Semua artikel
Perilaku

Toxic Productivity: Ketika Gen Z Terjebak dalam Budaya Harus Selalu Produktif

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Gen z adalah generasi yang memasuki usia produktif untuk saat ini. Tidak heran jika mereka mulai mendominasi di lingkungan sosial. Mulai dari lingkungan pendidikan, dunia kerja, hingga komunitas, gen z mulai mendominasi di dalamnya. Usia produktif ini memang perlu untuk dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal masa tua. Sayangnya, tidak sedikit gen z yang justru terjebak dalam toxic productivity.

Lantas, seperti apa toxic productivity dan apa yang memicu gen z mengalami toxic productivity? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai toxic productivity pada gen z. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Toxic Productivity?

Female entrepreneur preparing report to deadline

Menjadi individu yang produktif memang merupakan hal baik. Dalam banyak kondisi, produktif justru membantu seseorang untuk tumbuh lebih positif. Sayangnya, segala sesuatu yang berlebihan tentu mendatangkan dampak negatif. Termasuk produktif yang berlebihan atau dikenal dengan istilah toxic productivity.

Toxic productivity merupakan fenomena yang banyak dialami oleh para gen z (generasi yang lahir pada tahun 1997-2012). Toxic productivity sendiri mengacu pada aktivitas produktif yang berlebihan, sehingga mengabaikan waktu istirahat, hobi, dan tidak jarang mengorbankan kesehatan mental maupun fisik.

Baca juga: Loneliness Epidemic: Kesepian di Era Digital dan Pengaruhnya pada Gen Z

Faktor Pemicu Toxic Productivity Pada Gen Z

Stressed female entrepreneur in creativity crisis

Fenomena toxic productivity dikalangan gen z ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari tekanan sosial, budaya kerja yang kompetitif, hingga ekspektasi pribadi yang begitu tinggi. Tentu saja hal tersebut berdampak pada resiko terganggunya kesehatan mental dan fisik, serta hubungan sosial yang tidak sehat.

Tekanan sosial dan media sosial

Gen z memiliki kelekatan tersendiri dengan media sosial. Hampir tidak ada gen z yang tidak mengenal media sosial. Bahkan banyak diantaranya yang mengalami ketergantungan dalam penggunaan media sosial. Sayangnya, media sosial sering menampilkan citra kesuksesan dan produktivitas yang tidak realistis. Paparan hal semacam itu akan mendorong seseorang untuk meningkatkan produktivitas mereka sampai pada batas yang tidak sehat.

Budaya kerja yang kompetitif

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memilih pekerjaan yang lebih stabil, gen z cenderung lebih menyukai tantangan. Maka tidak heran jika tercipta budaya kerja yang kompetitif di kalangan gen z. Selain itu, gen z tidak hanya bersaing dengan sesama mereka, melainkan juga dengan teknologi yang ada. Hal tersebut membuat gen z merasa perlu selalu berbuat lebih agar tidak tertinggal oleh lingkungannya.

Ekspektasi pribadi yang tinggi

Banyak gen z yang menetapkan standar tinggi untuk dirinya sendiri. Walaupun hal tersebut membuat seseorang memiliki semangat untuk produktivitas mereka. Sayangnya, tidak jarang justru menyiksa dirinya sendiri. Gen z merasa bahwa mereka harus memanfaatkan setiap momen untuk mencapai tujuan mereka. Walaupun hal tersebut akan mengabaikan waktu istirahat, hobi, dan kesehatan mereka.

Dampak Toxic Productivity Pada Gen Z

Top view portrait of woman lying at desk near the laptop

Menjadi produktif memang penting untuk gen z. Namun tentu tidak berlebihan. Toxic productivity justru memberikan banyak sekali dampak negatif bagi gen z. Berikut dampak toxic productivity yang bisa dialami oleh gen z:

Dampak toxic productivity terhadap kesehatan mental

Toxic productivity bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mental gen z. Menjadi produktif secara berlebihan bisa memicu kelelahan mental, stress, dan kecemasan. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, stress kronis, hingga depresi.

Dampak toxic productivity terhadap kesehatan fisik

Tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental, toxic productivity juga bisa memicu berbagai masalah kesehatan fisik. Sudah pasti berlebihan dalam bekerja bisa memicu rasa lelah yang bisa berdampak pada penurunan sistem kekebalan tubuh, dan berbagai penyakit lainnya.

Dampak toxic productivity terhadap hubungan sosial

Toxic productivity membuat gen z bekerja secara berlebihan. Perilaku semacam itu membuat gen z tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dan menjaga hubungan sosialnya. Padahal sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi sosial untuk menjaga kesejahteraan emosional mereka.

Berdasarkan paparan diatas, tentu kita menjadi sadar betapa pentingnya untuk menjaga diri agar tidak terjebak dalam toxic productivity. Maka dari itu, gen z perlu mempelajari cara membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Jika kamu terjebak dalam toxic productivity, dan mempengaruhi kondisi mental. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk memperbaiki pola perilaku tersebut. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan psikolog yang telah berpengalaman di bidangnya.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Mengapa Gangguan Mental Meningkat di Kalangan Gen Z?

 

Sumber:

Avedissian, S. (2020). “Gen Z Is Struggling With Toxic Productivity Now More Than Ever”. GEN-ZiNE. https://www.gen-zine.com/the-gen/post/toxic-productivity. Diakses pada 16 Februari 2025.

Case, T. (2023). Have we entered an era of 'toxic productivity'?. WorkLife. https://www.worklife.news/culture/have-we-entered-an-era-of-toxic-productivity/. Diakses pada 16 Februari 2025.

Moss, J. (2023). Let's End Toxic Productivity. Harvard Business Review. https://www.jennifer-moss.com/media-appearances/lets-end-toxic-productivity. Diakses pada 16 Februari 2025.

Suff, R. (2022). Constant stress and zero tolerance of toxic workplaces: what Gen Z and millennials really think about work. People Management. https://www.peoplemanagement.co.uk/article/1849539/constant-stress-zero-tolerance-toxic-workplaces-gen-z-millennials-really-think-work. Diakses pada 16 Februari 2025.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Toxic Productivity: Ketika Gen Z Terjebak dalam Budaya Harus Selalu Produktif — DeepTalk