Deeptalk.co.id – Diogenes Syndrome, seringkali diidentifikasi dengan individu yang lebih tua, adalah kondisi yang penuh dengan paradoks. Ini melibatkan perilaku yang ekstrem, seperti pengumpulan sampah yang berlebihan, isolasi sosial yang mendalam, dan perawatan diri yang buruk. Namun, ada satu aspek yang mungkin kurang dikenal, yaitu kemampuannya untuk juga memengaruhi orang muda.
Artikel ini akan membedah Diogenes Syndrome dalam konteks orang muda, membongkar apa yang mungkin memicu kondisi ini pada kelompok usia yang lebih muda dan dampaknya terhadap kesejahteraan fisik dan mental mereka. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ini pada orang muda, kita dapat memberikan bantuan yang lebih efektif dan memungkinkan mereka untuk menjalani hidup yang lebih sehat dan bermakna.
Mengenai Diogenes Syndrome

Diogenes syndrome, atau dikenal juga dengan sindrom pengabaian diri adalah suatu bentuk pengabaian diri disertai dengan kebersihan yang buruk, perilaku isolasi sosial dan penimbunan barang yang dapat diakibatkan oleh kemungkinan masalah kesehatan mental, psikologis dan sosial. Ini adalah gangguan yang tidak sehat yang mungkin terjadi secara tidak sadar. Gangguan ini kerap juga dikaitkan dengan demensia atau masalah kesehatan mental mendasar lainnya.
Sindrom Diogenes tidak tercantum dalam daftar Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Kesehatan Mental edisi ke-5 sebagai kondisi psikologis. Hanya ada sedikit penelitian mengenai kondisi ini tetapi tampaknya ada hubungannya dengan demensia dan masalah kesehatan mental lainnya, yang juga menyebabkan kebersihan yang buruk dan pengabaian diri.
Nama sindrom ini diambil dari nama seorang filsuf Yunani Kuno abad ke-4 yakni Diogenes yang tinggal dalam tong. Dia dilaporkan dipandang oleh orang-orang sezamannya sebagai seseorang yang tidak memiliki rasa malu dan hina terhadap organisasi sosial mana pun.
Sindrom Diogenes dapat bersifat primer atau sekunder. Bersifat primer jika kondisi yang muncul tanpa adanya masalah kesehatan mental lainnya yang menjadi pemicunya. Sedangkan sindrom diogenes sekunder berarti akibat dari kondisi kesehatan mental lainnya. Gangguan atau sindrom ini juga dapat memiliki banyak gejala yang mirip dengan masalah kesehatan mental umum lainnya seperti depresi, mania, skizofrenia, OCD (gangguan obsesif-kompulsif), demensia frontotemporal, penimbunan, hingga gangguan penyalahgunaan alkohol.
Penelitian tampaknya masih mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ini. Namun, perkiraan menunjukkan bahwa setidaknya 50% dari seluruh kasus terjadi pada individu yang sebelumnya tidak memiliki masalah kesehatan mental. Beberapa temuan lainnya menunjukkan bahwa diogenes syndrome mungkin disebabkan oleh peristiwa traumatis atau terkait stres, seperti kematian mendadak orang yang dicintai atau kehilangan pekerjaan.
Gaya hidup diogenes syndrome berbeda dari sekadar menimbun karena melibatkan kebersihan yang buruk, kurangnya perawatan diri, isolasi sosial yang ekstrem, dan pengabaian. Yang menyebabkan masa hidup menjadi lebih pendek.
Baca juga: Tips Menghadapi Seseorang Yang Mengalami Erotomania
Seberapa Umumkah Diogenes Syndrome Terjadi?

Diogenes syndrome adalah kelainan perilaku yang bisa terjadi pada pria dan wanita dengan status sosial dan ekonomi apa pun. Namun, biasanya ini menyerang pada mereka yang terbiasa hidup sendiri dan berusia di atas 60 tahun. Jika diperkirakan, sindrom diogenes ini dialami oleh sekitar 1 dari 2.000 orang berusia 60 tahun ke atas yang tinggal di rumah setiap tahunnya. Namun, angka tersebut mungkin lebih tinggi karena diogenes syndrome sering kali tidak diketahui.
Penting untuk dipahami bahwa meskipun Diogenes Syndrome lebih umum terjadi pada populasi lanjut usia, hal ini juga dapat muncul pada individu yang berusia lebih muda. Terutama pada populasi muda, kondisi ini seringkali lebih rumit karena masih dalam tahap perkembangan, dan dampaknya dapat berlangsung jauh ke dalam masa depan. Tanda-tanda kondisi ini pada orang muda dapat mencakup ketidakmampuan untuk menjaga kebersihan diri, pengumpulan barang-barang yang tidak berguna, serta perilaku sosial yang sangat terbatas atau antisosial.
Penyebab Diogenes Syndrome pada orang muda bisa beragam, termasuk pengalaman traumatis, isolasi sosial, gangguan mental, atau bahkan ketidakstabilan dalam lingkungan keluarga. Faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada perkembangan kondisi ini yang kompleks dan menantang.
Sindrom Diogenes tampaknya sama-sama umum terjadi pada pria dan wanita, namun beberapa peneliti menemukan bahwa sindrom Diogenes lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, dan umumnya lebih sering terjadi pada para janda. Juga meskipun sebagian besar kasus yang dilaporkan melibatkan orang-orang yang tinggal sendiri, kasus-kasus juga dilaporkan terjadi pada saudara laki-laki/perempuan yang tinggal bersama dan pada pasangan menikah. Beberapa penelitian melaporkan perempuan yang memiliki anak hidup dalam kondisi mengabaikan diri sendiri.
Diogenes Syndrome mungkin merupakan tantangan yang rumit, tetapi dengan perhatian dan dukungan yang tepat, ada harapan untuk pemulihan dan perbaikan. Peran keluarga, teman, dan tenaga profesional dalam memberikan dukungan dan perawatan yang sesuai tidak boleh diabaikan.
Baca juga: Gangguan Kesehatan Mental yang Berkaitan Dengan Ironic Process Theory
Sumber:
Tidy, C. (2023, July 24). Diogenes Syndrome. Patient. https://patient.info/mental-health/diogenes-syndrome
Stuart, J. (2022, March 18). What is Diogenes syndrome?. NeuroBalance. https://www.myneurobalance.com/articles/2022/3/13/what-is-diogenes-syndrome
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



