Deeptalk.co.id – Amnesia disosiatif adalah kondisi yang terjadi ketika pikiran Anda menghalangi informasi penting mengenai diri Anda, sehingga menyebabkan adanya “celah” dalam ingatan. Secara umum hal ini bisa terjadi karena pikiran menghalangi untuk melindungi diri Anda dari pengalaman yang tidak menyenangkan, menyusahkan atau traumatis. Ada beragam faktor alasan yang menjadi penyebab seseorang bisa mengalami amnesia disosiatif, seperti pengalaman traumatis akibat pelecehan, perang, atau bencana alam.
Kondisi amnesia disosiatif ini bukan sekedar melupakan sesuatu. Dalam kebanyakan kasus, Anda masih memiliki kenangan tetapi tidak dapat mengaksesnya. Hal yang membahayakan ialah orang dengan amnesia disosiatif memiliki peningkatan risiko perilaku menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Semua pengalaman Anda bergantung pada beberapa proses dan kemampuan otak yang bekerja sama. Ini termasuk pada penyimpanan, kesadaran, identitas, emosi, persepsi, kemampuan motorik, dan perilaku. Disebut sebagai gangguan disosiasi karena amnesia yang terjadi merupakan mekanisme pertahanan yang dapat digunakan pikiran untuk mencegah satu atau lebih proses atau kemampuan otak bekerja sama dengan hal lain.
Hal itu bisa memengaruhi cara Anda mengalami dan memahami hal-hal yang terjadi dan apa yang Anda ingat. Dengan kata lain, amnesia disosiasi adalah ketika disosiasi menyebabkan hilangnya ingatan (amnesia).
Gejala utama amnesia disosiatif adalah kehilangan ingatan. Hilangnya ingatan itu bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa orang hanya mengalami satu bentuk, sementara yang lain mengalami berbagai bentuk. Orang dengan amnesia disosiatif mungkin juga memiliki perilaku atau sifat tertentu yang berhubungan dengan kehilangan ingatan. Itu bisa termasuk kurangnya kesadaran, kilas balik, kebingungan atau disorientasi, masalah hubungan dan kepercayaan, hingga fugue disosiatif.
Mekanisme Terjadinya Amnesia Disosiatif

Untuk memahami amnesia disosiatif, ada baiknya mengetahui sedikit tentang cara kerja memori. Saat Anda memikirkan kembali peristiwa-peristiwa dalam hidup Anda, Anda menggunakan apa yang disebut memori otobiografi. Ini seperti perpustakaan di dalam pikiran Anda di mana setiap buku adalah kenangan akan suatu peristiwa dalam hidup Anda.
Untuk menciptakan kenangan yang memenuhi perpustakaan itu, otak Anda menjalani proses langkah demi langkah:
1) Pengkodean: Ini adalah saat otak Anda membentuk memori. Ini seperti otak Anda menulis dan menerbitkan buku untuk perpustakaan Anda.
2) Penyimpanan: Beginilah cara otak Anda menyimpan memori. Otak Anda menyimpan buku itu di perpustakaan Anda. Otak Anda juga menandai memori tersebut sehingga Anda dapat kembali dan menemukannya, jika diperlukan.
3) Pengambilan: Ini adalah saat Anda kembali ke perpustakaan Anda, membuka buku dan mengakses detail memori untuk mengingat apa yang terjadi.
Terdapat dua cara utama ketika amnesia disosiatif bekerja, yakni disebut dengan retrograde dan anterograde. Retrograde adalah saat amnesia disosiatif memengaruhi penemuan kenangan lama. Ini seperti kesalahan atau kesalahan yang menghalangi Anda mengakses atau memeriksa memori tertentu.
Sedangkan anterograde adalah saat amnesia disosiatif menghalangi pembentukan atau penyimpanan ingatan baru. Ini seperti ada celah dalam rekaman atau otak Anda salah meletakkan buku setelah membuatnya. Bentuk ini lebih jarang terjadi dibandingkan amnesia disosiatif retrograde.
