Deeptalk.co.id – Erotomania adalah salah satu bentuk gangguan psikotik yang seringkali tersembunyi di balik lapisan-lapisan yang kompleks dalam dunia psikiatri. Dalam kondisi ini, individu yang terkena merasa yakin bahwa seseorang yang berada di dalam hati mereka adalah cinta sejati mereka, seringkali tokoh publik atau orang yang mereka kenal, meskipun tidak ada bukti yang mendukung keyakinan ini. Ada beragam faktor penyebab yang dapat memicu seseorang mengalami delusi subtipe erotomania ini.
Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang erotomania, memperkenalkan kita pada kondisi ini, dan membongkar faktor-faktor apa yang mungkin berperan dalam mendorong seseorang ke dalam dunia ilusi ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang penyebab erotomania, kita dapat lebih baik mendekati, memahami, dan memberikan dukungan kepada individu yang mungkin terkena dampaknya, sambil mempromosikan kesadaran tentang gangguan psikotik yang kurang dipahami ini.
Penyebab pasti dari gangguan erotomania tidak sepenuhnya jelas, tetapi diduga mirip dengan jenis delusi lainnya. Juga selain itu banyak faktor yang mungkin berperan dalam perkembangannya. Secara garis besar, penyebab erotomania ini berasal dari biologis, psikologis dan lingkungan, serta kombinasi dari ketiganya.
Beberapa penyebab yang paling signifikan dari erotomania tercantum dalam penjelasan berikut ini, yakni:
1. Stres atau Trauma Besar

Orang mungkin mengalami erotomania sebagai mekanisme koping sebagai respons terhadap stres atau trauma besar yang mereka alami. Pada makalah Ruzita Jamaluddin dari Rumah Sakit Tuanku Fauziah di Malaysia yang diterbitkan dalam Case Reports in Psychiatry edisi September 2021 menggambarkan kasus pasien erotomania dengan riwayat pelecehan dari hubungan sebelumnya.
Secara umum, trauma memainkan peran utama dalam perkembangan gangguan delusi. Hal ini terutama terjadi pada trauma masa kecil. Menurut sebuah penelitian oleh A. Powers dkk. dari Childhood Abuse & Neglect edisi Juni 2016, trauma berkontribusi terhadap psikosis (delusi atau halusinasi) karena paparan dini terhadap pengalaman semacam itu dapat memengaruhi fungsi otak. Selain itu, delusi, termasuk pada gangguan erotomania dapat terjadi ketika seseorang berjuang untuk mengatasi dan memproses traumanya dengan cara yang sehat.
Baca juga: Bagaimana Mengendalikan Ironic Process Dalam Diri?
2. Kelainan Otak
Perubahan struktur dan fungsi daerah otak tertentu serta kelainan yang mempengaruhi neurotransmiter dapat berkontribusi terhadap perkembangan erotomania. Laporan studi kasus oleh D.E. Fujii dkk. dari Neuropsychiatry, Neuropsychology, dan Behavioral Neurology edisi April 1999 mengungkapkan bahwa pasien dengan erotomania mungkin memiliki defisit dalam fleksibilitas kognitif dan pembelajaran asosiatif. Sistem frontal-subkortikal memediasi defisit ini termasuk defisit dalam keterampilan visuospasial dan verbal.
Selain itu, erotomania juga dikaitkan dengan kelainan pada area temporal. Sistem subkortikal frontal memediasi aktivitas dan perilaku motorik. Area temporal berpartisipasi dalam pemrosesan informasi pendengaran dan juga mengambil bagian dalam pengkodean memori.
Gangguan delusi, termasuk subtipe erotomania, berhubungan dengan ketidakteraturan neurotransmitter dopamin dan serotonin serta reseptornya. Perubahan fungsi otak mempengaruhi cara seseorang memandang dan memproses realitas, yang dapat membuka jalan menuju pemikiran delusi dan erotomania.
3. Genetika

Variasi pada beberapa gen dapat dikaitkan dengan perkembangan erotomania. Misalnya, penelitian M. Debnath dkk. dari Canadian Journal of Psychiatry edisi Mei 2006 mengidentifikasi gen HLA-A*03 terlibat dalam gangguan delusi dan skizofrenia paranoid. Namun, kecil kemungkinannya satu gen menyebabkan penyakit mental ini atau penyakit mental lainnya. Kombinasi gen berbeda juga terlibat. Sehingga faktor genetika tidak bertindak sendiri tetapi dibarengi dengan faktor penyebab lain.
4. Pengabaian Emosional
Pengabaian emosional ternyata dapat menyebabkan tanda-tanda trauma termasuk perilaku menyabotase diri sendiri dan keterikatan yang tidak aman sehingga memicu terjadinya erotomania. Buletin Skizofrenia edisi September 2017 menerbitkan makalah oleh A.A. Ababajobir dkk. dan menjelaskan bahwa orang yang mengalami berbagai bentuk penganiayaan, terutama pengabaian atau pengabaian secara emosional, lebih cenderung mengalami halusinasi dan delusi, termasuk subtipe erotomania.
Bagi individu tertentu, pengabaian emosional merupakan pengalaman traumatis baik yang terjadi di masa kanak-kanak maupun dewasa. Ketidakmampuan untuk mengatasi pengalaman seperti itu dapat mempengaruhi fungsi otak, seperti yang dijelaskan di atas dengan trauma, dan berkontribusi pada perkembangan pemikiran delusi. Dalam kasus erotomania, khayalan seseorang adalah tentang dicintai sebagai cara untuk mengisi kekosongan yang disebabkan oleh pengabaian emosional.
5. Kurangnya Pengalaman Seksual

Erotomania juga bisa disebabkan oleh kurangnya pengalaman seksual. Meskipun penelitian lebih lanjut mengenai subjek ini diperlukan, bukti terkini termasuk makalah oleh A.V. Sowmya dkk. dari Industrial Psychiatry Journal edisi Oktober 2021 menunjukkan penderita erotomania cenderung tidak berpengalaman secara seksual.
Selain kurangnya pengalaman seksual, penderita erotomania tidak pernah memiliki hubungan yang berarti dan menjalani hidupnya yang kesepian. Mekanisme yang mendasari kurangnya pengalaman seksual atau romantis menyebabkan erotomania tidak diketahui. Penyakit ini dapat mempengaruhi fungsi otak dan dikombinasikan dengan penyebab lainnya.
6. Gangguan kesehatan neurologis atau mental lainnya
Erotomania, juga seperti jenis delusi lainnya, mungkin berasal dari kondisi lain termasuk skizofrenia, demensia, dan gangguan bipolar. Kondisi ini mempengaruhi fungsi otak dan mengganggu neurotransmitter. Dengan begitu, hal-hal tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang realitas dan dengan demikian menimbulkan delusi.
Baca juga: Waspada! Dampak Euphoric Mood Bagi Kesehatan Mental
Sumber:
Zayed, A. (2023, April 10). Erotomania: definition, causes, symptoms, and treatments – The Diamond Rehab Thailand. The Diamond Rehab Thailand. https://diamondrehabthailand.com/what-is-erotomania-delusion
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



