Deeptalk.co.id – Tahukah kamu bahwa di dunia ini terdapat sebuah gangguan mental yang bernama obsessive compulsive personality disorder (OCPD). Jika kamu berpikir bahwa gangguan ini sama dengan obsessive compulsive disorder (OCD), maka itu tidak sepenuhnya salah. Keduanya memang hampir sama, namun bukan satu jenis gangguan yang sama.
Pada obsessive compulsive personality disorder, kondisi dimana seseorang memiliki kepribadian yang mempengaruhi pola pikir yang perfeksionis. Penderita obsessive compulsive personality disorder akan terfokus kepada detail, keberagaman, dan keteraturan.
Sedangkan obsessive compulsive disorder, merupakan gangguan mental yang dimana pengidap mengalami gangguan pada pola pikirnya. Penderita obsessive compulsive disorder akan sangat terobsesi pada hal-hal yang kurang realistis.
Pada artikel ini kami akan membahas secara khusus mengenai obsessive compulsive personality disorder atau yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Apa Itu Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif?

Gangguan kepribadian obsesif kompulsif merupakan bagian dari gangguan kepribadian tipe C yang ditandai dengan bentuk kepribadian yang mempengaruhi otak untuk menjadi obsesi terhadap keteraturan dan perfeksionis.
Penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif cenderung mengabaikan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi. Hal ini dilakukan tentu untuk mengejar kesempurnaan terhadap apa yang sedang mereka kerjakan.
Tidak hanya selalu bersikap perfeksionis dan teratur, penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif juga merasa perlu untuk menegakkan standar mereka yang cukup tinggi terhadap lingkungan mereka.
Hal-hal tersebut membuat penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif dinilai sebagai pribadi yang kaku dan terlalu patuh akan aturan yang berlaku. Penderita gangguan ini juga seringkali membuat orang lain tidak nyaman dengan cara kontrol mereka yang memaksakan orang lain untuk ikut menetapkan standar yang mereka miliki.
Penyebab Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif

Sama dengan gangguan kepribadian lainnya, penyebab pasti dari gangguan kepribadian obsesif kompulsif ini juga belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor dipercaya mampu meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan tersebut. Berikut beberapa faktor yang dimaksud:
Genetik
Walaupun tidak dapat dipastikan 100%, namun pada beberapa kasus menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif akan beresiko mengalami gangguan yang saman.
Jenis kelamin
International OCD Foundation menyatakan bahwa, laki-laki memiliki resiko dua kali lebih besar mengalami gangguan kepribadian obsesif kompulsif dibandingkan dengan wanita.
Pengalaman masa kecil
Selain faktor genetik, para ahli percaya bahwa pengalaman masa kecil seseorang dapat menjadi pemicu orang tersebut mengalami gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Baca juga: Personality Disorder: Mengenal Ciri-Ciri Gangguan Kepribadian Dependen
Gejala Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif

Untuk mengenal lebih dalam tentang gangguan yang satu ini, kamu tentu perlu mengetahui gejala apa saja yang dimunculkan oleh penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif. Berikut beberapa gejala yang dimaksud:
Perfeksionis
Penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif selalu berusaha untuk melakukan segala sesuatunya sesempurna mungkin. Sayangnya hal ini sering kali menghambat mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lain.
Pribadi yang kaku
Tidak hanya perfeksionis, penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif ini juga dikenal sebagai pribadi yang kaku. Pasalnya, mereka selalu menjalankan kegiatan sesuai dengan panduan yang ada. Sangat susah untuk mereka bersikap fleksibel.
Tepat waktu
Tepat waktu dalam hal ini tidak sesederhana hadir sesuai dengan waktu yang telah mereka tentukan. Penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif cenderung merasa sangat butuh untuk tepat waktu. Hal ini sering kali mengganggu orang-orang disekitarnya.
Susah untuk bekerja dengan tim
Kebutuhan mereka untuk menjadi perfeksionis sering kali memaksa diri mereka sendiri untuk mengerjakan segalanya sendirian. Hal ini dikarenakan penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif tidak percaya bahwa orang lain bisa bekerja sebaik apa yang mereka kerjakan.
Menimbun barang
Penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif memiliki kecenderungan untuk menimbun barang-barang bekas yang sebenarnya tidak berguna sama sekali.
Penanganan pada Penderita Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif

Penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif umumnya tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan tersebut. Dengan demikian, orang disekitar harus peka dan menggiring mereka untuk setidaknya mendapatkan penanganan yang tepat.
Langkah awal yang bisa dilakukan jika seseorang memiliki gejala di atas adalah segera mengunjungi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Hal ini diperlukan untuk menentukan penanganan apa yang bisa penderita dapatkan.
Perlu diketahui bahwa setiap penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif akan menunjukkan gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Dengan demikian, penanganan yang didapatkan juga akan berbeda-beda.
Namun pada umumnya, psikolog akan memberikan penanganan berupa terapi psikologi, dan psikiater akan memberikan penanganan melalui obat-obatan. Tentu saja keduanya bertujuan untuk meredakan gejala-gejala yang ditunjukkan oleh penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Mendapatkan penanganan sedini mungkin akan membantu penderita untuk membaik lebih cepat. Selain itu, dukungan dari keluarga, saudara, pasangan, dan sahabat sangat dibutuhkan dalam hal ini. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Personality Disorder: Kenali Gangguan Kepribadian Avoidant



