Deeptalk.co.id – Manusia sebagai makhluk sosial, pasti selalu menjalin hubungan dengan sesama manusia. Termasuk hubungan romansa dengan lawan jenis. Namun, tak selamanya kehidupan romansa manusia berjalan lancar dan penuh kebahagiaan. Adakalanya pada beberapa pasangan mengalami suatu hubungan intim yang beracun dengan adanya kekerasan, dan faktanya perempuan cenderung menjadi korban serta tetap bertahan pada hubungan tersebut.
Sebelum membahas alasan mengapa perempuan cenderung bertahan pada hubungan toxic, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan hubungan toxic. Hubungan toxic adalah hubungan yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak. Hubungan tersebut dapat ditandai dengan kekerasan fisik, emosional, atau psikologis, serta dapat menyebabkan kerusakan pada kepercayaan diri dan kesehatan mental seseorang.
Perempuan seringkali menjadi korban dalam hubungan toxic. Bahkan bertahan pada hubungan yang toksik adalah salah satu masalah besar yang dihadapi oleh banyak perempuan. Lalu, mengapa mereka tetap melakukan itu?
Pada artikel kali ini, kami akan mengungkapkan beberapa faktor dan alasan mengapa perempuan cenderung memilih untuk bertahan pada kekerasan yang dilakukan pasangannya dalam hubungan beracun. Semua faktor tersebut bisa membuat perempuan merasa terjebak dalam hubungan yang toksik dan sulit untuk keluar dari situasi tersebut.
Baca juga: Bagaimana Dampak Bullying terhadap Self-Esteem Remaja
Kecenderungan Perempuan Untuk Bertahan Pada Hubungan Toxic

Kekerasan pada suatu hubungan adalah masalah yang serius akibat dampaknya yang membahayakan bagi korban. Termasuk kerusakan fisik dan mental, dan bahkan juga secara seksual dan finansial.
Selain itu, sudah banyak studi dan riset yang menyebutkan bahwa kekerasan dalam hubungan lebih banyak memakan korban perempuan dibandingkan laki-laki. Laki-laki pun dinilai lebih cenderung mungkin menjadi pelaku daripada perempuan itu sendiri. Tak hanya itu, studi pada tahun 2017 yang dilakukan oleh Leonardsson dan San Sebastian mengungkapkan sebagian besar perempuan, tepatnya 41,4% mentolerir pelecehan atau kekerasan yang dilakukan pasangannya dan tidak mencari bantuan.
Oleh penelitian yang dilakukan Nurul Nadia pada tahun 2019, setidaknya ada 5 faktor yang memengaruhi korban perempuan untuk terus bertahan dan menolerir hubungan abusif yang mereka jalani. Diantara kelima faktor tersebut, berikut penjelasannya.
1. Konflik Emosi
Pada kasus kekerasan dalam suatu hubungan intim, perempuan sebagai korban selalu merasa khawatir untuk berpisah dan mereka merasa bertanggung jawab atas pertengkaran yang terjadi dengan pasangan. Korban bahkan sering takut dengan pelaku dan mereka merasa tidak aman jika kabur. Karena pada beberapa kasus, kekerasan menjadi lebih meningkat ketika hubungan sudah berakhir. Sebagai korban, mereka biasanya mengkhawatirkan berbagai ketidakpastian seperti tindakan pasangannya.
Selain rasa takut, beberapa perempuan memilih untuk bertahan karena perasaan kasih sayang yang ekstrim terhadap pasangannya. Beberapa penelitian pun menyebutkan ketika perempuan sudah terlampau sayang dengan pasangannya, mereka tidak akan menyebut laki-laki nya sebagai penjahat, melainkan memiliki temperamen yang buruk serta percaya kalau perilakunya dapat berubah. Dengan kata lain, perempuan yang memiliki emosi yang bertentangan sering menolak untuk mencari bantuan dan lebih memilih untuk tetap berada dalam toxic relationship.
