Deeptalk.co.id – Dunning kruger effect merupakan salah satu fenomena psikologi yang cukup unik. Individu yang dengan dunning kruger effect mengalami bias kognitif, dimana individu dengan kemampuan rendah akan melebih-lebihkan kemampuannya, sedangkan individu dengan kemampuan tinggi akan meragukan kemampuannya.
Individu yang terjebak dalam fenomena dunning kruger effect ini bisa dikatakan terjebak antara ilusi dan realita. Mereka tidak bisa memahami sampai mana batas kemampuan sebenarnya yang dimiliki. Jika mereka menganggap dirinya superior (kenyataannya tidak), maka mereka akan berpotensi menyebarkan hoax, dan tidak mau menerima masukan maupun pembelajaran baru. Sedangkan jika mereka menganggap dirinya tidak kompeten (kenyataannya kompeten), maka mereka tidak akan terekspos, dan kompetensinya bisa jadi sia-sia.
Fenomena dunning kruger effect ini memang cukup unik dan rumit untuk dibenahi. Pasalnya, individu cenderung lebih percaya dengan apa yang dipikirkannya. Selain itu, dunning kruger effect juga bisa menghambat pertumbuhan pribadi. Maka dari itu, artikel ini akan secara khusus membahas tentang bagaimana dunning kruger effect menghambat perkembangan pribadi seseorang.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu merasa mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater, agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Bagaimana Dunning Kruger Effect Menghambat Pertumbuhan Pribadi?

Seperti yang sudah dipaparkan di awal, dunning kruger effect ini memang memberikan cukup banyak dalam dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya dampak itu bisa berujung pada terhambatnya pertumbuhan pribadi, misalnya karena:
Menghambatnya kesadaran diri (self awareness)
Self awareness atau kesadaran diri adalah kemampuan individu dalam mengenali dan memahami diri sendiri secara menyeluruh. Sayangnya, individu dengan dunning kruger effect cenderung terhambat dalam mengenali dan memahami dirinya. Pasalnya, mereka tidak menyadari kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki. Dampaknya, mereka sulit untuk mengevaluasi diri dan sangat mungkin untuk menghambat pertumbuhan pribadi.
Mengurangi motivasi untuk belajar
Motivasi belajar adalah dorongan kuat dari dalam diri untuk terus mendapatkan pengetahuan atau pembelajaran baru dalam bidang apapun itu. Individu dengan dunning kruger effect merasa telah memahami segalanya (kenyataannya tidak), yang membuat mereka kehilangan motivasi untuk belajar. Pada akhirnya, hal tersebut juga menghambat dirinya untuk terus bertumbuh. Seperti yang kita ketahui, pembelajaran baru bisa menjadi akar dari pertumbuhan diri.
Penolakan terhadap masukan dan kritik
Sebagai manusia, ketidaksempurnaan merupakan bagian dari diri kita. Tidak semua hal yang kita lakukan bisa berujung pada keberhasilan tanpa cela. Dari ketidaksempurnaan itulah kita akan mendapatkan masukan dan kritik yang nantinya bisa membuat kita berbenah diri. Sayangnya, orang dengan dunning kruger effect cenderung menolak masukan maupun kritik. Perasaan diri sangat superior membuatnya defensif terhadap umpan balik. Hal tersebut membuat mereka gagal belajar dari kesalahan, yang tentunya bisa menghambat perkembangan diri.
Mengganggu relasi interpersonal
Orang-orang yang tidak kompeten namun overconfident (dunning kruger effect), umumnya memiliki kepribadian yang arogan atau sombong. Kepribadian semacam itu tidak disukai oleh banyak pihak, yang akhirnya dapat mengganggu relasi interpersonal. Pada akhirnya hal tersebut berdampak pada dinamika sosial dan profesional.
Baca juga: Percaya Diri Tapi Salah: Efek Dunning-Kruger di Era Media Sosial dan Informasi Cepat
Seberapa Penting Metakognisi dalam Mengatasi Dunning Kruger Effect?

Metakognisi adalah kemampuan individu dalam memahami, memantau, dan mengatur proses berpikirnya sendiri. Artinya, metakognisi jugalah yang bisa membantu individu memahami sampai mana kemampuan yang sesungguhnya.
Metakognisi akan membantu individu dalam menyadari keterbatasan dirinya, dengan demikian dapat meningkatkan self awareness individu tersebut. Bisa juga membantu mengelola proses belajar pribadi, yang bisa meningkatkan growth mindset. Selain itu, metakognisi juga membantu mengevaluasi strategi, untuk mendorong efisiensi dalam belajar maupun bekerja. Metakognisi juga melatih individu untuk menerima umpan balik, yang bisa mempercepat pertumbuhan emosional dan sosial.
Dapat disimpulkan bahwa meningkatkan kemampuan metakognisi sama dengan membantu individu untuk keluar dari fenomena dunning kruger effect, sekaligus mempercepat pertumbuhan individu itu sendiri.
Untuk meningkatkan kemampuan metakognisi ini individu perlu menyadari kekurangannya dan menerima bahwa ketidaksempurnaan merupakan bagian dari manusia. Selain itu, perlu juga untuk mencari pembelajaran baru dalam banyak hal. Penting juga untuk belajar beradaptasi dan tidak pernah lelah untuk memperbaiki diri sendiri.
Itu dia penjelasan singkat mengenai bagaimana dunning kruger effect menghambat pertumbuhan pribadi, dan seberapa besar peran metakognisi dalam mengatasi fenomena dunning kruger effect. Jika kamu mengalami dunning kruger effect dan sulit untuk membenah diri. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Sumber:
Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134. https://doi.org/10.1037/0022-3514.77.6.1121
Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive–developmental inquiry. American Psychologist, 34(10), 906–911.
Ehrlinger, J., Johnson, K., Banner, M., Dunning, D., & Kruger, J. (2008). Why the unskilled are unaware: Further explorations of (absent) self-insight among the incompetent. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 105(2), 98–121.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House.
Livingston, J. A. (1997). Metacognition: An Overview. Institute for the Study of Advanced Development.
Schraw, G., & Dennison, R. S. (1994). Assessing metacognitive awareness. Contemporary Educational Psychology, 19(4), 460–475.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



