Deeptalk.co.id – Ketika seorang anak perempuan tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah atau fatherless, itu dapat memiliki dampak jangka panjang yang signifikan dalam kehidupan mereka saat dewasa. Dalam artikel ini, kita akan mempelajari dampak yang terjadi ketika seorang anak perempuan dibesarkan tanpa figur ayah yang hadir secara emosional atau fisik.
Kami akan menjelaskan secara rinci bagaimana ketiadaan seorang ayah dapat mempengaruhi perkembangan identitas diri, hubungan interpersonal, dan persepsi terhadap pria dalam kehidupan anak perempuan tersebut. Selain itu, kita akan mengeksplorasi potensi kesulitan emosional dan psikologis yang mungkin dialami anak perempuan ketika mereka mencoba memahami peran ayah yang hilang dalam kehidupan mereka.
Dengan memahami dampak fatherless pada anak perempuan di masa dewasa, diharapkan kita dapat memberikan perhatian dan dukungan yang tepat kepada mereka yang telah mengalami situasi ini, serta membantu mereka dalam menghadapi tantangan dan meraih kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Masalah Harga Diri

Seringkali anak-anak akan menyalahkan dirinya sendiri saat ayah mereka meninggalkan rumah dan kurang terlibat dalam perkembangan kehidupan mereka. Ini terjadi ketika mereka kurang diberikan penjelasan tentang ayah mereka yang pergi, sehingga timbul skenario bahwa mereka tidak pantas untuk dicintai. Kehidupan seorang anak perempuan fatherless ini pun berkembang pada masalah harga diri mereka yang minim.
Beragam penelitian telah mengungkapkan bahwa fatherless atau ketiadaan ayah memiliki dampak yang sangat negatif pada harga diri anak perempuan. Keyakinannya pada kemampuan dan nilainya sendiri sebagai manusia bisa sangat berkurang ketika tidak ada sosok ayah dalam hidupnya. Secara akademis, pribadi, profesional, fisik, sosial, dan romantisme, harga diri seorang wanita berkurang di setiap lingkungan jika dia tidak menjalin hubungan yang sehat dengan ayahnya.
Baca juga: Ini Dampak Fatherless Bagi Anak Laki-Laki
Berjuang Dalam Membangun dan Memelihara Hubungan
Peneliti yang melakukan riset tentang bagaimana wanita mengatasi kehilangan seorang ayah karena kematian atau perceraian mengungkapkan bahwa anak perempuan yang hidup fatherless atau tanpa ayah merasa sulit untuk menjalin hubungan yang langgeng. Ini dikarenakan adanya luka dalam diri anak perempuan akan penolakan dari ayahnya, dan mereka tidak ingin mengambil risiko mengulang luka yang sama.
Sehingga secara sadar maupun tidak, mereka hanya akan mengungkapkan sedikit tentang diri mereka sendiri dan berusaha sangat sedikit orang yang bisa mengenal mereka. Mereka mungkin menjadi promiscuous sebagai cara untuk mendapatkan perhatian laki-laki tanpa harus melibatkan perasaan emosional.
Mengalami Gangguan Makan