2. Naluri Keibuan
Faktor ini sering dialami pada perempuan yang melibatkan anak hasil hubungan mereka dengan pasangan abusif. Naluri keibuan ditunjukkan ketika mereka berusaha melindungi anak-anak dari kekerasan. Mereka takut untuk menyerahkan anak-anaknya kepada ayah sebagai pelaku kekerasan jika meninggalkan pernikahan. Intinya, adanya naluri keibuan pada perempuan membuat mereka takut jika anaknya direnggut dari dirinya akibat melaporkan tindak kekerasan yang terjadi pada hubungan intimnya. Tak hanya itu, para korban perempuan seringkali percaya bahwa anak-anak membutuhkan sosok figur ayah pada kehidupannya.
Bahkan korban perempuan dalam keadaan hamil sekalipun tetap memilih untuk diam dan mentolerir tindakan kekerasan pasangannya. CDC pun menyebutkan sekitar 4 hingga 8 persen wanita hamil yang mengalami pelecehan dan kekerasan selama kehamilannya. Padahal kekerasan selama kehamilan menempatkan perempuan pada risiko masalah fisik dan mental yang serius.
3. Ketergantungan Ekonomi
Korban perempuan cenderung mentolerir hubungan yang kasar karena ketergantungan ekonomi, dimana sebagian besar perempuan bergantung secara finansial pada suami mereka. Akibatnya mereka pun tidak mungkin untuk mengakhiri hubungan toksiknya. Ini menjadi faktor paling tinggi penyebab pelecehan pada suatu hubungan yang menempatkan perempuan sebagai korban.
Pada suatu penelitian terhadap 120 penyintas KDRT pun ditemukan bahwa 94 persen dari mereka mengalami kekerasan karena faktor ekonomi. Pelecehan akibat ketergantungan ekonomi memerlukan pelaku yaitu suami yang memaksa pasangannya untuk tergantung secara ekonomi pada mereka. Dan meskipun tau mereka dalam hubungan yang kasar, 85 persen diantaranya memilih untuk bertahan.
4. Tekanan Sosial
Nilai-nilai budaya dan agama suatu komunitas memungkinkan toleransi terbatas terhadap hubungan yang kasar. Beberapa perempuan mungkin merasa bahwa meninggalkan hubungan yang penuh kekerasan tidak sesuai dengan keyakinan dalam agamanya.
Pun juga pada beberapa kasus, mereka lebih bersedia untuk tetap tinggal daripada mengakhiri hubungan karena takut mempermalukan nama keluarga besar hingga terjadi penolakan oleh komunitas agama mereka. Mereka takut bagaimana orang bereaksi terhadap masalah pada hubungan mereka.
5. Martabat Keluarga
Ada kepercayaan yang sudah meluas di masyarakat yang menyebutkan bahwa perempuan dilahirkan untuk menjaga martabat laki-laki. Ini lebih jelas dalam masyarakat yang didominasi laki-laki dimana perempuan memiliki kekuatan yang lebih lemah untuk membuat keputusan dan tidak memiliki kebebasan.
Pada masyarakat yang memiliki kepercayaan tersebut secara umum, seperti di Asia termasuk Indonesia, laki-laki dan keluarganya dianggap lebih tinggi dibandingkan perempuan. Perempuan yang mencari bantuan dari luar pun dianggap tidak menghargai reputasi sosial laki-laki dan keluarganya. Akibatnya, perempuan pun terpaksa untuk diam dan enggan untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami. Jika tidak, perempuan sebagai korban pun akan berisiko kehilangan hak dan keistimewaannya dalam hal kekayaan, serta hak asuh anak.
Baca juga: Tanda-Tanda Bahwa Kamu Butuh Konseling Ke Psikolog Segera
Sumber:
Aziz, N. N. A., Yazid, Z. N. A., Hazudin, S. F., & Ishak, M. (2019, November 4). Reasons Behind Women Tolerance Of Abusive Relationships. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/340418572
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