Baca juga: Strategi Menjaga Keseimbangan Waktu Layar Pada Anak-Anak
Penyebab dan Faktor Risiko Amnesia Disosiatif

Amnesia disosiatif dapat terjadi sehubungan dengan peristiwa yang terjadi satu kali saja, atau karena stres atau trauma jangka panjang. Hal-hal yang dapat menimbulkan trauma semacam ini antara lain seperti pengabaian atau pelecehan, kekerasan seksual, perang, atau menyaksikan cedera serius atau kematian orang lain.
Selain itu, amnesia secara umum berhubungan dengan stres yang berlebihan, namun kombinasi berbagai faktor juga dapat berperan dalam perkembangan masalah ini. beberapa faktor penyebab amnesia disosiatif di antaranya ialah:
1) Trauma
Mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis apa pun dapat menyebabkan amnesia disosiatif karena seseorang menghalangi ingatan tertentu. Akibatnya, mereka tidak dapat mengingat beberapa informasi pribadi yang penting. Dengan kata lain, mengalami guncangan emosional yang parah dapat menimbulkan kesenjangan memori yang serius.
Menghalangi peristiwa-peristiwa tertentu dalam pikiran seseorang merupakan salah satu mekanisme coping atau upaya otak untuk melindungi dirinya sendiri, yaitu terjadi karena ketidakmampuan memproses trauma dengan cara yang lebih sehat. Hilangnya ingatan akibat trauma biasanya terjadi secara tiba-tiba.
Amnesia disosiatif akibat trauma tidak sama dengan amnesia akibat kerusakan otak atau penyakit otak. Pada pasien dengan amnesia yang disebabkan secara medis, pemulihan ingatan yang hilang jarang terjadi atau membutuhkan waktu yang lama. Kebanyakan pasien dengan gangguan disosiatif amnesia mengalami kehilangan ingatan jangka pendek.
2) Genetika
Bukti menunjukkan bahwa genetika mungkin berperan dalam perkembangan gangguan disosiatif. Misalnya, ulasan dari Dialogues in Clinical Neuroscience melaporkan bahwa disosiasi terkait dengan interaksi pengalaman traumatis dengan polimorfisme spesifik pada gen yang terkait dengan sistem dopaminergik, serotonergik, dan lainnya. Diperlukan lebih banyak penelitian mengenai hal ini, namun bukti terkini menunjukkan beberapa orang mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk mengembangkan gangguan disosiatif, termasuk amnesia disosiatif.
3) Perubahan dan kelainan otak
Pengalaman traumatis dapat mengganggu kemampuan otak untuk mengambil informasi pribadi terkait peristiwa tersebut, yang selanjutnya berkontribusi pada perkembangan amnesia disosiatif. Sebuah studi dari Psychiatry Research menemukan bahwa pasien dengan amnesia disosiatif mengalami beberapa perubahan fungsi otak.
Misalnya, para ilmuwan mengamati penurunan penggunaan glukosa secara signifikan di korteks prefrontal inferolateral kanan. Mereka menjelaskan bahwa hipometabolisme di bagian otak ini, yang berperan dalam pengambilan ingatan otobiografi dan pemrosesan referensi diri, dapat berkontribusi pada perkembangan amnesia disosiatif.
Para ahli berpendapat bahwa banyak faktor dapat meningkatkan risiko terkena amnesia disosiatif. Hal ini disebabkan karena risikonya bersifat kumulatif, artinya risiko meningkat ketika seseorang memiliki lebih banyak faktor risiko. Jika trauma berlangsung lebih lama, berulang, atau lebih parah, biasanya hal ini akan memperburuk kondisi.
Baca juga: Intrusive Thought Bisa Mengindikasikan Gangguan Kesehatan Mental, Apa Saja Cirinya?
Sumber:
https://diamondrehabthailand.com/what-is-dissociative-amnesia/
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9789-dissociative-amnesia
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



