Deeptalk.co.id – Trauma dumping sering dijadikan sebagai cara untuk menghindari rasa sakit atau sakit hati yang muncul akibat trauma pemrosesan. Ini juga bisa menjadi cara untuk melepaskan semua emosi dan stres yang muncul karena menjadi penyintas trauma. Namun, apapun alasannya, trauma dumping bukanlah cara yang sehat dan perlu beberapa strategi untuk menghentikan ini.
Anda perlu menghentikan kebiasaan trauma dumping karena ini dapat merusak hubungan dan membuat kedua belah pihak merasa lebih terluka dan sendirian. Meskipun terkadang orang berbagi terlalu banyak dalam upaya untuk mendapatkan simpati atau validasi dari orang lain. Penting untuk diingat bahwa Anda perlu memperhatikan bagaimana Anda membagikan pengalaman Anda.
Trauma dumping dimungkinkan untuk secara tidak sengaja dapat menyakiti atau memicu seseorang dengan berbagi terlalu banyak terlalu cepat. Pada akhirnya, berbicara dengan terapis mungkin merupakan cara terbaik untuk memproses pengalaman yang menyakitkan dan mempelajari keterampilan koping yang lebih baik. Tidak ada cara yang salah untuk mengatasi trauma, selama Anda menjaga diri sendiri dan tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain dalam prosesnya.
Berbicara tentang trauma itu sendiri bukanlah perilaku yang berbahaya. Bahkan, itu mungkin perlu. Namun, konteks adalah kunci ketika mengevaluasi apakah berbagi tentang pengalaman traumatis kondusif untuk penyembuhan dan aman bagi semua orang yang terlibat. Termasuk pada trauma dumping yang berlebihan akan merugikan kedua belah pihak, dan berikut adalah beberapa strategi untuk menghentikan kebiasaan tersebut.
Evaluasi Keadaan Diri Sendiri

Sebagai langkah awal dalam proses menghentikan trauma dumping, Anda dapat mengevaluasi kembali apakah perilaku yang Anda lakukan selama ini membahayakan atau tidak. Anda dapat bertanya pada diri sendiri, seperti
Bagaimana kebiasaan berbagi saya dapat memengaruhi orang lain?
Mengapa saya membagikan pengalaman ini? Apakah karena saya memiliki hubungan saling percaya dengan orang ini atau karena saat ini terasa menyenangkan?
Sudahkah saya memberi orang lain kesempatan untuk berbagi?
Sudahkah saya memberi orang lain kesempatan untuk keluar dari percakapan ini?
Apakah mereka tampak nyaman dengan topik ini?
Pernahkah mereka memberi tahu saya bagaimana perasaan mereka tentang topik ini di masa lalu?
Dengan menanyakan diri Anda melalui beberapa contoh pertanyaan tersebut, ini bisa menjadi langkah untuk memikirkan kembali apakah perilaku Anda sudah tepat atau belum. Sehingga ini menjadi langkah preventif atau pencegahan dan menghentikan trauma dumping. Lalu jika Anda sudah memutuskan sudah waktunya untuk mengonfigurasi ulang cara Anda berbagi tentang trauma, Anda bisa mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Baca juga: Mengungkap Asal Usul dan Munculnya Rasa Takut
Menumbuhkan Mindfulness
Mindfulness atau perhatian penuh pada kondisi diri Anda, yakni dengan mempertimbangkan kembali emosi atau pemicu apa yang mendorong trauma dumping. Selain itu, menumbuhkan mindulness dapat membantu Anda mudah memahami perasaan atau emosi yang Anda alami, sehingga tidak perlu melibatkan orang lain untuk mengatasi perasaan tersebut. Ini dapat membantu mengurangi dorongan untuk trauma dumping jika perilaku tersebut menutupi lebih banyak emosi yang tidak menyenangkan.
Jangan Memendam Emosi

Meskipun Anda harus menghentikan trauma dumping, bukan berarti Anda harus memendam emosi Anda dan tidak bisa membagikannya lagi. Sudah banyak ahli yang mengatakan bahwa ada beragam hal buruk yang terjadi pada kesehatan mental Anda jika terlalu sering memendam emosi.
Oleh karenanya, lakukan alternatif lain untuk melepaskan isi perasaan atau emosi Anda. Yaitu bisa dengan menulis jurnal, melukis atau melakukan olahraga. Melampiaskan emosi adalah hal yang sehat dan diperlukan jika hal tersebut tidak dilakukan secara berlebihan.
Menjalin Komunikasi yang Sehat
Trauma dumping memang menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membagikan perasaan demi mengurangi tekanan yang dialami. Juga trauma dumping bisa Anda sebut juga sebagai salah satu cara untuk berkomunikasi. Namun tetap saja, ini bukanlah cara yang sehat.
Anda mungkin merasa komunikasi adalah kesempatan sempurna untuk membuka diri, namun bertanya juga menjadi cara terbaik untuk memahami hal yang sama. Anda bisa mencoba untuk mengkomunikasikannya terlebih dahulu dengan lawan bicara Anda sebelum membagikan perasaan Anda. Dan inilah yang dimaksud mengkomunikasikan perasaan dengan cara yang sehat, alih-alih melakukan trauma dumping.
“Tidak ada tekanan untuk mengatakan iya. Tetapi ini mengingatkan saya pada sesuatu yang pribadi dan intens. Apakah Anda keberatan jika saya membagikannya?”
Tidak ada salahnya untuk membagikan perasaan, mengingat menyimpan trauma sendirian juga sangat membahayakan. Bicaralah dengan seseorang yang Anda percayai tentang apa yang Anda alami. Ini dapat membantu Anda memproses perasaan Anda dan dapat mencegah perasaan kewalahan.
Memperjelas Batasan

Menciptakan dan menegakkan batasan yang jelas adalah cara yang bagus untuk belajar tentang melindungi kesehatan emosional Anda sendiri dan menghormati batasan orang lain. Termasuk untuk memilah-milah orang atau lawan bicara yang berhak mendengarkan keluh kesah Anda sehingga tidak sembarangan melakukan trauma dumping. Pun meskipun lawan bicara Anda termasuk salah satu orang terdekat Anda, Anda juga perlu untuk memperjelas batasan dirinya jika Anda juga ingin dihormati batasan milik Anda sendiri.
Menemui Terapis
Anda mungkin mendengar bahwa Anda tidak boleh berbicara tentang trauma dengan orang yang tidak memenuhi syarat untuk menanganinya. Atau Anda harus benar-benar menemui terapis tentang hal itu. Itu benar, dan menemui terapis menjadi salah satu jalan untuk menghentikan kebiasaan trauma dumping.
Terapis dapat dan memang memberikan dukungan yang bermanfaat dan diperlukan ketika Anda memproses trauma. Berbicara dengan terapis berbeda dengan berbagi dengan orang tersayang yang telah Anda kenal selama bertahun-tahun. Meskipun sahabat Anda mungkin tidak terlatih untuk memberikan terapi trauma, dukungan emosional yang dapat mereka berikan (jika tersedia secara emosional) juga dapat membantu proses penyembuhan.
Baca juga: Penjelasan Psikologis Mengapa Penolakan Terasa Menyakitkan
Sumber:
What is Trauma Dumping? (2023, June 5). Charlie Health. https://www.charliehealth.com/post/what-is-trauma-dumping
Telloian, C. (2022, July 7). Trauma Dumping: Why Considering the Impact of Oversharing Matters. Psych Central. https://psychcentral.com/health/trauma-dumping
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



