Semua artikel
Perilaku

Shopaholic : Perilaku Belanja yang Tidak Terkontrol

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Kemajuan teknologi mempermudah kita dalam berbagai aspek. Misalnya saja untuk berkomunikasi, mencari informasi, bahkan belanja keperluan sehari-hari. Namun kemudahan tersebut justru membuat kita sulit untuk mengontrol perilaku, contohnya mengontrol perilaku belanja.

Kita dengan mudah menemukan berbagai platform online yang menyediakan berbagai kebutuhan. Kemudahan transaksi dengan hanya menggunakan handphone juga cukup membantu. Namun sayangnya hal ini akan memperburuk orang-orang yang memiliki perilaku belanja tidak terkontrol.

Kondisi dimana seseorang tidak mampu mengontrol perilaku belanjanya dikenal dengan istilah shopaholic. Lantas seperti apa shopaholic itu? Apakah shopaholic hanya sekedar hobi belanja saja, atau bahkan termasuk gangguan mental? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai shopaholic.

Sebelum kita masuk ke pembahasannya utama, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut pembahasan mengenai shopaholic.

Pengertian Shopaholic

Berbelanja memang merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian besar orang, terutama perempuan. Namun, segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik untuk diri kita. Terlebih lagi jika kita tidak bisa mengontrol hal tersebut. Termasuk berlebihan dan tidak bisa mengontrol perilaku berbelanja.

Shopaholic adalah kondisi dimana seseorang memiliki kecanduan berbelanja. Kondisi ini membuat penderita memiliki keinginan untuk terus-menerus berbelanja, tanpa mempedulikan fungsi dari apa yang dibelinya. Selain dikenal dengan istilah shopaholic, kondisi serupa juga dikenal dengan istilah oniomania dan kecanduan berbelanja.

Walaupun sering dianggap sebagai hobi, namun pada dasarnya shopaholic juga merupakan salah satu jenis dari gangguan kontrol impuls. Artinya kondisi ini merupakan bagian dari gangguan mental yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Berbeda dengan orang-orang yang gemar berbelanja pada umumnya, penderita shopaholic bahkan tidak bisa mengontrol perilaku tersebut. Termasuk saat mereka dalam kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja. Bahkan menurut Ruth Engs yang merupakan Profesor Ilmu Kesehatan Terapan dari Universitas Indiana, terdapat kelainan pada otak penderita shopaholic yang berdampak pada perilaku kecanduan berbelanja. Dalam hal ini, penderita shopaholic melepaskan hormon dopamin dan endorfin yang berlebihan saat berbelanja. Hormon tersebut mengakibatkan kebahagiaan, dan berujung pada perilaku adiktif atau kecanduan.

Baca juga : Tips Agar Terhindar Dari Sindrom Sarang Kosong

Penyebab Shopaholic

Kondisi shopaholic tentu tidak terjadi begitu saja. Walaupun belum diketahui penyebab pasti seseorang mengalami shopaholic, namun beberapa faktor berikut dipercaya dapat memicu kondisi shopaholic pada diri seseorang:

Gaya hidup hedonisme

Salah satu faktor pemicu seseorang mengalami shopaholic adalah gaya hidup hedonisme. Istilah hedonisme sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedone yang artinya kesenangan. Jika diartikan secara lebih spesifik, hedonisme adalah gaya hidup yang berfokus untuk mencari kesenangan tanpa batas.

Orang-orang dengan gaya hidup hedonisme cenderung boros untuk bisa memenuhi gaya hidup mereka. Hal ini membuat mereka tidak jauh dari kecenderungan shopaholic, yang berbelanja tanpa bisa terkontrol.

Persepsi human having

Selain gaya hidup hedonisme, kondisi shopaholic juga bisa dipicu oleh persepsi human having. Persepsi human having artinya cara pandang seseorang berdasarkan apa yang dimiliki. Misalnya rumah, mobil, jabatan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan materi.

Orang-orang dengan persepsi human having beranggapan bahwa mereka akan semakin terpandang jika memiliki banyak barang-barang berharga. Hal inilah yang akhirnya memicu perilaku berbelanja yang awalnya biasa saja, menjadi tidak terkontrol atau shopaholic.

Trauma masa lalu

Orang-orang yang memiliki trauma masa lalu juga bisa memicu kondisi shopaholic. Misalnya orang-orang yang semasa hidupnya memiliki ekonomi terbatas, dan akhirnya menderita dengan keadaannya. Saat mereka memiliki sedikit penghasilan, maka mereka akan menghabiskannya dengan berbelanja apa saja yang sebelumnya tidak bisa mereka beli. Hal inilah yang akhirnya membuat mereka menjadi seorang shopaholic.

Kemudahan transaksi

Tidak bisa dipungkiri bahwa kemudahan transaksi juga berperan dalam pembentukan shopaholic pada diri seseorang. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya lagi hambatan untuk membeli gejala barang yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan, hanya dengan menggunakan handphone. Bahkan saat ini kita tidak perlu keluar rumah, dan hanya perlu menanti barang yang kita inginkan di rumah. Kondisi semacam itu membuat kita seakan tidak memiliki filter eksternal yang dapat mengontrol perilaku berbelanja kita.

Iklan di berbagai media

Iklan di berbagai media yang bisa kita saksikan sehari-hari juga bisa membentuk perilaku shopaholic. Dengan hanya membuka handphone, kamu bisa menemukan berbagai macam iklan di media online mengenai barang-barang lucu, yang bahkan terkadang tidak kita butuhkan. Dari iklan yang disajikan secara menarik itulah yang bisa membuat kita terus menerus berbelanja, tanpa bisa terkontrol. Atau yang kita kenal dengan istilah shopaholic.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi shopaholic. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Sindrom Sarang Kosong : Perasaan Kosong yang Rentan Dialami Orang Tua

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Shopaholic : Perilaku Belanja yang Tidak Terkontrol — DeepTalk