Deeptalk.co.id – Saat kita menginjak usia dewasa, terdapat berbagai tekanan dan ekspektasi yang harus dipenuhi, baik dari keluarga, masyarakat, maupun dari diri sendiri. Hal ini seringkali membuat seseorang merasa kebingungan atau bahkan stres, dan pada akhirnya dapat mengalami krisis dalam hidupnya. Ada dua jenis krisis yang umum terjadi pada usia dewasa, yaitu Quarter Life Crisis dan Midlife Crisis.
Kedua jenis krisis ini memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal sumber stres dan cara mengatasinya. Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan antara Quarter Life Crisis dan Midlife Crisis, sehingga dapat membantu kita lebih memahami krisis yang mungkin terjadi dalam hidup kita dan bagaimana cara menghadapinya.
Apa itu Quarter Life Crisis?

Quarter life crisis atau dikenal juga dengan istilah krisis seperempat abad merupakan suatu periode dalam kehidupan dewasa awal yang biasanya terjadi diantara usia pertengahan duapuluhan dan awal tuga puluhan. Fenomena ini adalah perasaan stres dan ketidakpastian yang biasanya dipicu saat seseorang mencari tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan (dalam hidupnya).
Ketika mengalaminya, seseorang mungkin merasa tersesat, terjebak, baik secara personal maupun profesional dan tidak terinspirasi selama krisis seperempat abad kehidupan ini. Akan ada banyak tekanan yang dirasakan mereka pada usia tersebut, meliputi juga perjuangan khusus untuk saat ini dalam hidup.
Kasus terjadinya krisis ini akan bervariasi pada setiap individu yang mengalaminya. Bisa saja mereka tidak mengalaminya sama sekali atau bisa terjadi selama beberapa tahun lamanya. Diperlukan waktu untuk seseorang menyadari pertama kalinya bahwa ada yang salah pada diri dan kehidupannya. Sehingga kemudian akan mencari tahu bagaimana menjalani kehidupan dewasa yang sebenarnya.
Penelitian mengenai quarter life crisis menempatkan angka sebanyak 86% dari 1000 anak muda yang ketika ditanya, mereka mengaku merasa di bawah tekanan untuk berhasil. Baik dalam hubungan sosialnya, keuangan hingga pekerjaan mereka sebelum mencapai usia 30 tahun. Mungkin usia seperempat abad ini menampakkan seorang individu yang sangat bersemangat dan cerdas, tetapi ternyata tengah berjuang karena merasa tidak mencapai potensi mereka atau merasa tertinggal.
Baca juga: Hubungan Pola Penghindaran Pada Kebiasaan Procrastination
Apa itu Midlife Crisis?

Midlife crisis yang juga disebut dengan krisis paruh baya, sesuai dengan namanya krisis ini dialami oleh mereka yang sudah berusia antara 40 dan 60 an. Salah satu kepercayaan umum mengenai tahap kehidupan ini ialah bahwa seseorang akan menghadapi gejolak batin akan identitas, pilihan hidup dan kefanaan dirinya.
Istilah ini pertama dikenalkan oleh psikoanalisis Elliot Jacques pada 1960-an. Ia mencatat bahwa pasien berusia pertengahan hingga akhir 30an tampaknya mengalami masa depresi dan perubahan gaya hidup yang tiba-tiba saat mereka menghadapi gagasan akan kematian mereka sendiri. Misal saja yang saat ini umumnya dikaitkan dengan fenomena stereotip pria paruh baya yang membeli mobil mewah atau memilih untuk mengakhiri pernikahan demi mendapatkan kembali rasa masa mudanya.
Pun beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan kepuasan dan kebahagiaan hidup saat orang mencapai usia paruh baya. Namun penting untuk dicatat bahwa penurunan kebahagiaan tersebut tidak selalu besar.Bahkan beberapa penelitian lainnya berpendapat kepuasan seseorang terhadap kehidupan tampaknya meningkat saat mereka memasuki usia paruh baya dan kemudian menurun saat memasuki usia lanjut.
Sehingga istilah “krisis” mungkin kurang tepat untuk menggambarkan pengalaman paruh baya seseorang. Karena dalam penelitian lain hanya sekitar 10 hingga 20 persen orang dewasa yang mengaku pernah mengalami krisis paruh baya.
Walaupun demikian, tidak memungkiri juga akan ada pemicu stres baru saat memasuki usia ini. Mereka mungkin mulai menyesali jalur karier yang dipilihnya dan merasa terjebak oleh keputusan keuangannya. Atau mungkin juga khawatir tentang penurunan kemampuan fisik hingga resah dengan tujuan hidup yang telah terlewatkan.
Dua krisis ini memang sangat berbeda, pun termasuk tahapan usia terjadinya krisis ini memiliki jarak yang jauh. Quarter life crisis jika diamati melalui data memiliki kasus atau tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan midlife crisis. Namun walaupun demikian, segala bentuk krisis kehidupan yang terjadi, termasuk midlife crisis merupakan fase atau tahapan kehidupan yang perlu kebijaksanaan dalam menanggapinya.
Jika dibandingkan lebih dekat, quarter life crisis dan midlife crisis menempatkan dua generasi yang berbeda. Sebut saja diantara generasi muda dan generasi tua. Jika diamati dengan seksama, kedua generasi ini sebenarnya tengah mencari cara untuk mendapatkan kebahagiaan dan memiliki dampak yang lebih positif. Di tengah dua momen penting tersebut akan menciptakan peluang untuk percakapan yang bermakna dan lebih dalam antar dua generasi ini.
Dengan berbagi pengalaman, seluruhnya dapat saling mengangkat dan menarik garis kehidupan yang lebih tinggi untuk dijalani. Kebahagiaan, kebermaknaan, dan dampak positif menjadi landasan daripada lembah keinginan lebih.
Baca juga: Tips Mengatasi Sleep Terror pada Anak
Sumber:
Mertz, J. (2017). The Necessity of a Quarter-Life and Mid-Life Crisis. Thin Difference. https://www.thindifference.com/2016/10/necessity-quarter-life-mid-life-crisis/
mindbodygreen. (2022, February 17). Are You Going Through A Quarter-Life Crisis? What Experts Want You To Know. Mindbodygreen. https://www.mindbodygreen.com/articles/quarter-life-crisis
Smith, M., MA. (2023). Midlife Crisis: Signs, Causes, and Coping Tips. HelpGuide.org. https://www.helpguide.org/articles/aging-issues/midlife-crisis.htm
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



