Deeptalk.co.id – Dalam kompleksitas kisaran emosi manusia, satu perasaan yang seringkali menarik perhatian adalah rasa jijik. Ketika dihadapkan dengan situasi atau objek tertentu, manusia cenderung merasakan sensasi tidak nyaman dan sering kali menghindari atau menolaknya. Rasa jijik, seiring dengan perasaan emosional lainnya, menjadi bagian integral dari evolusi dan pengalaman manusia.
Dalam artikel ini, kita akan menyelidiki dan menguraikan alasan di balik fenomena psikologis ini, merinci faktor biologis, psikologis, dan sosial yang membentuk kompleksitas perasaan jijik dan bagaimana hal tersebut mencerminkan adaptasi manusia terhadap lingkungan sekitarnya.
Tentang Emosi Jijik

Rasa jijik merupakan pengalaman umum dan memiliki banyak deskripsi berbeda dalam bahasa sehari-hari. Secara universal, emosi jijik muncul sebagai perasaan tidak suka terhadap sesuatu yang menyinggung, menjijikkan, atau beracun. Orang menggambarkan emosi jijik ini sebagai perasaan yang keji atau tidak mengenakkan dan menjijikkan.
Kebanyakan orang membenci hal yang menjijikkan. Ketika rasa jijik ini bercampur dengan rasa takut, hal ini dapat disebut “heebie-jeebies” dan dapat menyebabkan menggigil dan sensasi kesemutan. Secara fisik, emosi jijik dapat menurunkan tekanan darah, menyebabkan rasa tidak nyaman di perut, dan menyebabkan otot-otot di wajah menegang sehingga menunjukkan ciri khas ekspresi wajah yang merasa jijik.
Rasa jijik menyebabkan dorongan kuat untuk menghindari sesuatu yang kotor dan keinginan untuk mencegah penyebaran kekotoran tersebut ke tempat lain. Hal ini mengindikasikan emosi jijik sebagai pelindung dari hal-hal yang membuat individu sakit, seperti makanan busuk dan produk limbah. Selain itu, emosi jijik juga memiliki fungsi lain seperti melindungi dari bahaya, sebagai pedoman moral dan menjauhkan diri dari hal-hal yang mungkin beracun.
Rasa jijik dapat dipicu oleh hal-hal yang kita rasakan dengan indra fisik kita, oleh tindakan atau penampilan orang, dan bahkan oleh gagasan. Ini juga bisa ditujukan pada diri sendiri, dan bisa menjadi emosi kuat yang perlu diatasi dalam terapi.
Baca juga: Seperti Inilah Proses Perubahan Emosional Pada Perasaan Cinta
Mengapa Kita Bisa Merasa Jijik?

Rasa jijik pada dasarnya tidak disukai. Anda tidak mungkin memiliki perasaan tidak menyukai apa pun tanpa sedikit pun rasa jijik. Meskipun rasa jijik tidak disukai, rasa jijik mempunyai peran penting dalam menjaga keselamatan orang.
Rasa jijik bertujuan untuk melindungi diri dari hal-hal yang dapat membuat sakit, seperti makanan busuk dan produk limbah. Orang-orang muak dengan kematian, makanan asing, binatang, serangga, pantangan seksual, dan cedera tubuh yang merusak tubuh seperti patah tulang. Anda mungkin bisa memikirkan berbagai cedera olahraga, makanan, dan hewan yang secara pribadi membuat Anda merasa jijik.
Yang membuat segalanya menjadi lebih rumit adalah Anda juga bisa merasa muak dengan hal-hal yang menyentuh hal-hal yang Anda anggap menjijikkan. Ketika sesuatu yang biasanya tidak menimbulkan rasa jijik menyentuh sesuatu yang berhubungan dengan rasa jijik, Anda mengatakan bahwa benda atau permukaan tersebut terkontaminasi.
Secara umum, segala sesuatu yang terkontaminasi bisa menjadi pemicu rasa jijik. Karena sesuatu yang berhubungan dengan rasa jijik dapat menyentuh apa pun, seseorang dapat mempelajari reaksi rasa jijik terhadap apa pun.
Dengan demikian, pemicu universal rasa jijik adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang menyinggung, beracun, atau mencemari. Anda bisa merasa jijik terhadap sesuatu yang kita rasakan dengan indra fisik kita (penglihatan, penciuman, sentuhan, suara, rasa), terhadap tindakan dan penampilan orang, dan bahkan terhadap gagasan. Beberapa pemicu rasa jijik bersifat universal (seperti bertemu dengan produk tubuh tertentu) sedangkan pemicu lainnya lebih dipengaruhi oleh budaya dan individu (seperti jenis makanan tertentu).
Ada perdebatan yang sedang berlangsung dalam komunitas ilmiah mengenai apakah bentuk-bentuk rasa jijik antarpribadi dan sosial tertentu (merasa muak dengan penampilan, tindakan, ide, atau kedudukan sosial orang lain) merupakan hal yang dipelajari dan bersifat spesifik budaya, atau apakah bentuk rasa jijik tersebut ada dalam beberapa bentuk di semua budaya. Misalnya, setiap orang mungkin memiliki reaksi jijik terhadap orang yang “tercemar secara moral”, namun apa yang dianggap “tercemar secara moral” mungkin berbeda-beda di setiap budaya.
Anak-anak dan remaja sering kali memiliki ketertarikan terhadap rasa jijik seperti halnya sebagian orang dewasa (termasuk menganggap hal-hal menjijikkan itu lucu dan/atau membuat penasaran). Namun, bagi anak kecil, rasa jijik baru mulai berkembang antara usia empat dan delapan tahun. Sebelum perkembangan emosi itu, anak mengalami ketidaksukaan, penolakan terhadap hal-hal yang rasanya tidak enak, namun bukan rasa jijik.
Penelitian tambahan menunjukkan bahwa anak-anak tidak merasa terganggu oleh beberapa hal yang dianggap menjijikkan oleh orang dewasa (misalnya, memakan sebatang coklat yang berbentuk seperti kotoran anjing). Salah satu teorinya adalah ketika kita masih muda, kita belum memiliki kapasitas kognitif yang diperlukan untuk bentuk-bentuk rasa jijik tertentu.
Baca juga: Menumbuhkan Keterampilan Sosial Anak di Tengah Perkembangan Gadget
Sumber:
https://www.austinanxiety.com/accepting-difficult-emotions-part-4-disgust/
https://www.paulekman.com/universal-emotions/what-is-disgust/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



