Semua artikel
Gender

Gender Dysphoria : Ketidakcocokan Antara Gender Biologis dan Identitas yang Dimiliki

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Kamu mungkin pernah melihat seorang wanita yang berperilaku atau berpakaian seperti pria, atau sebaliknya. Beberapa dari kita mungkin menganggap hal tersebut sebagai penyimpangan. Terlebih jika kita tinggal di negara dengan norma budaya dan agama yang masih begitu kental, seperti di Indonesia.

Namun tahukah kamu bahwa terdapat banyak sekali kondisi yang menyebabkan seseorang berpenampilan atau berperilaku tidak sesuai dengan jenis kelamin yang mereka miliki. Salah satunya adalah kondisi psikologis yang dikenal dengan istilah gender dysphoria.

Lalu seperti apa sebenarnya gender dysphoria itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai gender dysphoria. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis.

Jika kamu atau orang sekitar mengalami kebingungan identitas, maka jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis yang tepat akan kondisi yang sedang kamu alami.

Berikut pembahasan mengenai gender dysphoria.

Pengertian Gender Dysphoria

Gender dysphoria adalah kondisi psikologis dimana individu merasa memiliki identitas gender yang berbeda dari gender yang dimiliki sejak lahir. Misalnya saat dimana seorang wanita yang merasa dirinya terjebak dalam tubuh seorang pria, atau sebaliknya. Kondisi semacam ini akan membuat individu merasa tidak nyaman.

Tidak sedikit dari penderita gender dysphoria merasa tertekan, stress, cemas, bahkan depresi. Mereka ingin berekspresi sebagaimana gender yang diyakini, namun disisi lain tubuhnya tidak sesuai dengan gender yang mereka yakini tersebut.

Walaupun beberapa penderita gender dysphoria terap berekspresi sebagaimana dengan gender yang mereka yakini, namun tuntutan dari lingkungan sosial terkadang tidak bisa membuat mereka tenang. Selain itu, kondisi gender dysphoria ini bisa dialami oleh siapa saja, dengan latar belakang sosial apapun, atau usia berapapun.

Baca juga : Faktor yang Mempengaruhi Self Esteem dan Cara Meningkatkannya

Penyebab Gender Dysphoria

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti seseorang mengalami kondisi gender dysphoria ini. Meski demikian, beberapa ahli sependapat bahwa kondisi ini bisa dipicu oleh beberapa kondisi berikut:

Faktor neurologis

Banyak peneliti yang menemukan perbedaan kondisi neurologis pada penderita gender dysphoria dengan orang-orang yang tidak mengalami gender dysphoria. Penderita gender dysphoria mengalami perbedaan struktur dan fungsi otak yang berhubungan dengan identifikasi jenis kelamin yang dipercaya, dengan jenis kelamin yang dimiliki sejak kecil.

Faktor genetik

Faktor lain yang bisa menyebabkan kondisi gender dysphoria adalah genetik. Walaupun memang tidak ada gen khusus yang bertanggung jawab terhadap kondisi tersebut. Meski demikian, dalam beberapa kasus ditemukan bahwa penderita gender dysphoria memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa.

Faktor lingkungan

Selain neurologis dan genetik, faktor lainnya yang tidak kalah penting menjadi penyebab gender dysphoria adalah faktor lingkungan. Tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan memang sedikit banyak berkontribusi dalam pembentukan psikologis manusia. Seseorang yang tinggal di lingkungan yang memberikannya intimidasi, tekanan, atau kurangnya dukungan terhadap kondisi gender dysphoria akan semakin memperparah gejala dari kondisi tersebut.

Ketidakseimbangan hormon

Baik pria maupun wanita pada dasarnya memiliki hormon dengan keseimbangan yang berbeda-beda. Jika terjadi ketidakseimbangan hormon dalam diri manusia, maka bisa jadi mereka mengalami kebingungan identitas gender, atau gender dysphoria. Keseimbangan hormon ini memang bisa berubah sewaktu-waktu, untuk itu penting bagi kita memperhatikannya agar tidak terjadi ketimpangan yang sangat signifikan.

Faktor psikologis

Faktor berikutnya yang dipercaya mampu membentuk kondisi gender dysphoria dalam diri individu adalah faktor psikologis. Faktor psikologis dalam hal ini cukup beragam, bisa jadi penderita mengalami kejadian traumatis, tekanan emosional, atau ketidaksesuaian sosial. Kondisi semacam itu bisa memicu stress bahkan depresi dan bisa memperparah gejala gender dysphoria yang dialami.

Kondisi medis langkah

Dalam beberapa kasus seseorang akan terlahir dengan kondisi medis yang cukup langkah. Misalnya kondisi congenital adrenal hyperplasia (CAH) atau hermaphroditism (bayi lahir dengan dua kelamin). Kondisi tersebut akan memungkinkan penderitanya juga mengalami gender dysphoria. Penderita congenital adrenal hyperplasia akan tumbuh sebagai janin wanita namun memproduksi hormon seks pria yang lebih tinggi. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan pembengkakan pada area vagina, dan menimbulkan kesalahpahaman bahwa bayi lahir dengan jenis kelamin pria. Dengan demikian, bayi akan hidup seakan berjenis kelamin pria, namun pada dasarnya mereka memiliki jenis kelamin wanita. Hal semacam inilah yang akan menimbulkan keraguan identitas gender dikemudian hari.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi gender dysphoria. Perlu diketahui bahwa kondisi gender dysphoria pada dasarnya tidak termasuk dalam kategori gangguan mental. Gender dysphoria merupakan respon tubuh terhadap ketidakcocokan antara gender yang dimiliki sejak lahir, dengan gender yang diyakini dikemudian hari. Meski demikian, kondisi ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Ciri-Ciri dan Aspek dari Self Esteem

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Gender Dysphoria : Ketidakcocokan Antara Gender Biologis dan Identitas yang Dimiliki — DeepTalk