Deeptalk.co.id – Bebas melakukan apa yang kita inginkan tanpa adanya tekanan, atau bisa bergaul dengan siapa saja, tentu hal yang menyenangkan. Namun, beberapa orang cukup tidak beruntung karena memiliki pasangan yang posesif. Pasangan yang posesif ini cenderung membatasi pergaulan, aktivitas, dan hal-hal lain yang membuat pasangannya tidak bisa merasakan kebebasan.
Perilaku posesif memang banyak menyiksa orang-orang terdekatnya. Perilaku posesif ini juga seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Namun, apakah itu alasan untuk menormalkan hal tersebut? Tentu tidak, orang dengan perilaku posesif bisa membenahi perilakunya dengan banyak hal. Misalnya dengan mengikuti intervensi psikologis.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas strategi psikologis dalam mengelola perilaku posesif pada hubungan interpersonal. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis atau metode penanganan pada gangguan mental tertentu. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Terapi Psikologis untuk Mengurangi Perilaku Posesif
Perilaku posesif biasanya bermula dari rasa takut kehilangan, rasa rendah diri, kecemasan, atau adanya pengalaman traumatis sebelumnya. Maka dari itu, terapi psikologis untuk orang dengan kecenderungan perilaku posesif akan berfokus pada pemahaman akar psikologis dan restrukturisasi pola pikir. Berikut beberapa jenis terapi psikologi yang biasa diterapkan untuk mengurangi perilaku posesif:
Terapi perilaku kognitif
Jenis terapi pertama untuk mengurangi perilaku posesif bisa dengan terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Terapi perilaku kognitif adalah jenis terapi psikologis yang bertujuan untuk merekonstruksi pola pikir dan pola perilaku individu ke arah yang lebih positif. Dalam hal ini, terapi perilaku kognitif membantu individu untuk mengidentifikasi pikiran irasional seperti “pasangan saya pasti meninggalkan saya jika tidak saya awasi”, dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih realistis. Terapi ini juga membantu individu untuk melatih regulasi emosi dan kontrol impuls.
Terapi psikodinamik
Jenis terapi kedua untuk mengurangi perilaku posesif bisa dengan terapi psikodinamik. Terapi psikologi yang satu ini bertujuan untuk membantu penderita untuk menemukan kelegaan dan mencapai solusi. Terapi psikodinamik biasanya diterapkan pada orang dengan kecenderungan perilaku posesif yang dipicu oleh pengalaman traumatis di masa lalu. Terapi ini membantu penderita memahami trauma masa lalu akibat penolakan atau ditinggalkan, dan mengatasinya dengan kesadaran diri.
Konseling psikologi
Individu dengan kecenderungan perilaku posesif juga bisa mengikuti konseling psikologi untuk mengurangi perilaku posesif tersebut. Konseling psikologi dalam hal ini bisa berupa konseling individu, konseling kelompok, dan juga psikoedukasi.
Konseling individu adalah sesi konseling yang dilakukan antar penderita dengan konselor. Sesi ini akan menyediakan ruang aman untuk membicarakan segala hal, termasuk kecemasan, ketidakamanan diri, atau trauma yang memicu perilaku posesif. Konselor juga akan membantu mengembangkan strategi coping adaptif.
Konseling pasangan adalah sesi konseling yang dilakukan antar penderita, pasangan, dan konselor. Pada sesi konseling ini, konselor akan membantu pasangan membangun kepercayaan, menegosiasikan batasan, serta melatih keterampilan komunikasi sehat. Pasangan diajak untuk memahami perbedaan kebutuhan pribadi dan bersama.
Psikoedukasi adalah sesi dimana konselor memberikan edukasi tentang perbedaan cinta sehat dan posesif, serta dampak posesif pada kesehatan mental dan kualitas relasi. Pemahaman ini meningkatkan motivasi perubahan.
Baca juga: Perilaku Posesif dan Gangguan Kepribadian: Hubungan dengan Borderline, Narsistik, dan Dependen
Teknik Komunikasi yang Sehat untuk Mengurangi Perilaku Posesif

Selain mengikuti terapi psikologi, membangun komunikasi yang sehat juga bisa membantu mengurangi perilaku posesif. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membangun komunikasi yang sehat:
I statement (pernyataan “saya” bukan “kamu”)
Cara pertama adalah dengan mengubah pernyataan “kamu” menjadi “saya”. Misalnya mengubah kalimat “kamu bikin aku cemas kalau tidak berkabar”, menjadi “aku cemas jika tidak mendapat kabar darimu”. Perubahan kalimat ini mengurangi kesan menyalahkan, dan justru menunjukan perhatian kepada pasangan.
Active listening (mendengarkan aktif)
Cara kedua dengan lebih aktif mendengarkan pasangan. Dengan begitu pasangan akan merasa lebih dihargai, sehingga mengurangi kebutuhan untuk mengontrol.
Assertive communication
Cara ketiga dengan melatih komunikasi secara asertif, yaitu menyampaikan kebutuhan secara jujur tanpa agresif maupun pasif. Dengan begitu pasangan bisa paham akan yang kita butuhkan, tanpa merasa terkekang.
Negosiasi batasan
Cara keempat adalah dengan melakukan diskusi secara terbuka terkait batasan privasi, ruang personal, dan kesepakatan bersama. Dengan ini, kecemasan akibat ketidakpastian dalam hubungan akan lebih terminimalisir.
Empati dan falidasi
Cara kelima adalah dengan meningkatkan empati dan validasi.Menunjukkan pemahaman terhadap perasaan pasangan tanpa langsung menghakimi. Validasi membuat pasangan merasa aman tanpa harus terus diawasi.
Itu dia beberapa cara dalam mengatasi perilaku posesif. Jika kamu membutuhkan bantuan profesional, cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Posesif sebagai Mekanisme Koping: Upaya Mengatasi Rasa Takut dan Kerentanan Psikis
Sumber:
Beck, J. S. (2011). Cognitive behavior therapy: Basics and beyond (2nd ed.). Guilford Press.
Johnson, S. M. (2019). Attachment theory in practice: Emotionally focused therapy (EFT) with individuals, couples, and families. Guilford Press.
Kabat-Zinn, J. (2015). Mindfulness for beginners: Reclaiming the present moment—and your life. Hachette Books.
Knapp, M. L., & Daly, J. A. (2011). The Sage handbook of interpersonal communication (4th ed.). Sage.
Nichols, M. P., & Davis, S. D. (2020). Family therapy: Concepts and methods (12th ed.). Pearson.
Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist's view of psychotherapy. Houghton Mifflin.
Tannen, D. (2001). You just don’t understand: Women and men in conversation. Ballantine Books.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



