Deeptalk.co.id – Gen z adalah generasi yang lahir di era perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Teknologi membantu penyebaran ilmu pengetahuan dengan sangat pesat. Maka tidak heran jika generasi sekarang memiliki pengetahuan yang sangat luas. Bahkan, mereka melahirkan istilah-istilah baru untuk menggambarkan situasi yang belum aja di zaman dulu. Salah satu istilah itu adalah FOMO.
FOMO adalah istilah yang sangat familiar bagi para gen z. FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out. Istilah yang satu ini memang menjadi sangat populer. Khususnya di era perkembangan teknologi yang sangat pesat ini.
Istilah FOMO tidak hanya digunakan di dunia profesional. Istilah tersebut justru lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, FOMO sangat mempengaruhi para gen z. Lantas, seperti apa FOMO itu? Dan bagaimana FOMO mempengaruhi para gen z? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian FOMO

Fomo (Fear of Missing Out) adalah istilah untuk menggambarkan rasa takut atau khawatir berlebihan saat seseorang melewatkan hal penting atau menyenangkan yang dialami oleh orang lain. Mudahnya, FOMO merupakan kondisi dimana seseorang takut ketinggalan trend.
FOMO cukup sering dialami oleh anak muda masa kini, yaitu mereka para gen z. Hal inilah yang membuat mereka berlomba-lomba untuk terus up date akan hal-hal yang sedang trend. Kita akan dengan mudah melihat perilaku-perilaku FOMO di media sosial. Pasalnya, disana banyak orang yang menunjukan dirinya sebagaimana apa yang ingin orang lain liat akan dirinya.
Baca juga: Jenis-Jenis Trauma yang Umum Dialami Gen Z
FOMO Mempengaruhi Gen Z

FOMO memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para gen z. Seakan-akan ketinggalan zaman merupakan aib tersendiri. Meski demikian, tentu saja hal semacam ini tidak dialami oleh semua gen z. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak diantara mereka yang mengalami FOMO. Berikut beberapa pengaruh FOMO terhadap gen z:
Ketergantungan pada sosial media
Saat ini sosial media menjadi tempat yang paling dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi. Terlepas itu mengenai informasi yang memang dibutuhkan, maupun informasi terkait hal-hal trending saat itu. Rasa takut akan ketinggalan update terbaru tentang apapun itu membuat para gen z tergantung dengan sosial media mereka.
Selain untuk mendapatkan informasi terbaru, sosial media juga menjadi wadah untuk para gen z menunjukan bahwa mereka sudah mengikuti trend terbaru. Sayangnya, hal ini justru bisa mendatangkan masalah baru lagi bagi gen z itu sendiri. Pasalnya, ketergantungan sosial media bisa menjadi sangat parah. Bahkan dalam banyak kondisi akan membutuhkan bantuan profesional untuk keluar dari rasa ketergantungan tersebut.
Perasaan tidak cukup
Selain membuat para gen z ketergantungan dengan sosial media, FOMO juga bisa membuat mereka memiliki perasaan tidak cukup. Terlepas dari seberapa banyak trend yang mereka ikuti, akan ada saja perasaan kurang. Pasalnya, mengikuti trend memang tidak perna ada habisnya. Selain itu, kondisi ini juga menimbulkan perasaan tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki, dan selalu ingin lebih.
Kesulitan dalam mengambil keputusan
FOMO juga membuat banyak gen z mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Hal ini dipicu oleh perasaan takut melewatkan hal yang lebih baik. Alhasil, mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk menunggu hal baik yang belum tentu ada.
Stress dan kecemasan
Terlalu FOMO juga bisa menimbulkan masalah mental lainnya. Misalnya memicu stress berlebih dan kecemasan. Hal ini tentunya dipicu oleh rasa takut ketinggalan akan trend-trend terbaru.
Apakah FOMO Termasuk Gangguan Mental?

Walaupun cukup mempengaruhi kehidupan sehari-hari, nyatanya FOMO tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Meski demikian, bukan berarti FOMO bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, walaupun tidak masuk dalam kategori gangguan mental. FOMO dianggap sebagai salah satu gejala dan berbagai macam jenis gangguan mental yang cukup serius. Misalnya gejala dari gangguan kecemasan, depresi, gangguan obsesif kompulsif, dan gangguan kecanduan teknologi.
Selain menjadi gejala dari berbagai gangguan mental, FOMO juga bisa menjadi gejala dari berbagai faktor lainnya. Faktor tersebut bisa berupa tekanan sosial, kurangnya keterampilan manajemen stress, hingga ketergantungan teknologi.
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk memastikan FOMO yang dialami disebabkan oleh kondisi apa diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Maka dari itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan para ahli seperti psikolog atau psikiater. Jika kamu bingung hendak berkonsultasi kemana, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id. Disana kamu bisa berjumpa dengan para profesional di bidang kesehatan mental.
Itu dia penjelasan singkat mengenai pengaruh FOMO terhadap gen z. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Pentingnya Self Care Agar Tidak Terjerumus Dalam Toxic Relationship
Sumber:
American Psychological Association. (2020). FOMO (Fear of Missing Out).
Psychology Today. (2020). The Fear of Missing Out (FOMO).
Verywell Mind. (2020). What Is FOMO?
MindTools. (n.d.). FOMO (Fear of Missing Out).
Journal of Adolescent Health. (2019). FOMO and Social Media Use Among Adolescents.
Journal of Youth and Adolescence. (2018). FOMO and Mental Health in Young Adults.
Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking. (2017). FOMO and Social Media Addiction.
Computers in Human Behavior. (2016). FOMO and Social Media Use.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



