Deeptalk.co.id – Manipulasi adalah upaya seseorang dalam mengendalikan, memanfaatkan, atau mempengaruhi orang lain demi kepentingan pribadi. Individu yang manipulatif umumnya adalah sosok yang cerdik, dan mampu membuat korbannya tidak merasa dimanipulasi. Bahkan, mereka bisa membuat korbannya terikat dan dengan sukarela mengikuti kemauan individu manipulatif tadi.
Individu manipulatif ini bisa kita jumpai di banyak tempat. Walaupun memang kasus manipulatif sering dijumpai dalam hubungan romantis. Namun, individu manipulatif ini tidak hanya bertindak mengendalikan pasangannya. Melainkan untuk sektor-sektor lain yang dianggap bisa menguntungkan dirinya sendiri. Misalnya dalam dunia kerja atau organisasi.
Perilaku manipulatif di tempat kerja juga cukup beragam, dan cukup sering tidak disadari oleh rekan kerja, bawahan, maupun atasan. Maka dari itu, untuk mengenali perilaku-perilaku manipulatif di tempat kerja, artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang perilaku manipulatif di tempat kerja.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Bentuk-Bentuk Manipulatif di Tempat Kerja

Manipulatif sendiri memiliki banyak bentuk. Namun di tempat kerja sendiri perilaku manipulatif yang sering diterapkan berupa:
- Gaslighting, yaitu salah satu bentuk manipulatif dimana pelaku akan membuat korban meragukan ingatan, persepsi, bahkan kewarasannya sendiri. Contohnya, atasan yang meremehkan kemampuan bawahannya yang membuat bawahan tadi meragukan kemampuannya sendiri, walaupun pada kenyataannya bawahan tersebut benar-benar memiliki kemampuan yang memadai.
- Silent treatment, yaitu bentuk perilaku manipulatif dimana pelaku akan mendiamkan korban sebagai bentuk hukuman atau agar bisa mengendalikan korban. Contohnya, rekan kerja yang tidak memberikan respon apapun setelah kamu menolak untuk membackup tugasnya.
- Flattery berlebihan, yaitu bentuk perilaku manipulatif dimana pelaku akan menyanjung atau merayu korbannya dengan maksud terselubung. Contohnya, seorang karyawan yang selalu dan secara berlebihan memuji kemampuan atasannya demi mendapatkan kenaikan jabatan.
- Informasi selektif, yaitu bentuk manipulatif dimana pelaku hanya akan menyampaikan informasi-informasi yang menguntungkan dirinya sendiri. Contohnya, seorang karyawan yang menyebarkan informasi negatif tentang rekan kerjanya yang merupakan saingannya untuk mendapatkan kenaikan jabatan.
- Playing the victim, yaitu bentuk manipulatif dimana pelaku akan berperan sebagai korban, dan menggambarkan korban sebagai pelaku. Contohnya, seorang atasan yang menyalahkan karyawannya atas kegagalan project yang sebenarnya akibat kesalahannya sendiri.
Baca juga: Dark Triad Personality: Narsisme, Machiavellianisme, dan Psikopati sebagai Akar Manipulasi
Dampak Psikologis Manipulasi di Tempat Kerja

Perilaku manipulasi di tempat kerja bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, baik korban maupun organisasi sama-sama mendapatkan dampak psikologis yang negatif. Berikut beberapa dampak psikologis perilaku manipulasi di tempat kerja:
Dampak psikologis bagi korban
Menjadi korban manipulatif di tempat kerja tentu bukan hal yang menyenangkan. Walaupun korban umumnya tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam pengaruh orang lain. Namun menjadi korban manipulasi di tempat kerja bisa meningkatkan resiko stress kerja atau burnout, kecemasan, dan kelelahan emosional. Selain itu, bisa juga menurunkan rasa percaya diri dan kepuasan kerja.
Dampak psikologis bagi organisasi
Tidak hanya korban, organisasi atau perusahaan atau tempat kerja juga bisa mengalami dampak negatif akibat kehadiran individu manipulatif ini. Dimana iklim kerja dan kolaborasi dalam perusahaan bisa rusak, produktivitas karyawan menurun akibat konflik internal, hingga tingkat turnover karyawan yang lebih tinggi.
Baca juga: Perilaku Manipulatif dalam Hubungan Romantis: Antara Kecemasan, Kontrol, dan Ketergantungan
Tips Mengatasi Manipulasi di Tempat Kerja

Dampak dari manipulasi di tempat kerja tentu membuat kita perlu waspada akan hal tersebut. Maka dari itu, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengatasi manipulasi di tempat kerja:
- Peningkatan literasi terkait perilaku manipulasi. Jika kamu telah membaca artikel ini tandanya kamu sudah mulai meningkatkan literasi akan perilaku manipulasi. Dengan mengenal seperti apa perilaku manipulasi itu, kamu bisa meningkatkan kewaspadaan agar tidak terjerumus sebagai korban.
- Komunikasi asertif, yaitu kemampuan menyampaikan batasan dan kebutuhan secara jelas tanpa agresi.
- Membangun budaya kerja yang sehat. Tentunya dalam hal ini peran organisasi sangat dibutuhkan dengan mendorong transparansi, keadilan, dan sistem feedback yang sehat.
- Dukungan sosial, yaitu support system yang bisa menjadi pendengar dan pemberi dukungan positif dalam berbagi keluh kesah di tempat kerja. Bisa dengan rekan kerja atau mentor.
- Intervensi organisasi, yaitu HR atau manajemen yang bisa memberikan pelatihan kepemimpinan etis dan kebijakan anti-bullying. Dengan begitu karyawan bisa mendapatkan insight dalam berorganisasi yang sehat.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku manipulatif di tempat kerja. Jika kamu menjadi korban manipulasi di tempat kerja. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Gaslighting dan Distorsi Realitas: Analisis Psikologis atas Manipulasi Emosional
Sumber:
Braiker, H. B. (2004). Who's pulling your strings? How to break the cycle of manipulation and regain control of your life. McGraw-Hill.
Grant, A. M. (2013). Give and take: Why helping others drives our success. Penguin.
Kipnis, D. (2013). The powerholders. Routledge.
Liu, J., Hui, C., Lee, C., & Chen, Z. X. (2010). Why employees in China are unwilling to voice: An exploration of the psychological processes of silence. Academy of Management Journal, 53(1), 123–145.
Paulhus, D. L., & Williams, K. M. (2002). The Dark Triad of personality: Narcissism, Machiavellianism, and psychopathy. Journal of Research in Personality, 36(6), 556–563.
Simon, G. K. (2010). In sheep’s clothing: Understanding and dealing with manipulative people. Parkhurst Brothers.
Zapf, D., & Einarsen, S. (2020). Individual antecedents of bullying: Victims and perpetrators. In S. Einarsen et al. (Eds.), Bullying and harassment in the workplace: Theory, research, and practice (pp. 269–300). CRC Press.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



