Deeptalk.co.id – Dalam bukunya yang berjudul “The Mask of Sanity” (1976). Harvey Cleckley memperkenalkan konsep psikopati sebagai bentuk gangguan kepribadian yang ditandai dengan kurangnya empati dan ketidakmampuan untuk merasakan perasaan orang lain. Cleckley menggambarkan psikopat sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk menampilkan citra yang menarik dan menyesatkan kepada orang lain seperti memakai topeng. Oleh karena itu, istilah “mask” (topeng) digunakan dalam judul bukunya.
Cleckley mengidentifikasi sejumlah karakteristik psikopati, seperti kemampuan untuk memikat dan memanipulasi orang lain. Kecenderungan untuk berbohong dan menipu. Ketidakteraturan dalam perilaku dan kehidupan pribadi. Psikopat juga cenderung tidak memiliki rasa bersalah dan tidak memiliki rasa takut terhadap konsekuensi dari tindakan mereka. Mereka dapat memperlihatkan kecenderungan untuk bertindak impulsif dan melanggar norma sosial tanpa ada penyesalan.
Selain itu, Cleckley juga menekankan bahwa psikopat sering kali memiliki kepribadian yang berubah-ubah dan tidak stabil secara emosional. Mereka cenderung tidak memiliki rasa tanggung jawab atau perencanaan yang matang untuk masa depan mereka. Sementara itu, mereka cenderung menunjukkan ketidakpedulian dan perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap orang lain. Mereka juga dapat memiliki masalah dalam mempertahankan hubungan yang stabil dengan orang lain.
Namun, penting untuk dicatat bahwa teori Cleckley tentang psikopati telah menjadi kontroversial. Beberapa ahli kesehatan mental menemukan bahwa karakteristik yang digambarkan oleh Cleckley mungkin terlalu umum dan tidak spesifik. Meskipun demikian, konsep psikopati yang diperkenalkan oleh Cleckley masih relevan dalam studi dan diagnosis gangguan kepribadian yang berhubungan dengan kecenderungan manipulatif dan kecenderungan perilaku kriminal.
Baca juga: Pentingnya Meningkatkan Self-Esteem untuk Meningkatkan Kualitas Hidup
Karakteristik Utama Psikopat

Dalam bukunya “The Mask of Sanity” yang diterbitkan pada tahun 1941 dan diperbarui pada tahun 1976. Harvey Cleckley menggambarkan psikopati sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan kecenderungan untuk berperilaku tidak bertanggung jawab. Tidak memperhatikan perasaan orang lain, dan tidak memiliki rasa bersalah atau penyesalan. Cleckley menjabarkan karakteristik psikopati sebagai berikut:
1.Kecenderungan untuk berbohong dan memanipulasi. Psikopat cenderung menggunakan kebohongan dan manipulasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau memanipulasi orang lain.
2. Kurangnya empati. Psikopat tidak mampu merasakan empati atau merasakan perasaan orang lain.
3. Kebutuhan akan rangsangan. Psikopat cenderung membutuhkan stimulasi yang lebih tinggi dari orang normal untuk merasa puas atau merasa hidup.
4. Gaya hidup parasit. Psikopat sering mengandalkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, tanpa memperhatikan kesejahteraan atau perasaan orang lain.
5. Kurangnya kontrol impuls. Psikopat cenderung tidak memiliki kontrol impuls dan sering terlibat dalam perilaku yang tidak bertanggung jawab atau merugikan diri sendiri atau orang lain.
6. Kepribadian dangkal. Psikopat cenderung memiliki kepribadian dangkal atau permukaan, dengan sedikit atau tidak ada kedalaman emosional.
7. Kebutuhan akan pengakuan. Psikopat sering merasa perlu diakui atau dihormati, dan seringkali menunjukkan perilaku sombong atau over-confident.
8. Tidak ada rasa bersalah. Psikopat cenderung tidak merasa bersalah atau menunjukkan penyesalan atas tindakan mereka yang merugikan orang lain.
Perlu diingat bahwa karakteristik psikopat dapat bervariasi dari individu ke individu. Tidak semua psikopat menunjukkan semua karakteristik ini. Namun, deskripsi Cleckley telah menjadi dasar bagi banyak teori dan studi tentang psikopati. Kemudian terus menjadi referensi penting bagi para ahli dalam bidang ini.
Penyebab Psikopat

Penyebab gangguan psikopatik masih menjadi topik penelitian yang terus dipelajari oleh para ahli. Ada beberapa teori yang mengaitkan faktor biologis dan keberfungsian otak dengan terjadinya gangguan psikopatik.
Salah satu teori menyebutkan bahwa kerusakan atau disfungsi pada bagian otak yang terkait dengan pengambilan keputusan dan pengendalian impuls dapat memicu terjadinya gangguan psikopatik. Bagian otak tersebut adalah korteks prefrontal, amigdala, dan hipotalamus. Korteks prefrontal berperan dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian perilaku. Amigdala berperan dalam pengenalan emosi dan reaksi terhadapnya. Sedangkan hipotalamus berperan dalam pengendalian hormon dan perilaku.
Kerusakan atau disfungsi pada korteks prefrontal dapat mengakibatkan penurunan kemampuan dalam mengendalikan perilaku dan mengambil keputusan yang bijaksana. Hal ini dapat menyebabkan perilaku impulsif dan tidak terkendali. Selain itu, kerusakan atau disfungsi pada amigdala juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengenali emosi, termasuk empati. Sementara itu, kerusakan atau disfungsi pada hipotalamus dapat mengganggu produksi hormon yang berperan dalam pengendalian perilaku dan emosi.
Namun, tidak semua orang yang mengalami kerusakan atau disfungsi pada bagian otak tersebut akan mengalami gangguan psikopatik. Faktor lingkungan dan kehidupan juga turut berperan dalam terjadinya gangguan psikopatik. Misalnya, seseorang yang mengalami kekerasan fisik atau seksual saat masih kecil, atau dididik dalam lingkungan keluarga yang tidak stabil dan penuh tekanan dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan psikopatik di kemudian hari.
Dalam konteks ini, penting untuk mengingat bahwa gangguan psikopatik adalah suatu kondisi medis yang membutuhkan pengobatan dan penanganan yang tepat. Seseorang dengan gangguan psikopatik tidak dapat disembuhkan dengan mudah hanya dengan “kekuatan diri” atau “kesadaran diri”. Oleh karena itu, jika kamu atau orang terdekat kamu mengalami gejala atau perilaku yang mencurigakan, segeralah berkonsultasi dengan ahli psikologi atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca juga: Toxic Relationship dan Efek Kesehatan Mental Bagi Perempuan
Sumber:
Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



