Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah mendengar istilah dunning kruger effect dan impostor syndrome? Kedua istilah tersebut memang cukup tidak familiar bagi beberapa orang. Namun bagi orang-orang yang menekuni ilmu psikologis tentu cukup familiar dengan kedua istilah tersebut.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang dunning kruger effect khususnya yang low performers, dan impostor syndrome. Namun sebelum kita masuk ke topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dunning Kruger Effect (Low Performers)
![]()
Dunning kruger effect adalah bias kognitif yang terbagi dalam dua spektrum, yaitu low performers (kemampuan rendah, namun melebih-lebihkan), dan high performers (kemampuan tinggi, namun meragukan kemampuannya). Kali ini kita akan fokus pada dunning kruger effect dengan low performers.
Dunning kruger effect pertama kali dikemukakan pada tahun 1999, oleh David Dunning dan Justin Kruger yang merupakan seorang psikolog. Dunning dan Kruger menjelaskan fenomena dunning kruger effect dalam sebuah jurnal penelitian. Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa orang dengan kompetensi rendah tidak hanya membuat kesimpulan yang salah, namun juga tidak menyadari ketidakmampuan yang dimiliki.
Ciri-ciri dunning kruger effect
Individu dengan dunning kruger effect (low performers) umumnya akan menunjukan beberapa ciri-ciri berikut:
-
Merasa diri paling ahli dari semua orang, atau dari orang-orang disekitarnya.
-
Tidak memiliki kemampuan untuk mengenali keahlian orang lain.
-
Tidak menyadari kekurangan diri sendiri
-
Tidak bisa menerima kritik, masukan, maupun pendapat dari orang lain.
Dampak dunning kruger effect
Dunning kruger effect memang bukan salah satu gangguan mental. Meski demikian, bukan berarti kondisi ini bisa dibiarkan begitu saja. Nyatanya, dunning kruger effect memberikan banyak sekali dampak negatif untuk kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa dampak yang dipicu oleh kondisi dunning kruger effect:
-
Seringkali salah mengambil keputusan.
-
Kesulitan menerima kritik atau saran dari orang lain.
-
Menghambat perkembangan atau pertumbuhan secara pribadi.
-
Memungkinkan menjadi penyebab tersebarnya hoax.
-
Menimbulkan banyak masalah dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan publik.
Baca juga: Sadar Diri sebagai Kunci: Strategi Mengatasi Dunning-Kruger Effect dalam Diri Sendiri
Impostor Syndrome

Selain dunning kruger effect, terdapat fenomena psikologi lain yang tidak kalah uniknya yang biasa dikenal dengan istilah impostor syndrome. Bisa dikatakan bahwa impostor syndrome merupakan kebalikan dari dunning kruger effect (low performance).
Impostor syndrome adalah fenomena psikologi dimana individu merasa dirinya tidak memiliki kompetensi yang cukup baik dan takut dianggap sebagai seorang penipu, walaupun sudah banyak bukti bahwa dirinya memang berkompeten. Istilah impostor syndrome sendiri pertama kali dikemukakan pada tahun 1978, oleh Dr. Pauline Clance dan Dr. Suzanne Imes.
Sekilas impostor syndrome hampi mirip dengan dunning kruger effect high performers. Namun, dunning kruger effect high performers dipicu oleh persepsi bahwa semua orang bisa melakukan apa yang dilakukan, sedangkan impostor syndrome dipicu oleh rasa takut dianggap sebagai seorang penipu. Artinya, walaupun sama-sama memiliki kemampuan namun meragukannya, keduanya tetaplah fenomena psikologi yang berbeda.
Ciri-ciri impostor syndrome
Individu dengan impostor syndrome umumnya akan menunjukan beberapa ciri-ciri berikut:
-
Merasa tidak pantas akan keberhasilan atau pencapaian yang didapatkan.
-
Menganggap bahwa kesuksesan sebagai “kebetulan” atau karena bantuan dari pihak eksternal.
-
Merasa takut jika orang lain sadar bahwa dirinya tidak kompeten, walaupun pada kenyataan dirinya memang benar-benar kompeten.
-
Cenderung sangat perfeksionis dan kecemasan yang cukup tinggi.
Dampak impostor syndrome
Sama halnya dengan dunning kruger effect, impostor syndrome juga tidak termasuk dalam kategori gangguan mental. Meski demikian, kondisi ini bisa memberikan dampak fatal dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa kondisi yang bisa dipicu oleh impostor syndrome yang tidak tertangani dengan tepat:
-
Beresiko mengalami masalah-masalah kesehatan menta, seperti stress berlebih, kecemasan, bahkan depresi.
-
Cenderung menghindari tantangan karena takut akan kegagalan.
-
Selalu merasa kurang walaupun sudah mendapatkan banyak prestasi dan bukti nyata akan kemampuan yang dimiliki.
-
Mengalami penurunan kepuasan dan kepercayaan diri.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai dunning kruger effect (low performers) dan impostor syndrome. Dapat disimpulkan bahwa dunning kruger effect (low performers) merasa terlalu kompeten namun realitanya kurang kompeten, sedangkan impostor syndrome merasa tidak cukup kompeten namun realitanya sangat kompeten. Selain itu, dunning kruger effect (low performers) cenderung menolak kritikan, defensif, dan berdampak pada hambatan pembelajaran, serta kesalahan pengambilan keputusan. Sedangkan impostor syndrome sering merasa cemas saat mendapatkan pujian, dan mengalami penurunan rasa percaya diri, serta stress yang meningkat.
Jika kamu merasa mengalami dunning kruger effect (low performers) atau impostor syndrome, dan kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Pemimpin yang Terjebak Ilusi: Dunning-Kruger Effect dalam Kepemimpinan dan Politik
Sumber:
Dunning, D., & Kruger, J. (1999). Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one's own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134.
Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The Impostor Phenomenon in High Achieving Women: Dynamics and Therapeutic Intervention. Psychotherapy: Theory, Research & Practice, 15(3), 241–247.
Bravata, D. M., et al. (2020). Prevalence, Predictors, and Treatment of Impostor Syndrome: a Systematic Review. Journal of General Internal Medicine, 35(4), 1252–1275.
Kruger, J., & Dunning, D. (2009). Unskilled and unaware — but why? Psychology of Learning and Motivation, 50, 189–210.
Sakulku, J., & Alexander, J. (2011). The impostor phenomenon. International Journal of Behavioral Science, 6(1), 73–92.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



