Deeptalk.co.id – Apakah kamu atau orang disekitar mu pernah mengalami kejadian traumatis? Jika pernah, pastikan kalian sudah mengunjungi psikolog atau psikiater untuk mengecek kondisi kesehatan mental mu. Pasalnya, kejadian traumatis dapat mengakibat gangguan kesehatan mental yang biasa dikenal dengan istilah gangguan stress pasca trauma atau post traumatic stress disorder (PTSD).
Artikel ini akan memberikan penjelasan secara lebih detail mengenai gangguan stress pasca trauma, pastikan kamu membacanya hingga habis.
Apa Itu Gangguan Stress Pasca Trauma?

Gangguan stress pasca trauma atau yang biasa disebut PTSD merupakan kondisi kecemasan berlebih pada penderita yang pernah mengalami kejadian traumatis. Kecemasan berlebih tersebut akan terjadi saat penderita kembali mengingat kejadian traumatis.
Namun, tidak semua orang yang mengalami kejadian traumatis bisa terjangkit PTSD. Untuk itulah diperlukan penanganan yang tepat oleh para ahli bagi mereka yang pernah mengalami kejadian traumatis. Tujuannya agar tidak menjadikan kejadian traumatis itu menjadi sebuah gangguan yang kita sebut dengan PTSD.
Penderita gangguan stress pasca trauma yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan selalu dihantui oleh bayangan kejadian-kejadian traumatis yang pernah mereka alami. Hal ini dapat menimbulkan perasaan cemas berlebih, bahkan dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
Penyebab Gangguan Stress Pasca Trauma

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, gangguan stress pasca trauma disebabkan oleh pengalaman traumatis yang terjadi dimasa lampau. Peristiwa traumatis tersebut bisa jadi peristiwa yang menyedihkan, menegangkan, menakutkan, atau setelah mengalami pengalaman traumatis yang berkepanjangan.
Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dipercaya mampu meningkatkan resiko seseorang terserang gangguan stress pasca trauma, yaitu:
Kurangnya dukungan oleh keluarga dan teman-teman terdekat;
Memiliki ketergantungan terhadap alkohol dan mengonsumsi obat-obatan terlarang;
Memiliki riwayat gangguan kecemasan dengan jenis lain;
Adanya riwayat keluarga dengan gangguan mental;
Mengalami kejadian traumatis seperti KDRT, korban bullying, pelecehan, dan lain sebagainya; dan
Memiliki profesi sebagai tentara atau relawan perang.
Baca juga: Ini Dia 5 Tipe Gangguan Spektrum Autisme
Gejala Gangguan Stress Pasca Trauma

Untuk mengenal lebih dalam mengenai gangguan stress pasca trauma, kamu perlu mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan berikut:
Mengingat kejadian traumatis
Penderita gangguan stress pasca trauma akan selalu mengingat kejadian traumatis yang pernah dialami. Hal tersebut membuat mereka tidak nyaman dan menjadi putus asa. Kejadian tersebut juga bisa hadir dalam mimpi buruk seorang penderita gangguan stress pasca trauma.
Perilaku menghindar
Penderita gangguan stress pasca trauma umumnya akan mengelak atau tidak mengakui bahwa mereka mengalami gangguan tersebut. Hal ini tentu akan mempersulit proses penyembuhan. Penderita gangguan ini juga cenderung menghindari hal-hal yang terkait dengan kejadian traumatisnya, misalkan lokasi kejadian, aktivitas, atau orang-orang terkait.
Kehilangan minat
Penderita gangguan stress pasca trauma juga umumnya akan kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulunya sangat ia minati. Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri akibat kejadian yang pernah menimpanya. Hal tersebut seringkali membuat penderita merasa putus asa dan tidak berdaya akan rasa takut yang mereka rasakan.
Emosi dan perilaku yang tidak terkendali
Penderita gangguan stress pasca trauma akan kesulitan mengatur emosi mereka, terutama saat berhadapan dengan pemicu kejadian traumatis tersebut. Mereka akan dengan mudah marah atau merasa sedih. Selain itu, penderita juga mengalami gangguan tidur dan gangguan pada pola makannya.
Fase Emosi pada Penderita Gangguan Stress Pasca Trauma

Untuk mencapai pemulihan, penderita gangguan stress pasca trauma akan melewati 4 fase emosi, yaitu:
Impact phase
Fase pertama ini akan terjadi sesaat setelah penderita mengalami kejadian traumatis. Impact phase umumnya akan berlangsung singkat, namun bisa lebih panjang tergantung pada tingkat keparahan kejadian traumatis yang dialami. Penderita akan merasa takut, sangat cemas dan waspada, tidak berdaya dan adanya penyesalan dan menyalahkan diri sendiri akibat kejadian tersebut.
Rescue phase
Fase kedua ini juga dikenal dengan istilah menyelamatkan atau membebaskan diri. Meski demikian, bukan berarti penderita akan pulih 100% dan melupakan kejadian traumatis yang pernah dialami.
Pada fase ini, penderita sudah mulai menerima kejadian yang pernah menimpa mereka. Namun, mereka masih mengalami kesulitan untuk mengatur emosi. Mimpi buruk, flashback, marah, sedih, dan lain sebagainya masih akan menjadi bagian dari diri menderita.
Intermediate phase
Pada fase ketiga, penderita akan mulai menyesuaikan diri. Mereka akan mulai bangkit dan mencoba untuk menjalani kehidupan sehari-hari seperti sebelumnya. Namun, pada beberapa orang di fase ini masih akan mengalami gejala fisik seperti kesulitan tidur, kelelahan, dan masih sedikit kesulitan mengontrol emosi.
Long-term recovery phase
Pada fase terakhir bisa disebut sebagai fase penyembuhan. Penderita akan mulai berdamai dengan keadaan yang pernah mereka alami. Meski demikian, pikiran-pikiran akan kejadian yang pernah mereka alami akan terus menjadi bayangan gelap dalam benak mereka. Untuk itulah penderita gangguan stress pasca trauma sangat membutuhkan penanganan dari para ahli dan dukungan dari orang-orang disekitar mereka.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Ini Dia Tips Mengatasi Serangan Panik



