Semua artikel
Relationship

Toxic Relationship dan Efek Kesehatan Mental Bagi Perempuan

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Setiap orang pasti menginginkan untuk memiliki hubungan yang sehat dengan pasangannya. Namun, tidak memungkiri juga pada beberapa orang mengalami hubungan yang toxic sehingga menimbulkan korban perasaan pada salah satu pihak. Terutama korban toxic relationship yang didominasi perempuan sehingga memberikan efek bagi kesehatan mental mereka.

Pada kasus toxic relationship, pelaku seringkali melakukan penyalahgunaan emosional hingga melakukan kekerasan fisik pada pasangannya. Kekerasan dan pelecehan baik fisik maupun emosional tersebut dapat memberikan dampak panjang pada kesehatan mental korbannya. Ini pun akan memengaruhi perasaan mereka, dimana korban akan merasa tidak berdaya, rendah diri hingga kehilangan self-esteem.

Pada artikel kali ini, kami akan membahas secara rinci mengenai dampak toxic relationship bagi kesehatan mental korban yang didominasi oleh perempuan. Hal ini diharapkan dapat membantu korban untuk memahami betapa seriusnya situasi yang mereka alami. Serta dapat membantu mereka untuk segera mencari dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk keluar dari situasi tersebut.

Efek Toxic Relationship Bagi Kesehatan Mental Korban

Man and woman having a fight at home

Akibat adanya pemerataan pemahaman persepsi sosial dan budaya di lingkungan masyarakat, perilaku kekerasan pada suatu hubungan yang melibatkan perempuan sebagai korban dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, masalah ini adalah hal yang serius untuk ditanggapi karena dampaknya yang membahayakan bagi korban. Dalam jangka waktu yang panjang, toxic relationship yang menjalar hingga menjadi hubungan kekerasan pada pasangan akan memberikan efek pada kesehatan mental dan fisik korbannya.

Gunnur Karakurt, dalam jurnal penelitiannya pada tahun 2014 menyebutkan setidaknya ada 4 gangguan kesehatan mental sebagai akibat dari hubungan yang tidak sehat yang dialami oleh korban perempuan. Diantara ke-empat gangguan kesehatan mental tersebut yakni sebagai berikut :

Depresi

Salah satu efek merugikan utama dari kekerasan terhadap perempuan adalah kemungkinan adanya peningkatan terjadinya depresi klinis. Perempuan sebagai korban dari pemukulan fisik oleh laki-laki lebih mungkin empat kali lipat mengalami depresi hingga mencoba untuk bunuh diri dibandingkan dengan perempuan yang tidak menjadi korban. Selain itu, tingkat keparahan depresi akan menurun seiring dengan perilaku kekerasan yang mereka terima berhenti.

Seseorang yang menderita depresi akan merasakan dampak negatif pada tidurnya hingga mengalami perubahan yang mengkhawatirkan pada nafsu makan, tingkat energi, dan kemampuan untuk berfungsi. Selain itu, depresi pada akhirnya dapat memunculkan ide untuk bunuh diri beserta upayanya untuk mengakhiri hidup.

Baca juga: Inilah yang Membedakan Self-Love dengan Narsisme

Post-Trauma Stress Disorder (PTSD)

PTSD atau gangguan stres pascatrauma merupakan masalah kesehatan mental lainnya yang sering dilaporkan oleh perempuan yang mengalami kekerasan pada toxic relationship. Sebuah riset menunjukkan 40-60% perempuan sebagai korban kekerasan menderita PTSD. Selain itu, perkembangan PTSD juga sangat mungkin terjadi pada korban kekerasan seksual.

Beberapa korban kekerasan memiliki sejumlah gejala PTSD, tetapi tidak sepenuhnya memenuhi kriteria diagnostik lengkap untuk diagnosis formal PTSD. Ini menandakan adanya peningkatakn trauma dan kecemasan pada perempuan yang menjadi korban kekerasan dibandingkan dengan mereka yang tidak. Sejauh mana korban mengembangkan PTSD atau gangguan kecemasan lainnya tergantung pada tingkat keparahan dan paparan pelecehan yang diterima.

Perkembangan PTSD melibatkan paparan stresor traumatis (kekerasan), diikuti dengan ketakutan akan keselamatan seseorang serta rasa tidak berdaya untuk mengendalikan situasi. Beberapa gejala umum PTSD yakni seperti mengalami kembali peristiwa tersebut melalui kilas balik dan mimpi buruk, menghindari untuk mengingat peristiwa tersbeut, mati rasa secara emosional dan peningkatan gairah fisik (misal respon kaget yang meningkat atau kesulitan tidur).

Penyalahgunaan Zat

Korban kekerasan pada toxic relationship yang selamat lebih cenderung menggunakan obat-obatan dan alkohol sebagai coping mechanism mereka. Mereka kerap menerima resep obat lebih banyak hingga menjadi ketergantungan daripada perempuan yang tidak menjadi korban.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dengan 71 tempat penampungan kekerasan dalam rumah tangga untuk wanita di Carolina Utara, 47% persen tempat penampungan melaporkan 26 hingga 50% perempuan di tempat penampungan mereka memiliki masalah pada penyalahgunaan zat dan obat-obatan, dan 24% melaporkan lebih dari 50% klien mereka memiliki masalah pada penyalahgunaan zat. Studi lain pun menunjukkan adanya peningkatan dalam penggunaan alkohol di antara korban kekerasan.

Self-Esteem yang Rendah

Korban kekerasan yang terjadi pada hubungan yang tidak sehat cenderung menjadi merasa bersalah, malu serta menyalahkan diri sendiri karena telah dilecehkan. Hal tersebut dapat berkontribusi pada timbulnya citra diri negatif pada korban dan cenderung mengambil langkah untuk menghindar dan keluar dari hubungan yang kasar.

Kerusakan self-esteem juga dapat terjadi jika orang lain, bahkan ahli profesional menyalahkan korban karena tidak bisa mencegah pelecehannya. Jenis reaksi sosial negatif ini mungkin terkait dengan beberapa masalah kesehatan mental seperti depresi atau anxiety yang umum terjadi pada korban kekerasan dalam toxic relationship.

Baca juga: Apakah Anak Boleh Diberikan Hukuman Saat Melakukan Kesalahan?

 

Sumber:

Karakurt, G., Smith, D., & Whiting, J. (2014). Impact of Intimate Partner Violence on Women’s Mental Health. Journal of family violence, 29 (7), 693–702. https://doi.org/10.1007/s10896-014-9633-2

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Toxic Relationship dan Efek Kesehatan Mental Bagi Perempuan — DeepTalk