Semua artikel
Gender

Waspada Komplikasi Pada Kondisi Gender Dysphoria!

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Gender dysphoria merupakan kondisi dimana seseorang merasakan identitas gender yang tidak sesuai dengan jenis kelamin yang dimiliki sejak lahir. Sebagai contoh, seseorang yang lahir dengan jenis kelamin laki-laki merasa dirinya memiliki identitas gender perempuan. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan merasa dirinya memiliki identitas gender laki-laki. Bahkan beberapa dari penderita gender dysphoria merasa tidak 100% laki-laki, dan tidak juga 100% perempuan.

Disisi lain, kondisi gender dysphoria juga dianggap cukup tabu di Indonesia. Hal ini karena warga Indonesia merasa bahwa kondisi tersebut tidak sesuai dengan norma sosial dan agama yang dianut. Dengan demikian, cukup banyak pro dan kontra dalam pembahasan mengenai gender dysphoria.

Gender dysphoria pada dasarnya memang tidak masuk dalam kategori gangguan psikologis. Meski demikian, dalam beberapa kasus, penderita gender dysphoria membutuhkan pertolongan secara medis. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa komplikasi dalam kondisi gender dysphoria tersebut.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai komplikasi dan penanganan pada kasus gender dysphoria. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis, dan tidak juga sebagai rujukan dalam penanganan penderita gender dysphoria.

Berikut pembahasannya.

Komplikasi Gender Dysphoria

Walaupun gender dysphoria tidak termasuk dalam gangguan mental, namun kondisi ini sangat berbeda dengan apa yang dipercaya oleh orang-orang pada umumnya. Karena itulah gender dysphoria sering kali dianggap sesuatu yang aneh dan tidak pantas. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan tekanan tersendiri bagi penderita gender dysphoria.

Berikut beberapa komplikasi yang bisa dialami oleh penderita gender dysphoria:

Stress dan depresi

Tekanan yang dialami oleh penderita gender dysphoria dapat mengakibatkan stress bahkan depresi. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan mengakibatkan penderita kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari.

Kondisi depresi yang dialami akibat gender dysphoria dapat membuat penderita mengalami berbagai masalah dalam berbagai aspek kehidupannya. Misalnya masalah dalam pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Dalam kondisi depresi dengan tingkat keparahan yang tinggi, penderita bahkan memiliki pikiran untuk melakukan percobaan bunuh diri. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan merealisasikan pikiran tersebut.

Gangguan kecemasan

Selain kondisi stress dan depresi, penderita gender dysphoria juga bisa mengalami gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan sendiri merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan perasaan cemas atau khawatir berlebih sehingga mengganggu diri sendiri atau orang disekitar.

Penderita gender dysphoria sering kali mendapatkan penilaian-penilaian yang tidak mereka harapkan. Hal ini tidak jarang membuat mereka merasa cemas untuk bertemu orang lain atau saat berada di lingkungan yang tidak bisa menerima identitas gender yang mereka percaya.

Baca juga : Apa Itu Gender Dysphoria?

Sibuk memperhatikan penampilan

Seseorang yang mengalami gender dysphoria cenderung berupaya untuk menampilkan identitas gender yang mereka yakini. Hal ini tentu akan sedikit sulit mengingat tampilan fisik mereka bertolak belakang dengan identitas gender yang mereka percaya. Maka dari itu mereka akan berupaya semaksimal mungkin untuk menunjukkan identitas gendernya.

Seorang dengan gender dysphoria akan berpakaian dan menggunakan aksesoris yang dapat menggambarkan mereka sesuai dengan identitas gender yang mereka yakini. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka juga melakukan perubahan secara fisik dengan melakukan serangkaian proses operasi.

Merasa terasingkan

Kondisi gender dysphoria sering kali mengakibatkan terganggunya hubungan penderita dengan keluarganya. Kembali lagi dengan kondisi gender dysphoria yang masih dianggap tabu di kalangan masyarakat. Banyak keluarga, terutama orang tua yang tidak bisa menerima identitas gender yang berbeda dengan jenis kelamin yang didapatkan sejak lahir.

Tidak hanya keluarga, orang-orang disekitar juga cenderung tidak bisa menerima perbedaan tersebut. Hal-hal semacam ini yang membuat penderita gender dysphoria merasa terasingkan dari lingkungannya.

Kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang

Kondisi yang satu ini masih berhubungan dengan stress dan depresi yang dialami oleh penderita gender dysphoria. Untuk dapat menghilangkan pikiran-pikiran mengenai pendapat orang lain terhadap dirinya, tidak jarang dari mereka yang mencari pelarian dengan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dimana zat-zat tersebut membuat orang yang mengkonsumsinya mengalami kecanduan.

Penanganan Pada Penderita Gender Dysphoria

Mengingat kondisi gender dysphoria sebenarnya bukan sebuah gangguan, pada dasarnya kondisi ini tidak perlu mendapatkan penanganan secara medis. Tentu saja hal tersebut berlaku selama penderita bisa menerima diri sendiri dan tidak mengganggu aktivitas pribadi dan orang-orang disekitar.

Namun jika kondisi gender dysphoria dianggap perlu mendapatkan penanganan secara serius, maka penderita bisa langsung berkonsultasi dengan ahlinya. Dalam hal ini Psikolog atau Psikiater. Penanganan akan diberikan sesuai dengan gejala dan masalah yang sedang dihadapi.

Adapun penanganan yang umum didapatkan bisa berupa terapi medis dan terapi perilaku. Terapi medis biasanya dilakukan dengan terapi hormon atau operasi. Sedangkan terapi perilaku tidak untuk merubah identitas gendernya, melainkan untuk menemukan masalah yang dihadapi dan menangani masalah tersebut.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai gender dysphoria. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Ini Dia Dampak Revenge Porn Terhadap Kesehatan Mental

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Waspada Komplikasi Pada Kondisi Gender Dysphoria! — DeepTalk