Deeptalk.co.id – Di era digital ini, gadget smartphone merupakan suatu hal yang sangat diperlukan. Bukan hanya untuk orang dewasa, bahkan kini anak-anak juga sudah banyak yang mulai menggunakan gadget. Baik untuk kebutuhan sosial si anak, maupun untuk kebutuhan sosialnya, gadget menjadi barang yang sangat diperlukan mereka. Akibat adanya kebutuhan tersebut, orang tua pun merasa kesulitan untuk tidak memberikan gadget pada anak di usianya yang masih kecil.
Diketahui bahwa usia rata-rata anak-anak menerima gadget mereka adalah 11,6 tahun, dengan perolehan gadget meningkat tajam antara 10,7 tahun. Serta usia 12,5 tahun merupakan periode di mana separuh dari anak-anak memperoleh ponsel pertama mereka.
Selain itu, meskipun anak-anak di bawah 13 tahun secara teknis tidak diizinkan untuk mendaftar akun di situs media sosial, seperti TikTok dan Snapchat, pembatasan dapat dengan mudah dilewati. Hampir 95% anak muda berusia antara 13 dan 17 tahun melaporkan bahwa mereka menggunakan platform media sosial, dan lebih dari sepertiganya mengatakan bahwa mereka “hampir terus-menerus” menggunakan media sosial, seperti yang dilaporkan sebelumnya di Fortune.
Data tersebut menandakan bahwa anak-anak kini sudah banyak yang menghabiskan waktu lama di depan layar dan bisa jadi akan lebih sering menatap layar. Padahal, selain adanya konten yang tidak pantas, penggunaan gadget yang berlebihan pada anak juga patut dikhawatirkan. Terlalu banyak screen time pada gadget bisa berdampak buruk bagi perkembangan dan juga kesejahteraan mental anak, di antaranya yakni seperti berikut ini:
1) Menghambat Perkembangan Keterampilan Sosial

Betapa berlebihannya waktu menatap layar gadget dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial pada anak. Sebuah artikel dari Coda juga menyoroti adanya dampak negatif dari gadget yakni kecanduan, isolasi sosial dan penurunan empati.
Ketika anak menghabiskan lebih banyak waktu melihat layar gadget, itu berarti juga mereka memiliki lebih sedikit waktu untuk berinteraksi tatap muka dengan orang lain. Jika seorang anak bergantung pada perangkat elektronik seperti smartphone untuk berkomunikasi, mereka berisiko kehilangan keterampilan sosialnya. Seiring waktu, anak-anak mungkin menjadi terlepas dari perasaan orang lain dan kesulitan menafsirkan keterampilan emosional non-verbal.
Baca juga: Intrusive Berbeda Dengan Impulsif, Berikut Penjelasannya
2) Penurunan Kesejahteraan Mental

Ahli Bedah Umum AS Vivek Murthy menyatakan bahwa media sosial menimbulkan risiko bahaya yang besar bagi anak-anak. Menurut statistiknya, remaja yang menghabiskan setidaknya tiga jam sehari di media sosial menghadapi risiko dua kali lipat terkena masalah kesehatan mental termasuk mengalami gejala depresi dan kecemasan.
Selain itu, sebuah penelitian global terhadap hampir 30.000 orang dewasa muda menunjukkan korelasi kuat antara usia anak-anak pertama kali menerima ponsel pintar dan status kesehatan mental mereka. Studi ini juga menemukan bahwa tren rendahnya harga diri, motivasi dan ketahanan lebih besar terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki
Para peneliti menyimpulkan bahwa semakin tua anak-anak ketika mereka pertama kali menerima ponsel pintar atau tablet, semakin baik kesejahteraan mental mereka saat dewasa. Namun, mereka yang pertama kali menerima ponsel pintar di usia yang lebih muda, lebih mungkin mengalami pikiran untuk bunuh diri, perasaan agresif terhadap orang lain, dan perasaan terlepas dari kenyataan.
3) Mengganggu Kualitas Tidur Anak

Penggunaan media sosial yang berlebihan juga berdampak negatif pada tidur remaja. Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh De Montfort University Leicester di Inggris menunjukkan bahwa 12,5% anak usia 10 tahun kehilangan sekitar satu malam tidur dalam seminggu karena mereka terbangun di tengah malam untuk memeriksa notifikasi.
4) Kesulitan Dalam Memahami Emosi

Sebuah studi yang dilakukan UCLA menemukan bahwa waktu menatap layar gadget secara berlebihan dapat berdampak negatif pada kemampuan anak dalam memahami emosi. Penelitian ini melibatkan dua kelompok siswa kelas enam dari sekolah negeri California.
Satu kelompok menghabiskan waktu lima hari di kamp alam dan sains tanpa akses terhadap media digital apa pun, sementara kelompok lainnya menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di depan perangkat elektronik mereka. Setelah itu, siswa diperlihatkan video dan gambar wajah bahagia, sedih, marah, dan takut untuk menguji pemahaman mereka terhadap isyarat emosional non-verbal.
Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang tidak menggunakan media digital memiliki kinerja yang jauh lebih baik dalam menafsirkan emosi dibandingkan anak-anak yang diperbolehkan mengakses media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi tatap muka sangat penting bagi anak-anak untuk mempelajari isyarat emosional non-verbal – komunikasi melalui pesan teks dan media sosial tidak boleh menggantikan interaksi manusia yang sebenarnya.
Baca juga: Ini Dia Ciri atau Karakteristik Umum Dari Kondisi Neurodivergent
Sumber:
https://med.stanford.edu/news/all-news/2022/11/children-mobile-phone-age.html
https://fortune.com/well/2023/05/26/kids-smartphones-mental-health/
https://blog.prep.works/blog/is-your-childs-smartphone-hindering-his-social-skills/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



