Deeptalk.co.id – Penolakan adalah pengalaman yang umum terjadi dalam kehidupan manusia, baik dalam hubungan pribadi, profesional, maupun sosial. Meskipun merupakan bagian alami dari interaksi manusia, penolakan dapat memicu perasaan yang sangat tidak nyaman dan menyakitkan.
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa penolakan bisa terasa begitu menyakitkan dan bagaimana dampaknya terhadap kesejahteraan emosional kita. Dengan memahami alasan di balik rasa sakit yang terkait dengan penolakan, kita dapat mengelola dan mengatasi emosi negatif yang muncul akibat pengalaman ini.
Tentang Penolakan

Penolakan menjadi salah satu luka emosional yang sering dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. Risiko penolakan biasanya dibatasi oleh ukuran lingkaran sosial langsung. Pun saat ini dengan perkembangan teknologi dan adanya platform media sosial, membuat kita menjadi lebih banyak terhubung dengan orang. Yang mana mungkin adanya penolakan seperti tidak menyukai unggahan, mengabaikan pesan teks dan lain-lain yang membuat diri kita terasa ditolak.
Selain penolakan kecil semacam ini, Anda mungkin juga masih rentan terhadap penolakan yang serius dan lebih dahsyat. Seperti ketika pasangan Anda meninggalkan Anda, atau dipecat dari pekerjaan, dilecehkan teman-teman atau dikucilkan oleh keluarga dan komunitas.
Penolakan adalah hal yang normal, meskipun rasanya bisa benar-benar melumpuhkan. Baik penolakan yang Anda alami itu kecil atau besar, itu tetaplah konstan. Yakni penolakan apapun itu bentuknya selalu menyakitkan dan biasanya lebih menyakitkan dari yang diharapkan.
Baca juga: Mengungkap Asal Usul dan Pemicu Inner Child, Serta Pentingnya Bagi Diri
Penolakan Terasa Menyakitkan

Memang benar penolakan adalah hal yang normal, pun demikian perasaan menyakitkan dari penolakan juga hal yang wajar. Dan pertanyaannya ialah, mengapa penolakan itu bisa menyakitkan perasaan kita hingga bahkan merusak suasana hati?
Sebenarnya penolakan yang memberikan kerusakan terbesar biasanya disebabkan oleh diri sendiri. Tepat ketika harga diri Anda merasa paling terluka, Anda memilih untuk pergi dan merusaknya paling jauh.
Sedangkan secara ilmiah, perasaan menyakitkan akibat penolakan itu dimulai dari otak yang terhubung untuk meresponnya dengan cara seperti itu. Fakta ini dibuktikan oleh para peneliti melalui mesin MRI fungsional yang diuji-cobakan pada orang-orang ketika mengingat rasa penolakan itu.
Ketika para ilmuwan menempatkan orang dalam mesin MRI fungsional dan meminta mereka untuk mengingat penolakan baru-baru ini, mereka menemukan sesuatu yang luar biasa. Area otak yang sama pada setiap orang menjadi aktif saat mengalami penolakan, layaknya ketika mengalami rasa sakit fisik.
Inilah yang menjawab mengapa bahkan penolakan kecil lebih menyakitkan daripada yang Anda pikirkan. Penolakan menimbulkan rasa sakit yang nyata walaupun secara emosional. Dengan kata lain, otak tidak bisa membedakan antara rasa sakit putus cinta dan rasa sakit karena patah lengan.
Oleh karena itu, jika Anda pernah merasa hancur karena kurangnya hubungan sosial atau tiba-tiba kehilangan hubungan yang Anda andalkan, ketahuilah bahwa rasa sakit Anda juga nyata. Serta seperti kebanyakan cedera fisik, ada tindakan yang dapat Anda lakukan untuk merasa lebih baik.
Pemrosesan di Otak Mengenai Rasa Menyakitkan Pada Penolakan
Menurut psikolog evolusioner, ini semuanya terjadi dan dimulai ketika manusia adalah pemburu atau pengumpul yang tinggal di suku pedalaman. Dikarenakan manusia tidak dapat hidup sendirian, mendapatkan pengucilan dari orang sekitar sudah seperti mendapatkan hukuman mati.
Akibatnya, manusia pun mengembangkan mekanisme peringatan dini untuk memperingatkan dirinya ketika berada dalam bahaya, dan itu adalah penolakan. Orang-orang yang mengalami penolakan karena lebih menyakitkan lebih cenderung mengubah perilaku mereka, dengan tetap berdaptasi dan mewariskannya pada gen mereka.
Meskipun tentu saja perasaan menyakitkan secara emosional hanyalah salah satu cara penolakan yang memengaruhi kesejahteraan diri. Ini tentu dapat merusak suasana hati dan harga diri yang kemudian menimbulkan gelombang kemarahan dan agresi. Ini bisa menggoyahkan kebutuhan Anda untuk “dimiliki”.
Sayangnya, penyebab penolakan kerusakan terbesar biasanya disebabkan oleh diri sendiri. Memang, respons alami manusia saat dicampakkan oleh pasangan kencan atau menjadi pilihan terakhir pada sebuah tim bukan hanya menjilat luka Anda, namun ini bisa mendorong Anda untuk menjadi sangat kritis terhadap diri sendiri.
Dengan demikian Anda dapat menyebut diri Anda sendiri, meratapi kekurangan diri dan merasa muak dengan keadaan diri Anda sendiri. Termasuk saat harga diri Anda merasa paling terluka, Anda justru pergi dan merusaknya lebih jauh. Melakukan hal itu secara emosional tidak sehat dan secara psikologis merusak diri sendiri, namun setiap orang dari kita pernah melakukannya pada satu waktu atau yang lain.
Baca juga: Tips Efektif Agar Terhindar Dari Midlife Crisis
Sumber:
Winch, G. (2022, October 16). Why rejection hurts so much — and what to do about it. ideas.ted.com. https://ideas.ted.com/why-rejection-hurts-so-much-and-what-to-do-about-it/
Van Edwards, V. (2022, June 17). Why Rejection Hurts So Much And How To Heal The Pain. Science of People. https://www.scienceofpeople.com/rejection-hurts/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



