Deeptalk.co.id – Perilaku posesif memang seringkali menimbulkan masalah. Terutama jika orang yang posesif itu adalah pasangan kita. Perilaku posesif ini bisa menjadi kekangan tersendiri, membatasi perkembangan manusia, bahkan mendorong orang terdekat untuk lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental.
Terlepas dari segala masalah yang timbul akibat perilaku posesif, tidak bisa kita pungkiri bahwa perilaku posesif menjadi lebih rentan terhadap penderita gangguan kepribadian, misalnya pada penderita gangguan kepribadian borderline, gangguan kepribadian narsistik, dan gangguan kepribadian dependen.
Lantas, bagaimana perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian borderline, gangguan kepribadian narsistik, dan gangguan kepribadian dependen? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Borderline Personality Disorder (BPD)

Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambangan adalah gangguan mental yang mempengaruhi cara individu berpikir dan bertindak, yang bisa memicu ketidakstabilan emosional, hubungan interpersonal yang intens, dan perilaku impulsif.
Individu dengan gangguan kepribadian ambang memang umumnya memunculkan perilaku posesif. Biasanya, perilaku posesif ini muncul akibat ketakutan ekstrim akan ditinggalkan. Namun disisi lain, hubungan dengan penderita gangguan kepribadian ambang cukup tidak stabil karena seringkali disertai perubahan cepat antara idealisasi dan devaluasi pasangan. Perilaku posesif ini muncul untuk mempertahankan hubungan ditangan ketidakstabilan tersebut.
Perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian ambang sering digunakan dengan cara manipulatif, misalnya dengan mengancam, menguji kesetiaan, hingga menunjukan emosi berlebih. Jika perilaku tersebut tidak mendapatkan tindakan yang tepat. Maka hubungan yang terjalin beresiko menimbulkan konflik berulang, ledakan emosi, siklus putus-nyambung, dan hubungan tidak sehat lainnya.
Baca juga: Posesif sebagai Mekanisme Koping: Upaya Mengatasi Rasa Takut dan Kerentanan Psikis
Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Narcissistic personality disorder (NPD) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan gangguan kepribadian narsistik, adalah gangguan mental yang ditandai dengan pandangan bahwa diri sendiri jauh lebih baik dari orang-orang sekitar, dan merasa pantas memandang rendah orang lain.
Individu dengan gangguan kepribadian narsistik juga umumnya memiliki kecenderungan perilaku posesif. Namun, perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian narsistik lebih didasari oleh kebutuhan untuk mengontrol dan memastikan pasangannya sebagai sumber validasi diri.
Berbeda dengan penderita gangguan kepribadian ambang yang takut kehilangan pasangan. Penderita gangguan kepribadian narsistik memperlakukan pasangan sebagai perpanjangan diri. Dengan demikian, kehilangan pasangan bagi penderita gangguan kepribadian narsistik sama dengan kehilangan cermin atas superioritasnya.
Perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian narsistik biasanya berupa sikap cemburu, membatasi interaksi pasangan dengan orang lain, dan menuntut perhatian lebih. Mereka juga mengharapkan pasangan untuk bisa menunjukan atau menonjolkan sisi superioritasnya. Dampak yang timbul akibat perilaku posesif dalam hubungan dengan penderita gangguan kepribadian narsistik bisa berupa hubungan yang cenderung timpang, dan pasangan akan merasa terjebak dalam dinamika kontrol.
Baca juga: Dampak Perilaku Posesif terhadap Kesehatan Mental Pasangan dan Kualitas Relasi
Dependent Personality Disorder (DPD)

Dependent personality disorder (DPD) atau yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah gangguan kepribadian dependen, adalah gangguan mental yang ditandai dengan kecemasan berlebih dan cenderung tidak beralasan, dimana hal tersebut membuatnya merasa tidak dapat melakukan berbagai hal seorang diri. Bisa dikatakan bahwa orang dengan gangguan kepribadian dependen tidak bisa mandiri untuk hal-hal sederhana sekalipun.
Individu dengan gangguan kepribadian dependen juga memiliki kecenderungan perilaku posesif. Seperti yang dipaparkan di atas, mereka terlalu bergantung dengan orang lain sehingga seringkali cenderung mengekang orang-orang terdekatnya.
Perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian dependen timbul karena kebutuhan mereka akan kehadiran orang lain. Artinya, perilaku posesif ini ada sebagai bentuk ketergantungan emosional yang berlebihan. Individu dengan gangguan kepribadian dependen takut ditinggalkan bukan sekedar tidak menyukai rasa kesepian saja, melainkan rasa takut akan kehilangan penopang kehidupannya.
Motivasi perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian dependen adalah perasaan tidak berdaya jika kehilangan pasangan. Dampak yang timbul akibat perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian dependen adalah, pasangan akan selalu merasa terbebani karena harus terus-menerus memberikan dukungan dan jaminan kelekatan.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku posesif pada penderita gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian narsistik, dan gangguan kepribadian dependen. Jika kamu mengalami beberapa kondisi di atas. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana.
Baca juga: Dari Rasa Sayang ke Obsesi: Analisis Psikologis Transformasi Perilaku Posesif
Sumber:
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.
Beck, A. T., Freeman, A., Davis, D. D., & Associates. (2015). Cognitive therapy of personality disorders (3rd ed.). New York, NY: Guilford Press.
Campbell, W. K., & Miller, J. D. (Eds.). (2011). The handbook of narcissism and narcissistic personality disorder: Theoretical approaches, empirical findings, and treatments. Hoboken, NJ: Wiley.
Linehan, M. M. (2015). DBT skills training manual (2nd ed.). New York, NY: Guilford Press.
Livesley, W. J. (Ed.). (2018). Handbook of personality disorders: Theory, research, and treatment (2nd ed.). New York, NY: Guilford Press.Skodol, A. E. (Ed.). (2014). The borderline diagnosis II: Biology, genetics, and clinical course. Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



