Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu melihat pasangan yang sangat mengontrol? Atau kamu justru sedang menjalin hubungan dengan orang seperti itu? Jika iya, apakah menurutmu hubungan yang saling mengontrol itu bisa dikatakan sebagai hubungan yang sehat? Atau apakah merupakan salah satu bentuk toxic relationship?
Perilaku posesif memang terkadang cukup membingungkan. Apakah lagi jika perilaku tersebut ada dalam hubungan asmara. Terkadang rasa sayang yang sangat besar memang membuat kita takut akan kehilangan orang tersebut. Namun disisi lain, rasa takut akan kehilangan itu tidak jarang membentuk sikap kontrol berlebih.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang sikap posesif dalam hubungan romantis. Termasuk tentang apakah sikap posesif merupakan tanda cinta seseorang terhadap pasangannya, atau justru tanda masalah mental yang perlu pembenahan.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Seperti Apa Perilaku Posesif dalam Sebuah Hubungan?

Perilaku posesif dalam sebuah hubungan adalah kondisi dimana seseorang merasa memiliki dan berhak mengontrol pasangannya. Biasanya perilaku tersebut diiringi dengan rasa takut akan kehilangan, curiga yang berlebihan, dan penerapan aturan-aturan yang terkadang tidak masuk akal.
Banyak faktor yang memicu seseorang menjadi sosok yang posesif, misalnya dari attachment style, trauma, perasaan insecure, kecemburuan romantik, norma budaya, hingga kondisi psikologis tertentu. Terlepas dari itu, perilaku posesif dalam hubungan seringkali memicu perdebatan atau konflik dengan pasangan. Berikut beberapa dampak perilaku posesif dalam sebuah hubungan:
- Kepuasan dalam hubungan menurun, hal ini dikarenakan konflik yang dipicu oleh perilaku kontrol berlebihan, dan erosi kepercayaan.
- Kontrol koersif, misalnya membatasi pergaulan sosial pasangan, pengawasan digital, hingga isolasi sosial. Perilaku semacam itu pada dasarnya merupakan bentuk kekerasan non-fisik, namun jarang disadari sebagai salah satu bentuk kekerasan.
- Memicu berbagai masalah kesehatan mental akibat tekanan yang dirasakan, misalnya beresiko mengalami kecemasan, depresi, ruminasi, dan disfungsi emosi yang bisa dialami oleh kedua belah pihak.
Baca juga: Akar Psikologis Perilaku Posesif: Antara Rasa Takut Kehilangan dan Kebutuhan Akan Kontrol
Posesif Adalah Tanda Cinta atau Gangguan Psikologis?
:format(webp)/article/8gOpBzKazUwh78PHLsxp1/original/1688616724-Untitled%20design%28185%29.jpg)
Jika dilihat dari pengertian posesif itu sendiri, bisa diambil kesimpulan bahwa perilaku posesif ini bisa tumbuh karena rasa cinta dan ingin memiliki yang terlalu dalam. Namun disisi lain perilaku posesif juga menimbulkan ketidaknyamanan dalam sebuah hubungan. Dengan demikian, timbul pertanyaan apakah posesif merupakan tanda cinta atau justru gangguan psikologis yang perlu untuk dibenahi? Berikut beberapa penjelasannya:
Indikator cinta yang sehat
Cinta yang sehat seharusnya rasa yang bisa memberikan kenyamanan satu sama lain. Artinya, diperlukan kepercayaan, otonomi, dan rasa aman. Tentu hal tersebut jauh dari perilaku kontrol yang identik dengan sikap posesif. Cinta yang sehat seharusnya menghadirkan perilaku saling menghormati, keterbukaan komunikasi, dan kebebasan untuk bertumbuh. Artinya, perilaku posesif memang bisa karena terlalu mencintai seseorang, namun jika sampai pada tahap posesif, cinta tersebut sudah tidak lagi sehat.
Posesif sebagai gejala atau risiko
Perilaku posesif juga tidak tercantum dalam DSM-V (buku pedoman diagnosis gangguan mental) sebagai salah satu jenis gangguan mental. Meski demikian, perilaku posesif yang terlalu intens,menetap, dan disertai keyakinan rigid atau perilaku membatasi, bisa menjadi sebuah gejala atau memperbesar resiko seseorang mengalami gangguan mental tertentu.
Dapat disimpulkan bahwa perilaku posesif bukan tanda cinta yang sehat, bahkan bisa berujung pada toxic relationship. Namun disisi lain, perilaku posesif juga bukan salah satu jenis gangguan mental, melainkan bisa menjadi gejala atau meningkatkan risiko gangguan mental atau kondisi psikologis tertentu.
Baca juga: Peran Teknologi dalam Mengurangi atau Memperparah Isolasi Sosial: Perspektif Psikologi Sosial
Apa yang Bisa Dilakukan?

Terjebak dengan pasangan yang posesif, atau menjadi individu yang posesif terkadang memang tidak disadari. Jika sudah terlanjur, maka bisa lakukan beberapa hal berikut:
Refleksi diri
Pertama kita harus paham apa yang terjadi pada diri kita, dan bagaimana pasangan memperlakukan kita. Coba lakukan refleksi diri, misalnya dengan mengidentifikasi pemicu, pola pikir “semua atau tidak sama sekali”, dan kecenderungan mind-reading.
Tetapkan batasan dan komunikasi asertif
Ketahuilah bahwa setiap individu berhak memiliki batasan pribadinya. Maka dari itu, coba bentuk aturan yang sehat, khususnya terkait privasi digital, waktu pribadi, transparansi yang disepakati.
Intervensi psikologis
Jika kamu merasa menjadi sosok yang protektif, atau memiliki pasangan yang protektif. Tidak ada salahnya untuk mengikuti intervensi psikologis. Bisa dengan mengikuti terapi pasangan, CBT, pendekatan berbasis attachment, atau jenis intervensi lain yang dirancang sesuai kondisi kamu dan pasangan.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku posesif dalam sebuah hubungan. Jika kamu membutuhkan bantuan profesional, cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Psikologi Pejuang: Mengambil Inspirasi dari Semangat Kemerdekaan untuk Bertahan dalam Krisis Mental
Sumber:
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Cupach, W. R., & Spitzberg, B. H. (2004). The dark side of relationship pursuit: From attraction to obsession and stalking. Lawrence Erlbaum.
Hazan, C., & Shaver, P. R. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511–524.
Kingham, M., & Gordon, H. (2004). Aspects of morbid jealousy. Advances in Psychiatric Treatment, 10(3), 207–215.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2016). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change (2nd ed.). Guilford Press.
Mullen, P. E. (1991). Jealousy: The pathology of passion. The British Journal of Psychiatry, 158(5), 593–601.
Pfeiffer, S. M., & Wong, P. T. P. (1989). Multidimensional jealousy. Journal of Social and Personal Relationships, 6(2), 181–196.
Stark, E. (2007). Coercive control: How men entrap women in personal life. Oxford University Press.
World Health Organization. (2013). Global and regional estimates of violence against women: Prevalence and health effects of intimate partner violence and non-partner sexual violence. WHO Press.
Woodlock, D. (2017). The abuse of technology in domestic violence and stalking. Violence Against Women, 23(5), 584–602.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



