Deeptalk.co.id – Perkembangan teknologi membuat kita dengan mudah mengakses segala informasi. Rasanya, apapun yang ingin kita ketahui dapat dengan mudah dicari menggunakan telepon genggam. Internet seperti menyediakan segala hal yang kita butuhkan.
Perkembangan teknologi ini akan membawa dampak positif jika digunakan dengan positif. Meski demikian, perkembangan teknologi bukan berarti tidak mendatangkan dampak negatif. Kemudahan untuk mengakses informasi akan membuat orang mencari cara instan. Hal tersebut membuat orang melupakan pentingnya proses.
Sebagai contoh, seseorang yang merasakan kesedihan yang mendalam akan mencari tahu kondisi kesehatan mentalnya melalui google dan akhirnya menemukan dirinya dalam kondisi depresi. Alih-alih terlepas dari rasa sedih, orang tersebut justru terpuruk akan hasil yang didapatkan. Padahal, hasil tersebut belum tentu tepat dengan kondisi kesehatan mentalnya.
Seorang psikolog atau psikiater yang sudah memiliki segudang pengalaman saja masih perlu melakukan konsultasi, observasi, dan serangkaian proses untuk akhirnya dapat memastikan diagnosis yang akan diberikan kepada klien. Bagaimana bisa seorang klien melakukan diagnosis dari hanya membaca satu atau dua artikel saja?
Diagnosis yang tepat juga dibutuhkan untuk menentukan penanganan yang tepat bagi klien. Pasalnya walaupun diagnosis antara klien A dan klien B sama, keduanya belum tentu mendapatkan penanganan yang sama pula. Bisa jadi antara klien A dan klien B menunjukkan gejala dan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda.
Untuk itu, self diagnosis bukanlah langkah yang tepat untuk memutuskan kondisi kesehatan mental yang sedang kamu hadapi. Berikut beberapa bahaya yang dapat dialami jika melakukan self diagnosis, khususnya pada gangguan kesehatan mental:
Over Diagnosis

Kamu mungkin pernah mencari tahu penyebab dari sakit kepala yang kamu alami di internet. Hasilnya malah menunjukkan gejala kanker otak. Padahal, kamu hanya merasa sakit kepala ringan akibat kebanyakan pikiran.
Hal serupa juga bisa terjadi pada gangguan kesehatan mental. Saat kamu merasakan perubahan suasana hati, bisa saja kesimpulan yang akan diambil adalah adanya gangguan bipolar. Padahal, kamu hanya sedang mengalami mood swing, dan itu adalah hal yang normal.
Over diagnosis akan sangat mungkin terjadi jika kamu melakukan self diagnosis. Pasalnya, cukup mustahil mengetahui gangguan mental dengan bermodalkan satu atau dua artikel di internet. Over diagnosis tidak hanya berhenti di situ saja. Kamu juga akan mulai mencoba beberapa terapi yang bahkan bisa jadi kamu tidak butuhkan. Dalam kasus yang cukup parah. Kamu justru mengkonsumsi obat-obatan yang akhirnya membuat kamu mengalami berbagai komplikasi.
Selain mendapatkan penanganan yang tidak tepat, kamu juga bisa merasa rendah diri. Ketakutan mendapatkan penilaian negatif dari masyarakat akan membuat kamu membatasi diri dari lingkungan disekitar mu. Hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas dan interaksi sosial.
Baca juga: Mood Disorder: Mengenal Gangguan Distimia (Depresi Persisten)
Kesalahan Diagnosis

Selain bisa mengakibatkan over diagnosis, self diagnosis juga bisa membuat seseorang mengalami kesalahan diagnosis. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa psikolog dan psikiater perlu melalui proses yang panjang untuk melakukan diagnosis. Untuk itu, diagnosis khususnya untuk masalah gangguan kesehatan mental bukanlah hal sederhana yang bisa ditetapkan begitu saja.
Bayangkan saja, jika seorang anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi dan adanya gangguan bersosialisasi, didiagnosis ADHD oleh orang tuanya tanpa melalui konsultasi psikolog atau psikiater. Akhirnya anak tersebut akan menjalani pengobatan untuk gangguan ADHD. Padahal, anak itu memiliki gangguan autisme yang memiliki ciri serupa dengan ADHD. Penanganan yang didapatkan belum tentu akan membawa dampak bagi anak.
Memicu Komplikasi atau Kemunculan Gangguan yang Lebih Parah

Saat kamu melakukan self diagnosis, kamu akan mencari tahu segala hal tentang diagnosis yang telah kamu berikan ke diri mu. Bisa jadi itu bukan diagnosis yang benar, namun kamu sudah mempercayai dan meyakini adanya gangguan tersebut dalam diri mu. Alhasil, kamu memiliki komplikasi gangguan yang bisa jadi lebih parah dari gangguan yang sedang kamu alami.
Tidak hanya itu, kamu juga bisa jadi mulai untuk mengkonsumsi obat-obatan yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Obat-obatan yang dikonsumsi jangka panjang tanpa peresepan oleh psikiater (khususnya obat-obatan untuk penanganan gangguan mental), bisa jadi akan mengakibatkan berbagai komplikasi gangguan kesehatan fisik.
Itu dia bahaya dari melakukan self diagnosis. Self diagnosis tidak membantu kamu untuk menjadi lebih baik. Informasi-informasi yang ada di internet seharusnya digunakan sebagai langkah awal untuk menentukan apakah kamu butuh bantuan para ahli atau tidak. Jika kata internet kamu mengalami salah satu gangguan mental, bukan berarti kamu akan menelan mentah-mentah informasi tersebut.
Jika kamu merasa mengalami gejala gangguan mental yang disebutkan di internet, kamu bisa segera mendatangi psikolog atau psikiater terdekat untuk segera melakukan konsultasi. Dari situlah baru akan dianalisis dan diberikan diagnosis yang tepat. Setelah itu, psikolog atau psikiater akan memberikan penanganan sesuai dengan hasil diagnosis yang ada. Dengan demikian, penanganan yang didapatkan akan lebih tepat sasaran.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Antrofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Bunga



