Deeptalk.co.id – Smiling depression merupakan salah satu fenomena yang cukup sering dialami oleh para gen z masa kini. Smiling depression adalah sebuah istilah yang bisa terbilang baru. Istilah tersebut pertama kali muncul di awal abad ke-21. Tentunya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang membuat kondisi tersebut dikenali oleh banyak ahli.
Walaupun istilah smiling depression memiliki kata “depression” atau “depresi” di dalamnya. Namun kondisi smiling depression tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Pasalnya, kondisi ini tidak tercantum dalam DSM-5 yang merupakan buku pedoman diagnosis gangguan mental yang digunakan oleh para psikolog dan psikiater dunia.
Terlepas dari apakah smiling depression termasuk gangguan mental atau tidak. Tentu bukan alasan untuk bisa membiarkan kondisi tersebut. Walau bagaimanapun, dalam banyak kondisi smiling depression cukup mempengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Maka dari itu, penting bagi kita mengenali seperti apa kondisi smiling depression itu. Selain itu, kenapa gen z sangat rawan mengalami kondisi tersebut? Artikel kali ini akan secara khusus membahas hal tersebut.
Namun, sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami smiling depression dan terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk mengikuti sesi konsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Smiling Depression

Kondisi saat seseorang terlihat baik-baik saja, tetap tersenyum, dan seakan tanpa beban, namun menyimpan depresi internal di dirinya merupakan gambaran dari kondisi smiling depression. Kondisi semacam ini membuat orang disekitarnya tidak sadar akan depresi yang dialami. Pada akhirnya, sangat mustahil bagi mereka untuk mendapatkan support system dari orang-orang terdekat. Padahal seperti yang kita ketahui, support system adalah penunjang besar bagi seseorang yang sedang dalam fase depresi.
Baca juga: Kalau Kamu Capek Tapi Nggak Kelihatan: Ini Bisa Jadi Tanda Smiling Depression
Penyebab Gen Z Rentan Mengalami Smiling Depression
![]()
Walaupun smiling depression baru ada di awal abad ke-21 yang merupakan waktu bagi para gen z. Namun pada dasarnya kondisi ini bisa dialami oleh generasi apapun. Terlepas dari itu, tidak bisa dipungkiri bahwa gen z memang memiliki case-case khusus yang membuat mereka rentan mengalami smiling depression. Berikut beberapa alasan mengapa gen z rentan mengalami smiling depression:
Tekanan media sosial
Gen z adalah generasi yang hampir mustahil tidak menggunakan sosial media. Bahkan, mengecek sosial media sudah menjadi rutinitas sebagian besar dari mereka. Sayangnya, sosial media juga menjadi tekanan tersendiri bagi para gen z. Misalnya, tekanan untuk selalu tampil sempurna, tekanan untuk selalu tampak bahagia, dan masih banyak lagi. Walaupun semua itu sebenarnya membuat mereka tidak nyaman. Tekanan semacam inilah yang membuat banyak gen z lebih beresiko mengalami smiling depression.
Stigma tentang kesehatan mental
Gen z memang merupakan generasi yang memiliki pikiran terbuka terkait kesehatan mental. Meski demikian, masih banyak diantara mereka yang tidak bisa terbuka terkait apa yang dirasakan. Sayangnya, terlalu menyembunyikan perasaan, terutama perasaan negatif, membuat para gen z lebih beresiko mengalami smiling depression.
Budaya produktif yang berlebihan
Gen z tumbuh di era perkembangan zaman yang sangat pesat. Hal ini membuat mereka tidak hanya bersaing dengan sesamanya, melainkan juga dengan teknologi yang ada. Maka tidak heran jika banyak dari mereka yang berusaha keras untuk terus produktif untuk mencapai apa yang diinginkan. Terutama terkait karir dan pendidikan. Hal semacam ini membentuk budaya produktif yang berlebihan di kalangan gen z. Pada akhirnya banyak diantara mereka yang mengalami stress, depresi, dan salah satunya smiling depression ini.
Kuranya koneksi emosional
Era teknologi memang memungkinkan para gen z untuk terkoneksi dengan banyak orang. Termasuk dengan orang orang-orang di belahan dunia lain. Sayangnya, semua koneksi itu mayoritas dilakukan secara online. Komunikasi secara online ini seringkali meminimalisir koneksi secara emosional. Maka banyak gen z yang memiliki banyak teman, namun tetap merasa kesepian walaupun secara aksi tetap melakukan kegiatan sosial. Cukup familiar bukan? Kondisi tersebut memang tampak mirip dengan smiling depression.
Dampak Smiling Depression Terhadap Kesehatan Mental

Seperti yang dipaparkan di awal, kondisi smiling depression bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, walaupun tidak masuk dalam kategori gangguan mental, namun kondisi ini bisa berdampak pada berbagai masalah kesehatan mental, diantaranya:
· Meningkatkan resiko depresi yang lebih berat, pasalnya penderita smiling depression tidak menunjukan gejala depresi yang membuatnya semakin sulit dideteksi sedini mungkin.
· Kelelahan emosional, walaupun mereka tampak baik-baik saja secara fisik dan produktivitas.
· Kesulitan meminta bantuan, yang artinya akan semakin kecil juga kemungkinan bagi mereka mendapatkan support system.
Itu dia sedikit penjelasan terkait pengertian, dampak, dan alasan kenapa ren z rentan mengalami smiling depression. Jika kamu mengalami kondisi serupa, jangan ragu untuk mendapatkan bantuan profesional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Tersenyum Tapi Terluka: Fenomena Smiling Depression di Kalangan Gen Z
Sumber:
American Psychological Association (APA). (2019). Stress in America: Stress and Current Events. https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2019/stress-america-2019.pdf
Psychology Today. (2021). Smiling Depression: Why People Hide Their Depression.
https://www.psychologytoday.com/us/blog/urban-survival/202101/smiling-depression-why-people-hide-their-depression.
World Health Organization (WHO). (2021). Depression. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/depression
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today's Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy--and Completely Unprepared for Adulthood. New York: Atria Books.
Mental Health Foundation UK. (2020). The Impact of Social Media on Young People’s Mental Health. https://www.mentalhealth.org.uk/explore-mental-health/publications/impact-social-media-young-people.
National Alliance on Mental Illness (NAMI). (2022). High-Functioning Depression and Smiling Depression. https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/July-2022/High-Functioning-Depression-and-Smiling-Depression.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



