Deeptalk.co.id – Kita semua pernah merasakannya: perut kosong yang berdengung dan ketika itu disertai dengan rasa marah, situasi bisa menjadi lebih rumit. Ternyata, ada mekanisme tubuh yang terlibat dalam reaksi marah saat lapar yang mungkin akan membuat kita bertanya-tanya mengapa kita merasa lebih mudah marah saat kita kelaparan.
Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang mekanisme ini dan bagaimana tubuh kita merespons ketika kita merasa lapar dan marah. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan ini, kita dapat belajar mengelola emosi dan memberikan perhatian yang lebih baik pada tubuh kita.
Penjelasan Ilmiah Dibalik Emosi Marah Saat Lapar

Diketahui bahwa kelaparan dapat mempengaruhi pusat suasana hati di otak yang berhubungan dengan kesedihan, ketegangan, kemarahan dan bahkan harga diri rendah. Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa rasa lapar membuat seseorang cenderung melihat sesuatu secara negatif.
Dalam sebuah penelitian, 64 orang mencatat emosi dan tingkat rasa lapar mereka lima kali sehari selama tiga minggu. Rasa lapar ditemukan meningkatkan perasaan marah dan mudah tersinggung serta mengurangi tingkat kesenangan.
Studi lain menemukan bahwa rasa lapar menyebabkan perubahan suasana hati yang negatif. Dalam serangkaian penelitian, para peneliti mencatat bahwa subjek yang lapar cenderung merasa jengkel atau kesal karena gambar yang “tidak menyenangkan”. Hal ini terutama terjadi ketika partisipan tidak fokus pada keadaan emosi mereka.
Para peneliti juga mulai mengeksplorasi bagaimana rasa lapar bisa berdampak buruk. Dalam sebuah penelitian kecil terhadap pasangan menikah, kadar gula darah rendah dikaitkan dengan rendahnya pengendalian diri dan meningkatnya perasaan agresif terhadap pasangannya.
Ada juga beberapa faktor yang terlibat saat tubuh terasa lapar. Saat makan, saluran gastrointestinal (GI), yang meliputi lambung dan usus, memecah makanan. Hal ini meningkatkan kadar gula (glukosa) dalam darah. Tidak makan dalam waktu lama menyebabkan kadar ini menurun, salah satu gejala utamanya adalah mudah tersinggung hingga marah.
Iritabilitas ini dikaitkan dengan aktivitas hormon tertentu, termasuk adrenalin, yang dilepaskan ketika kadar glukosa darah terlalu rendah. Sebagai bagian dari respons fight-or-flight tubuh sebagai reaksi alami terhadap bahaya, adrenalin menyebabkan kadar glukosa melonjak, mempersiapkan tubuh untuk mempertahankan diri. Tanpa adanya ancaman nyata, kenaikan ini menyebabkan kelebihan energi. Hal ini menyebabkan kegelisahan, mudah tersinggung, dan kehilangan kendali diri.
Saat individu kekurangan energi, sejumlah perubahan juga terjadi di dalam tubuh dan otak yang memengaruhi cara dalam berpikir, merasakan dan bertindak. Banyak dari perubahan ini terjadi karena dua hormon yang dilepaskan tubuh saat lapar, yakni ghrelin dan kortisol.
1. Ghrelin
Saat perut kosong, tubuh akan melepaskan hormon yang disebut “ghrelin”. Hormon ini mengirimkan sinyal ke bagian tertentu di otak yang membuat individu berpikir, “Saya lapar, saya perlu makan.”
Para peneliti sedang mempelajari cara-cara baru agar ghrelin dapat mengaktifkan lebih banyak area otak. Hal ini sebenarnya berpengaruh besar terhadap fungsi otak. Studi menunjukkan bahwa peningkatan kadar ghrelin secara langsung mempengaruhi suasana hati, termasuk gejala depresi dan kecemasan, kontrol impuls rendah, perilaku mencari imbalan (melalui jalur serupa yang memicu kecanduan), gangguan pembelajaran dan memori, perasaan yang berhubungan dengan stres psikologis, serta siklus tidur/bangun terganggu.
Dengan kata lain, ghrelin tidak hanya membuat otak berpikir “Saya lapar.” Ini memengaruhi jalur otak yang kuat yang mengubah cara seseorang merasakan, berpikir, dan memandang dunia.
Baca juga: Mengapa Slow Living Bisa Membantu Mengurangi Stres dan Kecemasan?
2. Kortisol
Ketika gula darah mulai turun atau saat lapar, tubuh kemudian melepaskan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin. Demikian juga ghrelin yang memliki andil juga dalam melepaskan hormon-hormon tersebut. Hormon stres berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia. Hormon ini memicu jalur yang menjaga gula darah tetap dalam kisaran normal hingga akhirnya dapat menemukan makanan.
Mereka juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap suasana hati dan perilaku. Secara khusus, mereka memicu respons “fight-flight-freeze” di otak. Jadi meskipun hanya beberapa jam sejak terakhir kali tubuh mendapatkan asupan makan, otak menganggap situasi tersebut sebagai ancaman langsung terhadap kehidupan. Dan hal ini dapat menimbulkan perasaan takut dan panik, perubahan fokus dan konsentrasi, serta perubahan perilaku secara tiba-tiba.
Para peneliti masih belum yakin mengapa hanya sebagian orang yang mengalami kelaparan dan sebagian lainnya tidak begitu terpengaruh oleh kelaparan. Mirip dengan pengalaman orang-orang dengan kesehatan mental, cara otak kita merespons perubahan kadar hormon sedikit berbeda. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara pasti mengapa beberapa orang lebih rentan terhadap episode hangry dibandingkan yang lain.
Kabar baiknya adalah ketika Anda akhirnya makan, kadar hormon ini cenderung kembali normal, dan Anda kembali merasa seperti diri Anda yang normal.
Baca juga: Menghadapi Pasangan Man-Child Dalam Sebuah Hubungan
Sumber:
https://www.goodrx.com/health-topic/mental-health/why-do-people-get-hangry
https://www.verywellhealth.com/hangry-7499808
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



