Deeptalk.co.id – Jika diperhatikan, pola asuh yang didapatkan pada masa kanak-kanak sedikit banyak mempengaruhi cara seseorang dalam berhubungan di usia dewasa. Hal tersebut dikenal dengan istilah attachment style atau gaya keterikatan.
Disisi lain kita melihat bagaimana sebuah hubungan tidak selalu berjalan baik. Beberapa orang bahkan terjebak dalam toxic relationship yang memicu berbagai masalah psikologis. Salah satu bentuk toxic relationship itu ada kaitannya dengan perilaku posesif. Dimana perilaku posesif merupakan kondisi dimana individu terlalu takut akan kehilangan, sehingga menjadi terlalu mengontrol pasangannya.
Lantas, apakah perilaku posesif ini bisa terbentuk akibat attachment style yang dimiliki individu tersebut? Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang perilaku posesif dan kaitannya dengan attachment style dalam perspektif psikologi.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan psikologis. Cobalah untuk berkonsultasi atau melakukan pemeriksaan psikologis bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui gejala, dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Perilaku Posesif dan Attachment Style
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1060909/original/041423600_1447935799-adrianaleboss.jpg)
Perilaku posesif identik dengan kecenderungan seseorang dalam mengendalikan, membatasi, dan keterikatan berlebih terhadap pasangan yang biasanya dipicu oleh rasa sayang berlebih, takut kehilangan, cemburu, membutuhkan kepastian, trauma, dan masih banyak lagi.
Sedangkan attachment style atau gaya keterikatan adalah pola hubungan individu yang terbentuk oleh pola asuh dari orang tua atau pengasuh di masa kanak-kanak. Teori attachment style sendiri dikemukakan oleh John Bowlby dan diperluas oleh Mary Ainsworth, sebagai bentuk hubungan emosional seseorang terhadap orang lain sejak masa kanak-kanak hingga usia dewasa.
Secara umum, attachment style terbagi kedalam empat tipe, yaitu secure attachment, avoidant attachment, anxious attachment, dan disorganized attachment. Masing-masing dari tipe attachment style ini mempengaruhi kemunculan perilaku posesif dalam hubungan yang berbeda-beda.
Baca juga: Posesif dalam Hubungan Romantis: Tanda Cinta atau Bentuk Ketidakamanan Emosional?
Tipe Attachment Style dan Perilaku Posesifnya

Seperti yang sudah dipaparkan pada poin sebelumnya, attachment style terbagi dalam empat tipe. Berikut penjelasan masing-masing tipe attachment style dan pengaruhnya terhadap perilaku posesif:
Secure attachment
Secure attachment adalah tipe attachment style yang paling sehat. Individu dengan tipe attachment style yang satu ini terbentuk dari pola asuh yang sehat, kehadiran sosok orang tua sebagai pelindung, dukungan yang tidak berlebihan, dan kepercayaan yang baik. Dengan demikian, individu dengan secure attachment cenderung memiliki rasa percaya diri yang baik, dan tidak begitu menunjukan perilaku posesif dalam hubungan.
Individu dengan secure attachment akan merasa nyaman dengan kelekatan, namun juga bisa menerima privasi satu sama lain. Sekalipun perilaku posesif muncul pada individu dengan secure attachment, biasanya akan bersifat ringan dan lebih kepada bentuk kepedulian, bukan bersifat mengontrol. Misalnya, individu yang menanyakan keberadaan keberadaan pasangannya karena peduli akan keamanan pasangannya, bukan karena rasa curiga.
Anxious-preoccupied attachment
Anxious-preoccupied attachment adalah individu yang sangat butuh pengakuan, kedekatan, dan adanya rasa takut ditinggalkan oleh pasangan. Tipe attachment style yang satu ini terbentuk oleh pola asuh yang tidak konsisten. Ada kalanya orang tua atau pengasuh terlalu memanjakan anak, namun di lain waktu juga terlalu mengabaikan anak.
Dalam hubungan, individu dengan anxious-preoccupied attachment sering memunculkan perilaku posesif. Misalnya dengan selalu mengecek ponsel pasangan, cemburu berlebihan, hingga membatasi akses sosial pasangan. Mereka menganggap posesif sebagai bentuk penyampaian cintanya terhadap pasangan.
Dismissive-avoidant attachment
Dismissive-avoidant attachment adalah individu yang sangat menghargai kemandirian dibandingkan kedekatan emosional. Jenis attachment style yang satu ini terbentuk oleh pola asuh pengabaian. Dimana orang tua berharap agar anak bisa lebih mandiri, namun saat dewasa anak justru takut membangun hubungan.
Individu dengan dismissive-avoidant attachment jarang menunjukan perilaku posesif secara terbuka. Mereka bahkan cenderung menjaga jarak dan enggan menjalin hubungan romantis atau yang melibatkan kedekatan emosional. Terlepas dari itu, mereka juga tetap berharap orang lain peduli akan dirinya.
Fearful-avoidant (disorganized) attachment
Fearful-avoidant (disorganized) attachment adalah individu yang penuh dengan konflik batin. Mereka pada dasarnya ingin mendapatkan kedekatan, namun menolaknya karena rasa takut akan disakiti. Jenis attachment style yang satu ini biasanya dialami oleh seseorang yang semasa kecilnya kurang mendapatkan perhatian, pernah ditelantarkan, memiliki trauma masa kanak-kanak, atau menjadi korban kekerasan maupun pelecehan seksual.
Perilaku posesif yang muncul pada dismissive-avoidant attachment cenderung tidak konsisten. Bisa diekspresikan dengan cara dramatis, penuh kecemasan, atau bahkan manipulatif karena adanya ketakutan ditinggalkan sekaligus ketakutan akan keterikatan. Misalnya individu yang marah besar jika pasangannya dekat dengan orang lain, lalu tiba-tiba menarik diri karena takut dianggap lemah.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku posesif dari masing-masing tipe attachment style. Jika kamu membutuhkan bantuan profesional, cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Akar Psikologis Perilaku Posesif: Antara Rasa Takut Kehilangan dan Kebutuhan Akan Kontrol
Sumber:
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (2015). Patterns of attachment: A psychological study of the strange situation. Psychology Press.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2016). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change (2nd ed.). Guilford Press.
Cassidy, J., & Shaver, P. R. (Eds.). (2018). Handbook of attachment: Theory, research, and clinical applications (3rd ed.). Guilford Press.
Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511–524.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



