Deeptalk.co.id – Manipulasi adalah upaya seseorang dalam mengendalikan, mempengaruhi, atau memanfaatkan orang lain demi memenuhi kepentingan pribadi. Perilaku manipulasi ini sebenarnya ada di sekitar kita. Hanya saja, hanya sebagian kecil orang yang sadar akan perilaku tersebut. Pasalnya, pelaku manipulasi ini adalah sosok yang cerdik dalam menyembunyikan maksud terselubungnya.
Perilaku manipulasi ini bisa kita jumpai dalam hubungan romantis, lingkungan kerja, dan masih banyak lagi. Dari semua pelaku manipulasi, pernahkah terbayang bagaimana jika pelaku manipulasi ini adalah seorang anak kecil kepada orang tua atau orang dewasa? Nyatanya, hal tersebut mungkin saja terjadi. Dimana seorang anak mempengaruhi orang dewasa untuk memenuhi keinginan mereka.
Lantas, bagaimana bisa seorang anak memanipulasi orang dewasa? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan mengetahui penanganan tepat apa yang bisa diaplikasikan.
Bagaimana Anak Bisa Memanipulasi Orang Dewasa?

Usia anak adalah usia dimana individu akan belajar dan menyerap banyak hal, termasuk salah satunya belajar bersosial. Dengan atau tanpa kita sadari, anak juga mengembangkan kemampuan strategi sosial untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Perilaku manipulasi pada anak muncul untuk mengendalikan orang tua atau orang dewasa agar mendapatkan perhatian, kenyamanan, atau memenuhi keinginannya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan menangis berlebihan, tantrum, mengadu domba antar orang tua, pura-pura sakit, dan lain sebagainya, dengan harapan agar orang tua atau orang dewasa melakukan apa yang diinginkan anak.
Perilaku manipulasi pada anak bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Berdasarkan teori belajar Bandura, anak akan meniru pola manipulasi yang mereka lihat dari orang tua atau lingkungan. Artinya, jika orang tua atau orang dewasa selalu mengikuti manipulasi anak, maka anak akan belajar memperkuat taktik manipulasi yang mereka miliki. Contohnya, jika anak tantrum untuk mendapatkan extra snack dan orang tua terus memenuhinya, maka anak akan terus melakukan hal yang sama untuk mendapatkan keinginan lainnya.
Baca juga: Perilaku Manipulatif di Tempat Kerja: Perspektif Psikologi Organisasi
Ciri-Ciri Perilaku Manipulatif pada Anak

Orang tua terkadang terlalu menyayangi anak mereka sehingga mengabaikan hal-hal kecil yang menjadi pertanda besar untuk kemudian hari. Perilaku manipulatif pada anak bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Orang tua maupun orang dewasa lainnya harus mengenali seperti apa perilaku manipulatif pada anak. Berikut beberapa ciri-ciri perilaku manipulatif pada anak:
- Menangis atau mengamuk berlebihan untuk mendapatkan sesuatu. Misalnya anak yang menangis di depan toko mainan karena ingin orang tuanya membelikan mainan tertentu untuknya.
- Membesar-besarkan masalah. Misalnya anak yang ditegur guru karena berbuat salah, namun menyampaikan kepada orang tuanya kalau dirinya mendapatkan kekerasan di sekolah.
- Mengadu domba. Misalnya anak yang tidak senang dengan pengasuhnya, lalu mengarang cerita negatif mengenai pengasuh ke orang tuanya dengan tujuan agar orang tua memecat pengasuhnya.
- Memanfaatkan rasa bersalah orang tua. Misalnya anak yang berkata “Mama tidak sayang pada ku” saat anak tidak dibelikan mainan atau benda yang diinginkan.
- Berperilaku baik hanya demi mendapatkan keuntungan. Misalnya tiba-tiba sering membantu orang tua hanya agar mendapatkan hadiah atau benda tertentu yang diinginkan.
Baca juga: Dark Triad Personality: Narsisme, Machiavellianisme, dan Psikopati sebagai Akar Manipulasi
Penyebab Perilaku Manipulatif pada Anak

Perilaku manipulatif yang ada pada anak tentu tidak ada begitu saja. Perilaku tersebut tumbuh karena berbagai faktor. Berikut beberapa penyebab perilaku manipulatif pada anak:
- Pola asuh inkonsisten, yaitu orang tua yang tidak konsisten dalam mendidik anak atau dalam menerapkan aturan untuk anak. Dari pola asuh inkonsisten ini anak akan belajar untuk mencari cela.
- Kurangnya batasan, yaitu orang tua yang terlalu membebaskan anak untuk melakukan atau mendapatkan apapun yang diinginkan anak. Dari pola asuh semacam itu anak akan belajar bahwa tidak ada konsekuensi dari tindakan buruknya.
- Penguatan tidak sadar dari orang tua, yaitu orang tua yang secara tidak sadar memvalidasi perilaku manipulasi anak. Misalnya orang tua yang menyerah pada tantrum anak dan memberikan segala yang anak mau.
- Modelling, yaitu orang tua yang juga merupakan sosok manipulatif dan pada akhirnya ditiru oleh anak. Kira perlu tahu bahwa anak sangat mudah meniru orang-orang terdekatnya, terutama orang tua.
- Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, yaitu anak yang menjadikan perilaku manipulatif sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian dari orang tua atau orang dewasa disekitarnya.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku manipulatif pada anak terhadap orang tua atau orang dewasa. Jika kamu memiliki anak dengan ciri-ciri seperti di atas. Cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Perilaku Manipulatif dalam Hubungan Romantis: Antara Kecemasan, Kontrol, dan Ketergantungan
Sumber:
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice-Hall.
Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95.
Cherry, K. (2021). How children manipulate parents. Verywell Family. Retrieved from.
Kuczynski, L., Pitman, R., & Kowal, A. (2019). The power of parenting: Developmental perspectives on coercion and control. In Handbook of parenting and child development across the lifespan (pp. 111–134). Springer.
McMahon, R. J., & Forehand, R. (2003). Helping the noncompliant child: Family-based treatment for oppositional behavior. Guilford Press.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



