Deeptalk.co.id – Tahukah kamu bahwa persentase seseorang mengalami toxic relationship itu meningkat setiap generasi. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh aplikasi kencan online Bumble pada tahun 2022, sebanyak 70% gen z pernah terjebak dalam toxic relationship. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dimana terdapat 60% generasi milenial mengalami toxic relationship, dan 50% generasi x mengalami toxic relationship.
Apa sebenarnya yang membuat gen z mengalami lebih banyak toxic relationship dibandingkan dengan generasi sebelumnya? Bukankah gen z seharusnya bisa belajar dari generasi sebelumnya agar tidak terjebak dalam situasi yang sama? Selain itu, gen z juga bisa dengan mudah mengakses informasi terkait kondisi tersebut. Dengan demikian, toxic relationship seharusnya bisa diantisipasi. Namun, mengapa persentase toxic relationship pada gen z justru lebih tinggi? Artikel kali ini akan menjawab semua pertanyaan tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan acuan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi, dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Toxic Relationship

Sebelum kita masuk pada pembahasan lebih dalam, kita perlu tahu dulu apa sebenarnya toxic relationship itu. Jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia, toxic relationship berarti hubungan beracun. Maksudnya, toxic relationship merupakan kondisi dimana seseorang menjalin hubungan yang tidak sehat, atau saling menyakiti satu sama lain. Toxic relationship umumnya terjadi pada hubungan asmara. Namun, kondisi serupa tidak jarang juga dialami dalam hubungan pertemanan, rekan kerja, keluarga, dan lain sebagainya.
Terjebak dalam toxic relationship sering kali membuat seseorang sulit untuk keluar. Kondisi tersebut menciptakan ikatan tersendiri satu sama lain. Meski begitu, ikatan yang terjalin tidak sehan, dan justru saling menyakiti. Toxic relationship tidak hanya menyakiti secara fisik, namun juga secara emosional dan juga psikologis. Maka tidak heran jika korban dari toxic relationship ini sering ditemukan mengalami masalah fisik, emosi, dan juga psikologis. Toxic relationship sering dianggap sederhana bagi beberapa orang. Namun, perlu diingat bahwa dampak dari toxic relationship bukan hal yang bisa dianggap sepele.
Baca juga: Benarkah Meditasi Bisa Mengatasi Burnout?
Penyebab Toxic Relationship Pada Gen Z

Penyebab toxic relationship pada dasarnya bisa berbeda-beda setiap orang. Namun secara umum, berikut beberapa faktor penyebab toxic relationship yang dialami oleh gen z:
Pengalaman masa lalu
Faktor penyebab toxic relationship pada gen z pertama adalah adanya pengalaman di masa lalu. Pengalaman dalam hal ini berupa pengalaman buruk atau tidak menyenangkan. Misalnya pada mereka yang pernah menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual. Orang yang pernah menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual akan beresiko terjebak dalam toxic relationship. Khususnya bagi mereka yang tidak mendapatkan penanganan akan kondisi traumanya.
Ketergantungan
Faktor penyebab toxic relationship pada gen z kedua adalah ketergantungan berlebih terhadap pasangannya. Ketergantungan dalam hal bisa bisa dipicu oleh beberapa kondisi. Misalnya mereka yang sudah tidak memiliki keluarga, dan pada akhirnya terlalu terikat dengan pasangannya. Bisa juga seseorang yang tergantung secara ekonomi dengan pasangannya. Kondisi semacam itu akan beresiko membuat seseorang terjebak dalam toxic relationship.
Pengaruh media sosial
Faktor penyebab toxic relationship pada gen z ketiga adalah pengaruh media sosial. Seperti yang kita ketahui bahwa gen z memang sangat erat kaitannya dengan media sosial. Sayangnya, dalam beberapa kondisi sosial media memang bisa mendatangkan masalah bagi penggunanya. Walaupun, media sosial diciptakan justru untuk membantu manusia.
Toxic relationship memang bisa dipicu oleh adanya media sosial. Dalam hal ini, media sosial memang digunakan banyak orang untuk banyak alasan. Salah satunya untuk menunjukan kemesraan dengan pasangan. Hal itulah yang terkadang menjadi patokan banyak orang, dan menuntut pasangannya untuk bisa seperti pasangan-pasangan lain di sosial media. Padahal, tidak ada satupun pasangan yang sempurna. Termasuk apa yang kita saksikan di media sosial.
Kurangnya komunikasi
Faktor penyebab toxic relationship pada gen z keempat adalah kurangnya komunikasi. Faktor yang satu ini memang cukup disayangkan. Pasalnya, perkembangan teknologi yang dinikmati gen z seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan komunikasi. Meski demikian, terkadang teknologi justru mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Hal inilah yang sering kali membuat para gen z memiliki komunikasi yang minim orang orang-orang terdekatnya. Kurangnya komunikasi tidak hanya memicu toxic relationship. Melainkan juga menimbulkan kesalahpahaman, dan meningkatkan resiko ketidakharmonisan.
Itu dia penjelasan mengenai toxic relationship yang dialami oleh gen z. Dapat disimpulkan bahwa, walaupun gen z hidup di era perkembangan teknologi. Bukan berarti mereka bebas dari berbagai masalah kehidupan. Justru ada saja faktor-faktor yang memicu retaknya hubungan dan menimbulkan toxic relationship. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Dampak dan Cara Mengatasi Burnout Pada Gen Z
Sumber:
Andayani Praptiningsih, N., & Kumari Putra, G. (2021). Toxic Relationship Dalam Komunikasi Interpersonal Di Kalangan Remaja.
Cera Keny, W., Febrian Syahputra, R., & Pratomo, D. R. (2023). Pengalaman Toxic Relationship dan Dampaknya Pada Kalangan Generasi Muda.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



