Semua artikel
Gangguan Psikologi

Personality Disorder: Kenali Gangguan Kepribadian Avoidant

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah menjumpai orang yang sangat pemalu sehingga cenderung selalu menghindari interaksi sosial? Atau kamu justru sedang dalam posisi ini? Menjadi pemalu memang bukan suatu kesalahan, namun jika kamu terlalu pemalu dan merasa takut berlebih akan penolakan, bisa jadi itu gejala dari gangguan kepribadian avoidant yang merupakan gangguan mental.

Artikel ini akan memberikan penjelasan mengenai gangguan kepribadian avoidant, hingga penanganan pada penderita gangguan ini.

Apa Itu Gangguan Kepribadian Avoidant?

Apa Itu Gangguan Kepribadian Avoidant (Cr. Alodokter)

Gangguan kepribadian avoidant (avoidant personality disorder) atau yang juga dikenal dengan istilah gangguan kepribadian menghindar merupakan bagian dari gangguan kepribadian tipe C yang ditandai dengan perasaan malu yang cukup ekstrim.

Penderita gangguan kepribadian avoidant mengalami kesulitan untuk membangun interaksi sosial. Hal ini dikarenakan mereka yang terlalu pemalu hingga ke tahap ekstrim. Penderita gangguan ini juga memiliki ketakutan yang berlebih akan penolakan. Maka dari itu, mereka akan enggan untuk memulai suatu interaksi.

Dalam kasus yang cukup berat, penderita gangguan kepribadian avoidant akan mengalami masalah dalam interaksi sosialnya. Hal ini termasuk dalam kehidupan pekerjaan mereka. Seperti namanya, penderita gangguan ini cenderung menghindar dalam situasi sosial.

Seseorang dengan gangguan kepribadian avoidant berbeda dengan seorang pemalu pada umumnya. Orang yang pemalu hanya susah untuk memulai suatu hubungan, namun dapat menjadi nyaman seiring dengan berjalannya waktu. Sedangkan seseorang penderita gangguan kepribadian avoidant lebih memilih untuk berdiam diri, dibanding harus berbaur di masyarakat.

Penyebab Gangguan Kepribadian Avoidant

Gangguan kepribadian avoidant hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebabnya. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dapat membuat seseorang memiliki resiko mengalami gangguan kepribadian avoidant, yaitu:

Trauma masa kecil

Seseorang yang sering mengalami penolakan oleh teman sebaya saat masih kecil akan beresiko lebih besar untuk mengalami gangguan kepribadian avoidant.

Genetik

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kepribadian avoidant, akan beresiko lebih besar untuk mengalami gangguan yang sama.

Pola asuh

Mendapatkan pola asuh yang buruk oleh orang tua, akan beresiko lebih besar mengalami gangguan kepribadian avoidant. Misalnya, anak yang sering ditinggalkan atau mendapat pengabaian dari orang tua.

Baca juga: Kenali Dampak Inner Child yang Terluka

Gejala Gangguan Kepribadian Avoidant

Untuk mengenal gangguan kepribadian avoidant lebih mendalam, kamu tentu perlu mengetahui gejala apa saja yang ditunjukkan oleh penderita gangguan ini. Berikut beberapa gejala dari gangguan kepribadian avoidant:

Takut akan penolakan

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penderita gangguan kepribadian avoidant memiliki ketakutan berlebih akan penolakan, kritik, dan celaan dari orang lain. Hal inilah yang membuat mereka tidak berani untuk memulai interaksi.

Menghindari interaksi

Masih berhubungan dengan gejala pertama, karena penderita gangguan kepribadian avoidant takut akan penolakan, celaan, dan kritik dari orang lain, mereka cenderung menghindari interaksi sosial. Sama dengan nama lainnya, yaitu gangguan kepribadian menghindar.

Pribadi yang kaku

Penderita gangguan kepribadian avoidant juga merupakan pribadi yang kaku. Hal ini dikarenakan rasa takut merasa malu atau dipermalukan oleh orang lain. Walau pada kenyataannya, tidak ada orang yang akan mempermalukan mereka.

Khawatir berlebih

Selain merupakan pribadi yang kaku, penderita gangguan kepribadian avoidant juga memiliki kekhawatiran berlebih akan kritik atau ditolak oleh lingkungan sosialnya.

Minder

Penderita gangguan kepribadian avoidant juga tidak ingin terlibat dalam interaksi interpersonal yang baru. Misalnya untuk sekedar berkenalan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh rasa minder akan diri mereka sendiri.

Rendah diri

Penderita gangguan kepribadian avoidant juga merasa rendah diri. Mereka tidak percaya akan kemampuan yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga merasa tidak menari dan berujung pada menghindar dari lingkungannya.

Ragu mengambil resiko

Gejala terakhir adalah perasaan takut untuk mengambil resiko atau memulai untuk melakukan kegiatan baru.

Beberapa gejala di atas merupakan gejala yang ditunjukkan oleh penderita gangguan kepribadian avoidant. Namun jika gejala tersebut muncul pada usia anak, dapat dipastikan bahwa itu bukanlah gejala gangguan kepribadian avoidant.

Penanganan pada Penderita Gangguan Kepribadian Avoidant

Jika kamu atau orang disekitar mu dengan usia remaja hingga dewasa memiliki beberapa gejala di atas, segeralah mengunjungi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Melakukan self diagnosis bukanlah solusi dari masalah gangguan mental.

Mendapatkan diagnosis yang tepat dari ahlinya akan membantu penderita untuk mendapatkan penangan yang tepat. Pasalnya, setiap penderita akan menunjukkan gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Dengan demikian, penanganan yang diberikan juga akan berbeda-beda.

Psikolog umumnya akan memberikan penanganan berupa terapi psikolog. Terapi yang umum digunakan untuk penderita gangguan kepribadian avoidant adalah cognitive behavioral therapy (CBT). Tujuannya adalah untuk mengatasi rasa takut akan penolakan dan kecenderungan menghindari interaksi sosial.

Sedangkan psikiater umumnya akan memberikan beberapa obat yang dirasa perlu untuk mengurangi simtom yang muncul. Tentu saja obat yang diberikan hanya bisa dibeli melalui resep dokter.

Semoga artikel ini dapat membantu.

Baca juga: Memendam Emosi Tidak Baik Bagi Kesehatan Mental

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Personality Disorder: Kenali Gangguan Kepribadian Avoidant — DeepTalk