder yang lebih parah, penderita bahkan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Baca juga : Orang Tua Wajib Tahu Dampak Dari Depresi Postpartum

Penyebab Premenstrual Dysphoric Disorder

Walaupun penyebab pasti dari premenstrual dysphoric disorder ini belum diketahui hingga saat ini, beberapa akhir percaya bahwa penurunan hormon estrogen dan hormon progesteron pada wanita menjelang masa menstruasi berperan penting dalam kasus premenstrual dysphoric disorder. Zat yang mengatur suasana hati atau yang dikenal dengan serotonin juga mengalami perubahan kadar sebelum masa menstruasi berlangsung. Dengan demikian kondisi ini dapat memungkinan seseorang mengalami suasana hati yang tidak stabil menjelang masa menstruasi.

Selain beberapa kondisi di atas, terdapat beberapa faktor lain yang dianggap dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami premenstrual dysphoric disorder, yaitu:

Genetik

Wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan premenstrual dysphoric disorder akan beresiko mengalami gangguan yang sama.

Riwayat gangguan mental lainnya

Seseorang yang memiliki riwayat gangguan mental seperti depresi, depresi postpartum (pasca melahirkan), dan gangguan mood lain, baik yang dialami sendiri atau riwayat keluarga, akan beresiko mengalami premenstrual dysphoric disorder.

Kebiasaan hidup tidak sehat

Seseorang yang memiliki kebiasaan merokok, atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol secara berlebihan, akan beresiko lebih besar mengalami premenstrual dysphoric disorder.

Obesitas

Selain beberapa faktor di atas, obesitas atau kelebihan berat badan juga bisa membuat wanita beresiko lebih besar mengalami premenstrual dysphoric disorder.

Gejala Premenstrual Dysphoric Disorder

Penderita premenstrual dysphoric disorder bisa saja menunjukkan gejala yang berbeda-beda, dengan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda pula. Berikut beberapa gejala yang umum dialami oleh penderita premenstrual dysphoric disorder:

Gejala psikologis

Penderita premenstrual dysphoric disorder umumnya akan mengalami gejala psikologis, seperti suasana hati tidak stabil dan sulit untuk dikendalikan, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, kesulitan untuk berkonsentrasi, peningkatan nafsu makan, kecemasan berlebih dan mudah tersinggung, kesulitan untuk tidur, atau insomnia, dan kehilangan minat terhadap aktivitas seksual

Gejala fisik

Selain gejala psikologis, penderita premenstrual dysphoric disorder juga mengalami gejala fisik berupa sakit kepala, kram perut, nyeri dan bengkak pada payudara, nyeri sendi dan otot, kembung, bahkan pingsan atau kehilangan kesadaran. Dalam beberapa kasus, penderita juga mengalami gejala terkait retensi cairan, seperti pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, dan tangan, atau buang air kecil berkurang.

Seperti itulah penjelasan mengenai premenstrual dysphoric disorder. Setelah mendapat bayangan mengenai kondisi ini harapannya kedepan tidak ada lagi yang serta merta memandang “lebay” orang-orang yang mengalami premenstrual dysphoric disorder. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Kenali Gejala dan Penanganan Depresi Postpartum

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Bukan Lebay! Ini Dia Penjelasan Mengenai Premenstrual Dysphoric Disorder — DeepTalk