Buku The Parent’s Guide to Eating Disorders menuliskan sebuah fakta bahwa anak perempuan yang tidak memiliki ayah secara fisik atau emosional berisiko lebih besar mengalami gangguan makan. Diantaranya seperti anoreksia nervosa, bulimia, binge eating disorder, body dysmorphia, keasyikan yang tidak sehat dengan makanan atau berat badan, dan gangguan makan lainnya lebih mungkin terjadi jika seorang gadis tidak memiliki figur ayah saat dia tumbuh dewasa.
Anak perempuan tanpa ayah juga dua kali lebih mungkin mengalami obesitas. Karena kerinduannya untuk memiliki hubungan dekat dengan ayahnya ditolak, dia mungkin mengembangkan “kelaparan ayah”. Yakni kekosongan yang dalam dan rasa tidak aman yang mendalam.
Anak perempuan bertanya-tanya: Apa yang salah dengan saya sehingga ayah saya sendiri tidak mencintai saya? Jika saya terlihat berbeda-jika saya kurus-apakah saya akan mendapatkan cinta ayah? Hingga hari-hari anak perempuan fatherless dipenuhi dengan pikiran untuk makan, entah melakukannya atau berjuang mati-matian untuk tidak makan.
Lebih Rentan Depresi
Tidak mengherankan jika anak perempuan yang tumbuh besar dengan ayah yang tidak hadir secara fisik maupun emosional lebih cenderung berjuang melawan depresi ketika dewasa. Mereka takut jika ditolak atau ditinggalkan, sehingga anak perempuan yang tumbuh dewasa ini sering mengasingkan diri secara sosial. Data juga menunjukkan bahwa anak tanpa ayah dua kali lebih mungkin melakukan bunuh diri.
Fakta lainnya, satu dari tiga wanita melihat dirinya sebagai anak yatim dan bergumul dengan perasaan ditinggalkan. Mereka pun menghindari hubungan romantis yang sehat karena merasa tidak pantas dan takut disakiti. Meskipun hingga akhirnya mereka kemungkinan bisa terjun pada toxic relationship yang justru menyebabkan patah hati.
Menjadi Aktif Secara Seksual Lebih Awal

Sudah banyak penelitian yang menunjukkan akan banyaknya manfaat yang berasal dari ikatan ayah dan anak yang kuat. Terutama pada anak perempuan yang dekat dengan ayah mereka yang cenderung tidak hamil saat remaja atau MBA. Mereka lebih memilih untuk menunda melakukan hubungan seksual, menunggu lebih lama untuk menikah dan memiliki anak. Lalu ketika mereka telah menemukan suami, pernikahan mereka lebih memuaskan secara emosional, stabil dan tahan lama.
Studi yang tak terhitung jumlahnya juga menunjukkan bahwa wanita yang memiliki hubungan ayah yang tidak stabil atau tidak ada lebih mungkin untuk mulai berhubungan seks lebih awal dan melakukan perilaku seksual yang berisiko. Anak perempuan empat kali lebih mungkin hamil saat remaja jika ayah tidak ada dalam kehidupannya. Studi menunjukkan bahwa lebih dari 70% kehamilan remaja yang tidak direncanakan terjadi di rumah yang tidak memiliki ayah.
Rentan Akan Kecanduan dan Penyalahgunaan Zat
Sejalan dengan dampak lainnya seperti depresi, gangguan makan dan rendahnya self-esteem, fatherless dapat menjebak seorang anak perempuan dalam pola berulang yang negatif. Sehingga mereka tidak dapat dengan mudah untuk keluar dan beralih ke obat-obatan untuk pengobatan sendiri untuk membantu menghilangkan rasa sakit.
Mereka lebih mungkin terjebak dalam siklus penyalahgunaan zat. Menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan A.S., anak-anak yatim memiliki risiko penyalahgunaan narkoba dan alkohol yang jauh lebih besar. Tidak hanya anak-anak dalam rumah tangga tanpa ayah sekitar empat kali lebih mungkin menjadi miskin (yang dapat memicu banyak siklus negatif), remaja tanpa ayah ditemukan 69% lebih mungkin menggunakan narkoba dan 76% lebih mungkin melakukan kejahatan.
Baca juga: Bisakah Kita Mengubah Tipe Attachment Style Diri Sendiri?
Sumber:
J. Dubner. (2011). How an Absent Father Affects Boys and Girls Differently. Freakonomics. https://freakonomics.com/2011/10/fathers-and-delinquency-in-the-american-family/
Meyers, M. (2022, February 4). Fatherless Daughters: How Growing Up Without a Dad Affects Women. Medium. https://medium.com/daughters-without-dads-being-emotionally-or/fatherless-daughters-how-growing-up-without-a-dad-affects-women-eabcedfd09c8
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



