Deeptalk.co.id – Disaat Anda mencoba untuk meluapkan isi perasaan dan emosi Anda pada seseorang, Anda mungkin akan mendengar beberapa ungkapan seperti, “Kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun” atau “Kau bereaksi berlebihan” serta “Kau menganggapnya terlalu serius”. Mungkin bagi lawan bicara Anda, ungkapan ini mereka tujukan untuk membantu atau mendorong Anda agar lebih kuat. Namun, umumnya ungkapan dengan frasa semacam itu cenderung memiliki efek sebaliknya karena menyembunyikan benih invalidasi emosi. Perlu diketahui bahwa invalidasi emosi memiliki beberapa tipe dan ini umum terjadi di lingkungan masyarakat.
Invalidasi emosi terjadi ketika seseorang menolak, mengabaikan atau tidak menerima emosi dan perasaan seseorang. Ini menyiratkan pesan bahwa apa yang Anda rasakan itu tidak pantas, tidak pada tempatnya atau tidak layak untuk dipertimbangkan.
Padahal faktanya, setiap manusia bisa menjadi lumpuh atau lemah pada titik tertentu. Entah karena terlalu sibuk dengan masalah yang sedang dihadapi atau tidak tahu bagaimana menghadapi emosi dengan intensitas yang membuat kewalahan. Yang menjadi masalah ialah ketika invalidasi emosi menjadi pola yang berkelanjutan dari waktu ke waktu. Sehingga kemungkinan buruknya invalidasi dengan berbagai tipe ini bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan emosional yang harus dideteksi agar bisa dihentikan secepatnya.
Berikut adalah beberapa tipe invalidasi emosi yang bisa Anda kenali sehingga dapat mencegah terjadinya pelecehan emosional pada diri sendiri maupun orang lain.
1. Meremehkan Keadaan Afektif

Meremehkan emosi, perasaan dan kekhawatiran orang lain adalah tipe invalidasi emosi yang paling umum terjadi. Ketika Anda melihat seseorang sedih, berduka atau khawatir, alih-alih mencoba menempatkan diri Anda pada tempatnya untuk memahami apa yang terjadi pada mereka serta bagaimana perasaan mereka, Anda malah membatasi diri mereka dengan mengatakan bahwa semua itu bukan apa-apa dan itu bukan masalah penting. Anda juga justru meminta mereka untuk berhenti bersedih dan berhenti untuk mengkhawatirkan sesuatu.
Jenis ekspresi ini biasanya menyampaikan gagasan bahwa masalah orang lain tidak begitu penting atau tidak perlu dipertimbangkan. Umumnya, jenis invalidasi emosi ini cenderung terjadi karena kemalasan sederhana, dimana jauh lebih mudah meremehkan keadaan afektif orang lain daripada melakukan upaya mental yang diperlukan untuk menempatkan diri Anda pada tempatnya.
Tentu saja mereka sedang berlarut dalam kesedihan, tetapi meminta mereka untuk meminimalkan masalahnya tidak akan membantunya untuk tetap bertahan.
Baca juga: 5 Alasan di Balik Pentingnya Mengekspresikan Emosi
2. Penolakan Emosional

Penolakan emosional bisa terdengar seperti ketika memberitahu anak bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Mereka akan menghilangkan emosi di balik tangisannya. Atau sesimple frasa “Anda seharusnya tidak merasa seperti itu,” adalah sudah termasuk ke dalam bentuk penolakan emosional.
Tipe invalidasi emosi ini biasanya terjadi karena ketidakmampuan Anda untuk mengatur keadaan afektif diri Anda sendiri dan orang lain. Jika Anda tidak nyaman dengan tampilan emosional tertentu, Anda akan cenderung menolak keberadaannya.
Mungkin memang secara umum penderitaan, rasa sakit atau kesedihan orang lain kerap menimbulkan ketidaknyamanan yang luar biasa bagi mereka yang menyaksikan. Sehingga seringkali Anda atau orang sekitar lainnya tidak dapat memikirkan cara lain untuk menghilangkan perasaan tersebut selain menyangkalnya.
3. Menilai Orang Dari Emosinya

Emosi ada sebagai respons otomatis terhadap situasi yang signifikan. Tidak ada emosi yang baik atau buruk, meskipun ekspresinya tidak memadai. Oleh karenanya, menilai keadaan afektif orang lain dengan ungkapan seperti “Anda terlalu sensitif”, “Anda sangat lemah”, “Itu hal biasa jadi Anda tidak perlu bereaksi seperti itu,” adalah sekian jenis contoh terburuk dari invalidasi emosional.
Ungkapan tersebut tidak akan membantu orang lain dan justru memperburuk ketidaknyamanannya karena seseorang merasa tidak dimengerti atau dihargai. Mereka yang mendapatkan ungkapan tersebut merasa dihakimi dan bahkan dikritik atas apa yang mereka rasakan.
Perlu diingat bahwa emosi itu bukanlah ekspresi kelemahan atau suatu kesalahan karena emosi adalah hal yang manusiawi. Sehingga coba tempatkan diri Anda pada posisi orang yang mengalami suatu emosi, yang mungkin membuat Anda dapat memahami bahwa mereka memiliki cukup alasan untuk bersikap demikian.
4. Mengubah Rasa Emosi

Mengubah emosi seseorang menjadi salah satu tipe invalidasi emosi yang lebih halus. Ini dengan membuat seseorang percaya bahwa mereka tidak merasakan apa yang sebenarnya mereka alami. Mungkin ini menjadi kebiasaan ketika secara umum emosi yang diklasifikasikan negatif adalah hal yang tidak disetujui secara sosial.
Mengubah rasa emosi ini bisa dalam bentuk mengurangi intensitas emosi aslinya seperti, “kamu tidak marah, kamu hanya kesal,”. Atau juga dengan menyembunyikan emosi seperti, “jangan sedih lagi, ayo berbahagia saja!” juga termasuk invalidasi emosi dengan mengubah emosi menjadi suatu hal yang lebih diterima.
Mungkin ada situasi yang meminta Anda untuk menyesuaikan atau mengendalikan emosi agar lebih adaptif. Namun, ketika emosi menguasai Anda, mencoba mengubahnya dengan emosi lain hanya akan membuat Anda semakin tertekan.
5. Mengingkari Hak Untuk Merasa

Dalam hal ini, emosi tidak diminimalkan, tetapi langsung ditolak. Ungkapan “Anda tidak berhak untuk merasa seperti itu” adalah lambang dari tipe invalidasi emosional semacam ini karena menjelaskan kepada orang tersebut bahwa reaksinya sama sekali tidak dapat diterima.
Pesan mendasar yang diterima orang tersebut adalah bahwa dia tidak boleh merasa dengan cara tertentu karena tidak berhak. Ini menjadi sebuah gagasan yang tidak hanya menyampaikan penghinaan tetapi juga keegoisan dan bahkan superioritas. Secara blak-blakan dikomunikasikan bahwa pengalaman emosional orang itu tidak valid karena orang lain mengambil otoritas untuk memutuskan bagaimana perasaannya.
Baca juga: First Born Syndrome dan Sifat Perfeksionisme Pada Anak Sulung, Berbahaya Kah?
Sumber:
Delgado, J. (2022, November 28). ▷ 5 types of emotional invalidation that do a lot of damage. Psychology Spot. https://psychology-spot.com/types-of-emotional-invalidation-examples/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



