Semua artikel
Emosi

Waspada! Dampak Euphoric Mood Bagi Kesehatan Mental

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Euforia, seringkali digambarkan sebagai perasaan kebahagiaan dan kegembiraan yang berlebihan, dapat memberikan pengalaman yang memukau. Namun, seperti banyak hal dalam kehidupan, euforia juga memiliki dua sisi mata uang. Terlepas dari kenikmatan sesaat yang mungkin dirasakan, euforia yang berlebihan dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental seseorang.

Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang dampak euforia yang berlebihan, menggali bagaimana perasaan euforia ini dapat mengganggu keseimbangan emosi dan kesehatan mental secara keseluruhan. Dengan memahami dampaknya, kita dapat menjadi lebih waspada terhadap pengalaman euforia yang tidak seimbang dan mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan mental kita.

Bagaimana Euforia Terbentuk?

Euforia bermula dari perasaan senang, hingga kemudian rasa senang tersebut berubah menjadi suasana hati yang berlebihan. Munculnya perasaan tersebut memiliki keterkaitan dengan hotspot hedonis, yang merupakan substrat/struktur saraf yang saling terkait secara fungsional yang (secara intrinsik atau ekstrinsik) menghasilkan perasaan senang.

Aktivasi satu hotspot hedonis melibatkan stimulasi hotspot lainnya. Penghambatan satu hotspot hedonik menumpulkan aktivasi hotspot lainnya. Oleh karena itu, aktivasi simultan setiap hotspot hedonik dalam sistem penghargaan mungkin diperlukan untuk menimbulkan sensasi euforia.

Ada beragam faktor yang dapat menimbulkan suasana hati euforia pada seseorang. Salah satunya yang berasal dari obat-obatan, dimana hal ini masih kurang dipahami bagaimana terjadinya. Namun, banyak ahli yang menduga bahwa euforia akibat obat-obatan mungkin melibatkan lonjakan senyawa pemberi sinyal kimia termasuk opiois alami tubuh (endorfin) dan neurotransmiter lain di bagian ganglia basal (sirkuit imbalan).

Ketika obat-obatan tertentu dikonsumsi, obat-obatan tersebut dapat menyebabkan lonjakan neurotransmitter yang jauh lebih besar daripada lonjakan kecil yang secara alami dihasilkan sehubungan dengan imbalan yang sehat seperti makan, mendengar atau bermain musik, aktivitas kreatif, atau interaksi sosial.

Pada mulanya ahli menganggap bahwa lonjakan neuro transmitter dopamin yang dihasilkan oleh obat-obatan secara langsung menyebabkan euforia. Namun pada ahli kini berpendapat bahwa dopamin lebih berkaitan dengan membuat seseorang mengulangi aktivitas yang menyenangkan (penguatan) dibandingkan dengan menghasilkan kesenangan secara langsung.

Perasaan senang adalah bagaimana otak yang sehat mengidentifikasi dan memperkuat perilaku yang bermanfaat, seperti makan, bersosialisasi, dan berhubungan seks. Otak manusia terhubung untuk meningkatkan kemungkinan setiap individu mengulangi aktivitas yang menyenangkan.

Neurotransmitter dopamin adalah pusat dari hal ini. Setiap kali sirkuit hadiah diaktifkan oleh sistem yang sehat juga pengalaman yang menyenangkan, semburan dopamin menandakan bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi yang perlu diingat. Sinyal dopamin ini menyebabkan perubahan konektivitas saraf yang memudahkan untuk mengulangi aktivitas berulang kali tanpa memikirkannya, sehingga berujung pada terbentuknya kebiasaan.

Inilah yang kemudian membuat perasaan euforia menimbulkan kecanduan obat-obatan yang tentunya justru merusak diri. Semula suasana hati euforia adalah hal yang aman dan terkendali karena memberikan perasaan atau rasa aman pada seseorang, ini kemudian bisa menjadi berbahaya jika sudah memberikan dampak buruk berupa kebiasaan yang bisa merusak diri sendiri.

Baca juga: Memahami Hoarding Disorder, Gangguan Mental Dengan Kebiasaan Menimbun Barang

Dampak Suasana Hati Euforia

Euforia merupakan salah satu suasana hati atau keadaan mental yang paling menyenangkan. Namun, kenikmatan ekstrem ini juga dapat menjadikannya masalah jika dilibatkan atau disebabkan oleh obat-obatan yang membuat kecanduan. Begitu seseorang mulai mengonsumsi suatu zat dan mengalami perasaan euforia, mereka kemudian ingin merasakan perasaan itu lagi.

Zat psikoaktif menghasilkan “lonjakan” endorfin dan neurotransmiter lain di sirkuit penghargaan otak. Endorfin dilepaskan secara alami ketika kita mengalami hal-hal yang menyenangkan, seperti melakukan aktivitas kreatif. Namun, obat-obatan menghasilkan tingkat endorfin yang lebih tinggi daripada yang biasanya kita produksi sendiri. Tingginya kadar endorfin ini menciptakan sensasi menyenangkan yang membuat kita merasa gembira.

Seiring berjalannya waktu, orang perlu mengonsumsi lebih banyak obat untuk merasakan efeknya. Tidak mengonsumsi obat dapat menyebabkan gejala putus obat dan perasaan disforia.

Seiring berjalannya waktu, sering kali dibutuhkan lebih banyak substansi untuk tetap merasakan perasaan menyenangkan yang sama, sebuah fenomena yang dikenal sebagai toleransi. Untuk tetap merasakan suasana hati gembira yang sama, orang perlu mengonsumsi lebih banyak zat tersebut.

Baca juga: Dysphoria VS. Dysmorphia : Pengertian dan Perbedaan Antara Keduanya

 

Sumber:

Drugs and the Brain | National Institute on Drug Abuse. (2022, March 22). National Institute on Drug Abuse. https://nida.nih.gov/publications/drugs-brains-behavior-science-addiction/drugs-brain

MSEd, K. C. (2022, January 3). What Is a Euphoric Mood? Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-a-euphoric-mood-5212790

Euphoria. (2007, June 3). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Euphoria

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Waspada! Dampak Euphoric Mood Bagi Kesehatan Mental — DeepTalk