Deeptalk.co.id – Kamu mungkin sudah mengenal atau pernah mendengar mengenai gangguan bipolar. Namun, tahukah kamu bahwa terdapat suatu gangguan dengan gejala yang hampir mirip gangguan bipolar? Gangguan tersebut biasa dikenal dengan gangguan siklotimia.
Saking miripnya, gangguan siklotimia sering disalah artikan sebagai gangguan bipolar. Untuk itu agar mendapatkan diagnosis yang tepat, penderita gangguan psikologi tipe apapun itu perlu melalui serangkaian pemeriksaan dari psikolog ataupun psikiater.
Artikel kali ini akan membahas secara khusus mengenai gangguan siklotimia. Namun, perlu diperhatikan bahwa artikel ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan untuk melakukan self diagnosis. Jika para pembaca merasa memiliki beberapa gejala yang diungkap dari artikel ini, sebaiknya segera konsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan juga penanganan yang tepat.
Pengertian Gangguan Siklotimia

Sama halnya dengan gangguan bipolar, gangguan siklotimia merupakan gangguan suasana hati yang mengakibatkan penderita mengalami emosi yang naik turun. Namun perubahan suasana hati yang dialami oleh penderita siklotimia tidak sedrastis pengidap bipolar.
Penderita bipolar mengalami perubahan emosi yang ekstrim dari fase depresi atau kesedihan yang mendalam, menjadi mania atau perasaan senang yang berlebihan. Sedangkan penderita skilotimia memiliki pola emosi dari depresi – normal – hipomania, atau sebaliknya. Hipomania sendiri merupakan perasaan senang diluar batas wajar, namun masih lebih ringan dibandingkan dengan fase mania. Selain itu, fase depresi yang dialami oleh penderita siklotimia juga tidak membuat mereka berpikiran untuk bunuh diri seperti yang dialami oleh penderita bipolar.
Fase hipomania pada penderita siklotimia membuatnya memiliki energi yang sangat besar. Mereka bahkan bisa tidak tidur berhari-hari karena fokus mengerjakan sesuatu. Sedangkan fase depresi pada penderita siklotimia akan membuat mereka kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Meski demikian, penderita siklotimia tidak menghentikan aktivitas harian mereka. Hanya saja, aktivitasnya menjadi lebih lambat dan bagaikan kehilangan semangat mereka.
Sayangnya, karena gejala yang ditunjukkan tidak seekstrim pada penderita bipolar, gangguan siklotimia seringkali tidak disadari oleh penderitanya. Namun, gangguan ini perlu mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Pasalnya, gangguan siklotimia yang tidak mendapatkan penanganan dapat meningkat menjadi gangguan bipolar tipe 1 dan 2.
Gejala Gangguan Siklotimia

Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, penderita gangguan siklotimia menunjukkan fase depresi, normal, dan hipomania. Pada fase depresi, penderita siklotimia hanya akan menjalani hidup dengan normal seperti orang-orang pada umumnya, namun tidak pada fase depresi dan hipomania. Berikut beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penderita siklotimia saat berada di fase depresi dan hipomania:
Fase depresi
Fase depresi yang dirasakan oleh penderita gangguan siklotimia akan lebih ringan dibandingkan dengan depresi yang dirasakan oleh penderita bipolar. Fase depresi ini biasanya akan berlangsung berminggu-minggu dan kemudian diikuti oleh fase hipomania yang berlangsung beberapa hari.
Pada fase depresi, penderita siklotimia menjadi lebih cepat marah, lebih agresif, mudah tersinggung, mengalami gangguan tidur, nafsu makan menurun, mudah lelah, libido seks menurun, mudah putus asa dan merasa bersalah, serta mudah lupa dan kesulitan berkonsentrasi.
Fase hipomania
Pada fase hipomania, penderita siklotimia umumnya akan menunjukkan gejala seperti mudah merasa cemas, mengeluarkan pendapat yang tidak masuk akal, gegabah dalam mengambil keputusan, merasa gelisa, terlalu bersemangat sehingga terkadang terlihat tidak masuk akal, tidak teliti, dan berbicara dengan cepat sampai kesulitan untuk memahami apa yang diucapkan.
Baca juga: Anak Kesulitan Membaca? Bisa Jadi Gejala Disleksia
Penyebab Gangguan Siklotimia

Sayangnya, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan gangguan siklotimia hingga saat ini. Namun, beberapa ahli percaya bahwa faktor keturunan, perubahan sistem saraf, dan juga faktor lingkungan akan memperbesar kemungkinan seseorang mengalami gangguan siklotimia.
Faktor keturunan
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan suasana hati seperti depresi, bipolar, atau siklotimia itu sendiri, akan berpeluang lebih besar mengalami gangguan yang sama. Namun hal ini belum bisa dipastikan apakah diakibatkan genetik yang diturunkan oleh orang tua, atau hasil belajar mengenai pola tingkah laku anak dari orang tuanya.
Perubahan saraf pada otak
Terdapat senyawa kimia dalam otak yang diproses secara alami oleh tubuh, senyawa kimia ini biasa dikenal dengan hormon serotonin. Hormon yang satu ini bertugas untuk meningkatkan perasaan bahagia seseorang. Dengan demikian, kurangnya hormon serotonin dapat mengakibatkan fase depresi, dan kelebihan hormon serotonin dapat mengakibatkan fase hipomania.
Faktor lingkungan
Pada dasarnya faktor lingkungan sangat berpengaruh dengan kondisi mental seseorang. Seseorang yang memiliki tempat kerja dengan tekanan yang tinggi akan membuat kondisi emosi karyawan menjadi tidak stabil. Selain itu, adanya pengalaman traumatis dan stress dalam jangka waktu yang cukup lama akan membuat seseorang beresiko mengalami gangguan siklotimia.
Seperti itulah gangguan siklotimia, walaupun tidak menunjukkan gejala yang lebih parah seperti gangguan bipolar tipe 1 dan 2, namun gangguan siklotimia yang tidak mendapatkan penanganan tepat akan beresiko berkembang menjadi gangguan bipolar tipe 1 atau 2.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Cara Mengatasi Self-Diagnosis Terhadap Kesehatan Mental



