Deeptalk.co.id – Pada sebuah hubungan interpersonal, sering kali kita menjadi tempat curhat bagi orang lain. Menyediakan pendengaran dan dukungan emosional kepada orang lain merupakan aspek penting dalam menjalin hubungan yang sehat. Namun, terlalu sering menerima emosi negatif yang dikeluarkan dari lawan bicara Anda, akan menimbulkan fenomena “emotional sponge”.
Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam mengenai pengertian dari emotional sponge. Selain itu, kita akan mengungkap bahaya yang mungkin timbul dari emotional sponge ini ketika kita terlalu sering menjadi tempat curhat bagi orang lain.
Tentang Emotional Sponge

Para psikolog mendefinisikan emotional sponge sebagai fenomena sosial dimana satu orang dalam suatu hubungan menyerap dan menginternalisasi emosi negatif seseorang yang dekat dengannya. Mungkin bisa dari teman Anda yang mengalami hari buruk kemudian justru menular ke Anda. Atau bisa juga segala keluhan dari rekan kerja yang akhirnya bermain di pikiran Anda.
Emotional sponge bukan sekedar tentang perasaan Anda yang menjadi sedikit emosional karena seseorang yang Anda cintai sedang mengalami masa yang sulit. Pun menjadi orang yang peduli dan berempati sama sekali bukanlah tanda bahaya. Nyatanya, kepekaan dan pemahaman yang tinggi bisa sangat berguna untuk menjaga hubungan dekat atau bahkan ketika di tempat kerja.
Tentu saja wajar jika pengalaman emosional orang lain bisa memengaruhi diri Anda. Ketika Anda memperhatikan seseorang sedang sedih, Anda mungkin cenderung akan menawarkan kenyamanan dan dukungan. Pun ketika ada eseorang yang marah, Anda akan berusaha untuk menenangkannya. Anda mengatur emosi dan perilaku seseorang berdasarkan apa yang mereka rasakan untuk meresponnya dengan tegas.
Setiap kali Anda mencoba untuk membantu orang lain mengatur emosi mereka, baik dengan mendorong atau meyakinkan mereka, Anda telah mempraktikan apa yang disebut dengan “regulasi emosi ekstrinsik”. Dengan kata lain, Anda mengambil kontrol emosi mereka dan mencoba memberi mereka orientasi yang lebih positif, dan ini bukanlah hal yang negatif.
Akan tetapi ini kemudian menjadi masalah saat Anda tidak hanya menyadari emosi orang lain dan Anda malah menghadapinya sendiri. Terjadilah pergeseran dari mengetahui apa yang dirasakan orang lain, menjadi merasakan apa yang mereka rasakan. Bahkan bisa lebih jauh lagi menjadi percaya bahwa Anda bertanggung jawab untuk memastikan orang lain berada dalam keadaan positif.
Baca juga: Bagaimana Tubuh Memproses Rasa Takut?
Bahaya Emotional Sponge

Banyak orang yang ketika memiliki muatan emosional yang tidak dapat diterima dan dikelola, kemudian hanya memproyeksikannya ke luar. Kecenderungan ini disebut dengan identifikasi proyektif, yakni mekanisme pertahanan yang bekerja pada tingkat bawah sadar di mana seseorang melepaskan perasaannya atau kualitas yang di tolak dalam dirinya pada orang lain.
Dengan cara tersebut, orang akhirnya memproyeksikan ketidakberdayaannya, kemarahannya, frustasinya atau bahkan kecemburuannya pada orang lain. Meskipun ini hanyak karena mereka menolak perasaan tersebut dan tidak menerimanya sebagai miliknya.
Ini mungkin lebih besar terjadi jika Anda merupakan orang yang sangat sensitif (hyper sensitive person). Para hyper sensitive person sering mengalami emotional sponge dimana Anda akan cenderung merasa terdorong untuk memperbaiki keadaan, meskipun terkadang Anda tidak sepenuhnya menyadarinya.
Anda secara emosional dapat merasakan dengan sangat jelas gelombang ketegangan, kekhawatiran, frustrasi, kesedihan, atau kemarahan yang terus-menerus dipancarkan orang lain. Kepekaan khusus itu membuat Anda menjadi lebih rentan terhadap keadaan emosional orang-orang di sekitar, menjadi semacam “emotional sponge” yang menyerap hal-hal negatif yang melayang di sekitar Anda.
Namun, dalam beberapa kasus, dorongan untuk “mempedulikan” orang lain ini bisa menjadi begitu kuat sehingga Anda mengambil kekuatan Anda atau mengambil peran yang tidak kompeten untuk memuaskan kebutuhan orang lain untuk merasa kuat atau percaya bahwa mereka melindungi Anda, padahal sebenarnya itu terjadi sebaliknya. Tanpa disadari, Anda akhirnya menjadi “pengatur emosi” orang lain, dengan mengorbankan emosi Anda sendiri, mengesampingkan kebutuhan Anda sendiri dan membuangnya ke alam kedua atau ketiga. Dan itu tidak positif, apalagi jika menjadi pola yang bertahan lama.
Sedangkan masalahnya dalam kasus identifikasi proyektif, orang yang memproyeksikan emosi atau kualitas yang ditolak tersebut menginginkan siapa pun yang mengasumsikannya, merasakan dan berperilaku sesuai dengan faktasi proyektif tersebut. Artinya, mekanisme itu memiliki sisi “atributif” dan “akuisisi” sehingga siapa pun yang bertindak sebagai emotional sponge pada akhirnya akan menganggap perasaan dan kualitas orang lain sebagai milik mereka.
Dalam keluarga, misalnya, identifikasi proyektif dapat memperoleh karakter kronis dan sangat bermasalah. Ini akan mengikis rasa identitas orang yang menganggap proyeksi ini sebagai milik mereka. Melalui manipulasi langsung atau halus, Anda bisa berakhir percaya bahwa Anda lemah atau tidak peka, padahal sebenarnya justru sebaliknya. Dalam praktiknya, Anda mengambil peran yang diberikan orang lain kepada Anda. Dan itu pada akhirnya akan mengikis identitas Anda.
Baca juga: Waspada! Trauma Bisa Berkembang Menjadi Gangguan Kecemasan
Sumber:
Are you an “emotional sponge” for the people around you? (2023). https://www.stylist.co.uk/health/mental-health/emotional-sponging/753992
Delgado, J. (2021, February 26). The dangers of becoming an “emotional sponge.” Psychology Spot. https://psychology-spot.com/projective-identification-emotional-sponge/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



