Deeptalk.co.id – Mungkin tidak asing bagi kita melihat kebahagiaan orang lain. Namun, pernahkah terpikir olehmu apakah orang tersebut benar-benar bahagia? Atau terlihat bahagia untuk menyembunyikan kesedihan mereka?
Nyatanya, di era digital ini memang banyak orang yang menampakkan kebahagiaan mereka. Namun dengan rapat menyembunyikan kesedihan yang dialami. Dalam beberapa kasus, tidak sedikit dari mereka yang justru mengalami depresi.
Kondisi dimana seseorang selalu tampak bahagia, tersenyum, dan seakan tanpa bebas, namun menyimpan depresi dikenal dengan istilah smiling depression. Walaupun berhubungan dengan masalah kesehatan mental, smiling depression tidak termasuk dalam kategori gangguan mental. Istilah tersebut merupakan istilah yang sedang populer beberapa tahun belakangan ini. Meski demikian, kondisi smiling depression ini memiliki akar psikologi dan klinis yang bisa dijelaskan. Kondisi ini juga bisa berhubungan dengan "atypical depression" atau "high-functioning depression".
Sebagai gen z yang tumbuh beriringan dengan perkembangan teknologi membuat mereka memiliki tekanan untuk selalu tampil sempurnah. Inilah yang salah satu menjadi alasan mengapa banyak gen z yang mengalami kondisi smiling depression.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang smiling depression, khususnya yang sering dialami oleh para gen z. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala smiling depression dan terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Smiling Depression?

Seperti namanya, smiling depression adalah kondisi dimana seseorang tampak tersenyum, atau bahagia, atau mampu menjalani hidupnya tanpa kendala. Namun dibalik senyum dan kebahagiaan itu, mereka menyimpan rasa sedih mendalam atau bahkan sudah dalam kategori depresi.
Kondisi smiling depression membuat seseorang tampak tidak memiliki masalah, dan cenderung menjadi pribadi yang sangat positif. Mereka mampu menyembunyikan segala bentuk gejala depresi yang dirasakan. Sayangnya, kemampuan mereka itulah yang membuat tenaga medis sekalipun sulit untuk mendeteksi adanya gejala depresi. Pada akhirnya, kondisi depresi baru diketahui saat sudah cukup parah dan berdampak besar bagi kehidupan penderitanya.
Walaupun smiling depression tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Namun depresi sendiri merupakan jenis gangguan mental yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Pasalnya, tidak sedikit kasus depresi yang pada akhirnya merenggut korban jiwa. Maka dari itu, kondisi smiling depression bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Terutama tidak untuk menghindari penanganan profesional, walaupun sangat membutuhkannya.
Pada dasarnya yang mengetahui kondisi mental kita adalah diri kita sendiri. Tinggal bagaimana kita mempelajari, dan mengambil tindakan dari segala hal yang dialami. Jika memang dirasa perlu, maka segeralah mencari bantuan profesional.
Baca juga: Efek Love Bombing terhadap Kesehatan Mental Gen Z dan Cara Mengatasinya
Benarkah Gen Z Rentan Mengalami Smiling Depression?

Istilah smiling depression memang pertama kali muncul di awal tahun abad ke-21. Maka dari itu, fenomena ini memang sangat mahsif diperbincangkan di kalangan gen z. Pada kenyataannya, kondisi smiling depression bisa dialami oleh segala generasi. Walaupun, gen z memang menjadi cukup rentan akan smiling depression karena beberapa kondisi berikut:
Tekanan media sosial
Gen z adalah generasi yang memiliki kelekatan khusus dengan teknologi, khususnya media sosial. Media sosial inilah yang dijadikan media untuk pencitraan, membandingkan diri dengan orang lain, hingga mengharapkan pencapaian secara instan. Tanpa disadari banyak gen z yang berlomba-lomba untuk tampak sempurna. Walau pada kenyataannya mengalami kesedihan mendalam. Cukup familiarkan? Benar sekali, kondisi itu cukup mirip dengan penjelasan tentang smiling depression.
Stigma tentang kesehatan mental
Gen z memang generasi yang sudah memiliki kepedulian besar akan kesehatan mental. Nyatanya, perkembangan pengetahuan terkait kesehatan mental juga berkembang pesat. Namun sayangnya, masih banyak gen z yang enggan menceritakan masalah mereka. Mereka memilih untuk menyimpan masalah itu untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya beban yang ditanggung hanya akan menunggu bom waktu untuk meledak.
Tuntutan akademik dan ekonomi
Saat ini gen z sudah mulai membangun karir mereka. Beberapa dari mereka sedang dalam masa menempuh pendidikan setinggi mungkin. Beberapa lainnya sedang berjuang untuk memiliki ekonomi yang stabil. namun, saingan para gen z bukan hanya sesama mereka, atau dengan generasi sebelumnya. Gen z juga bersaing dengan teknologi yang ada. Banyak pekerjaan yang diambil alih oleh teknologi. Kondisi semacam itulah yang membuat para gen z perlu kerja keras untuk memenuhi tuntutan akademik dan ekonomi. Sayangnya, hal tersebut membuat mereka rentan terhadap stress, kecemasan berlebih, dan juga mengalami smiling depression.
Itu dia sedikit penjelasan tentang smiling depression, khususnya yang dialami oleh para gen z. Jika kamu mengalami smiling depression, jangan ragu untuk membuka diri demi kondisi mental yang lebih baik. Jika memang dirasa perlu, kamu bisa meminta bantuan profesional. Salah satunya dengan mengunjungi web deeptalk.co.id. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Love Bombing vs. Cinta Sejati: Cara Membedakan Niat Tulus dan Toksik
Sumber:
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.).
Psychology Today. (2021). Smiling Depression: When You're Depressed But Look Happy. Retrieved from: https://www.psychologytoday.com.
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy. Atria Books.
World Health Organization. (2023). Depression. Retrieved from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/depression.
Mental Health Foundation. (2020). Mental Health in the Digital World – Generation Z Report. Retrieved from: https://www.mentalhealth.org.uk.
Cherry, Kendra. (2022). What Is Smiling Depression? Verywell Mind. Retrieved from: https://www.verywellmind.com.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



