Deeptalk.co.id – Transportasi udara memang merupakan transportasi dengan waktu tempuh yang cukup cepat. Penumpang bisa sampai lebih cepat dibandingkan dengan transportasi darat ataupun laut. Sayangnya, banyaknya kasus kecelakaan transportasi udara seringkali membuat orang-orang memilih alternatif lain. Meski begitu, opsi perjalanan yang satu ini masih cukup banyak digunakan untuk bepergian.
Apakah kamu memiliki ketakutan untuk melakukan perjalanan dengan transportasi udara? Atau kamu pernah melihat seseorang di pesawat terbang yang ketakutan selama pesawat terbang meninggalkan dataran? Bisa jadi itu adalah gejala dari aerophobia.
Untuk lebih jelaskan, kami akan memaparkan penjelasan detail mengenai aerophobia dalam artikel ini.
Pengertian Aerophobia

Aerophobia berasal dari bahasa Yunani yaitu aero yang artinya udara atau gas, dan phobos yang artinya takut. Dengan demikian, aerophobia merupakan kondisi dimana seseorang mengalami rasa takut yang besar saat berada di udara atau terbang. Dalam hal ini, penderita aerophobia umumnya akan takut untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, balon udara, atau helikopter.
Aerophobia juga dikenal dengan istilah pteromerhanofobia, aviofobia, atau aviatofobia. Gangguan yang satu ini masuk dalam kategori fobia spesifik yang cukup sering dialami oleh banyak orang. Penderita aerophobia akan sebisa mungkin menghindari perjalanan dengan transportasi udara. Mereka lebih senang memilih opsi lain seperti transportasi darat atau laut. Walaupun penderita aerophobia bisa memilih opsi transportasi lain, namun di beberapa kondisi transportasi udara tetap menjadi opsi yang paling menghemat waktu. Jika terpaksa menggunakan transportasi udaha, penderita aerophobia akan merasa ketakutan dan kecemasan berlebih terutama saat sudah berada di udara.
Gejala Aerophobia

Penderita gangguan aerophobia akan mulai merasa cemas bahkan sebelum perjalanan berlangsung. Mereka akan dihantui bayangan-bayangan akan kecelakaan atau kegagalan perjalanan mereka. Hal ini tidak jarang membuat mereka mengalami gangguan tidur.
Dalam beberapa kasus, penderita aerophobia bisa mengalami serangan panik saat sudah mulai mengudara. Mereka akan merasa pusing, panas dingin, keringat berlebih, mual, sesak nafas, jantung berdebar lebih kencang, dan mengalami gangguan pencernaan.
Penderita aerophobia juga akan merasa cemas sepanjang perjalanan dan akan meredah saat pesawat sudah kembali mendarat. Walaupun sekilas aerophobia terlihat biasa saja, namun kondisi ini cukup mengganggu. Khususnya bagi mereka yang terpaksa harus selalu melakukan perjalanan dengan transportasi udara.
Baca juga: Mengenal Macam-Macam Gangguan Suasana Hati (Mood Disorder)
Penyebab Aerophobia

Setiap orang tentu memiliki penyebab yang berbeda-beda saat merasakan ketakutannya masing-masing. Meski demikian, pengalaman traumatis dan faktor lingkungan menjadi penyebab seseorang mengalami aerophobia.
Pengalaman traumatis
Seseorang yang pernah mengalami pengalaman traumatis terkait kecelakaan pesawat bisa menjadi penyebab aerophobia. Hal ini termasuk mengalami turbulensi saat pesawat mengudara, menyaksikan berita mengenai kecelakaan pesawat, atau kehilangan orang yang dicintai akibat kecelakaan pesawat.
Lingkungan
Sedangkan faktor lingkungan yang menyebabkan seseorang mengalami aerophobia bisa berupa memiliki keluarga dengan gangguan atau teman dengan gangguan aerophobia bisa meningkatkan resiko yang sama, terutama pada anak-anak. Anak akan mempelajari banyak hal dari orang tua dan orang-orang sekitarnya. Hal ini termasuk apa yang dirasakan orang lain saat hendak melakukan perjalanan udara. Terlebih lagi rasa takut akan dengan sangat jelas digambarkan melalui gerak-gerik dan mimik wajah.
Selain kedua penyebab di atas, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami aerophobia, misalnya pada seseorang yang memiliki jenis fobia lain seperti claustrophobia (takut tempat sempit), acrophobia (takut ketinggian), agoraphobia, dan masih banyak lagi.
Selain itu, kondisi kesehatan fisik juga bisa menjadi faktor pemicu aerophobia, misalnya sinus yang dapat mengakibatkan rasa sakit atau pusing selama mengudara, pilek dan vertigo yang dapat memburuk akibat tekanan yang terjadi saat mengudara, dan penyakit lain yang dapat memburuk selama penerbangan berlangsung.
Tips Mengatasi Aerophobia

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, aerophobia memang cukup sederhana namun sangat mengganggu untuk sebagian besar orang. Untuk itu, gangguan aerophobia bukanlah hal yang baik untuk dibiarkan begitu saja.
Jika kamu masih enggan untuk melakukan perawatan dengan profesional, kamu bisa mencoba untuk melakukan perawatan pribadi untuk mengatasi rasa takut sebelum mengudara. Kamu bisa mencari tahu apa saja mengenai penerbangan, bagaimana cara menggunakan alat-alat keselamatan, apa yang terjadi saat turbulensi, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat kamu lebih siap untuk melakukan perjalanan udara.
Selain itu, kamu juga bisa melatih teknik relaksasi dan praktekkan saat kamu sudah mulai merasa cemas saat mengudara. Kamu bisa belajar melatih pernafasan atau mencari posisi ternyaman saat berada di dalam pesawat. Satu hal yang tidak kalah penting adalah untuk membuang segala pikiran-pikiran negatif mengenai penerbangan, dan coba pikirkan hal-hal indah yang mungkin akan kamu alami di perjalanan tersebut.
Jika kamu sudah mencoba berbagai cara dan belum berhasil, kamu bisa melakukan konsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan secara profesional. Tidak perlu ragu untuk mengunjungi psikolog, karena kamu akan diberikan penanganan sesuai dengan apa yang tubuh dan mental mu butuhkan.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenal Gangguan Xenophobia Apakah Berbeda Dengan Rasisme?



