Deeptalk.co.id – Tidak bisa dipungkiri bahwa banyaknya tekanan dan permasalahan hidup yang menimpa banyak orang membuat kita semakin dekat dengan perasaan sedih yang berkepanjangan. Kesedihan yang terus berlanjut diikuti dengan perasaan-perasaan negatif lainnya akan membuat penderita mengalami depresi.
Pembahasan mengenai depresi tentu sudah sering dijumpai baik itu melalui forum seminar, video pendek, artikel, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, depresi merupakan salah satu kondisi yang dapat menyebabkan seseorang memilih untuk bunuh diri.
Seseorang yang merasa depresi akan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-harinya, walaupun itu aktivitas yang disenangi sekalipun. Hal ini tentu akan mengganggu produktivitas. Terlebih lagi jika depresi dialami saat masa-masa produktif.
Jika kamu sudah cukup familiar dengan kata “depresi”, bagaimana dengan distimia? Istilah yang satu ini memang tidak sepopuler depresi. Meski demikian, distimia merupakan salah satu jenis depresi yang dikenal juga dengan istilah depresi persisten.
Berbeda dengan gangguan depresi mayor yang menunjukkan gejala yang cukup berat, penderita gangguan distimia tidak menunjukkan gejala yang separah itu. Meski demikian, distimia dapat dialami dalam jangka panjang. Setidaknya selama 2 tahun dan terjadi hampir sepanjang waktu. Singkatnya, distimia memiliki gejala yang ringan, namun berlangsung lama dan cukup sering.
Untuk lebih jelasnya, kami akan membahas lebih detail mengenai gangguan distimia pada artikel kali ini.
Pengertian Gangguan Distimia

Distimia atau yang dikenal juga dengan istilah depresi persisten merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kesedihan yang mendalam dan terjadi dalam jangka panjang. Sama dengan gangguan depresi pada umumnya, penderita distimia juga cenderung kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Mereka akan merasa putus asa, kesedihan yang mendalam, penurunan produktivitas dan lain sebagainya.
Walaupun gejala yang ditunjukkan tidak seberat penderita gangguan depresi mayor, namun gangguan ini berlangsung sangat lama. Dengan demikian, aktivitas sehari-hari akan sangat mengganggu. Gangguan ini akan membawa dampak negatif terhadap kehidupan sosial, seperti pekerjaan, pendidikan, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
Penderita gangguan distimia juga akan terlihat sangat muram. Mereka selalu murung dan meratapi kesedihannya. Gangguan distimia pada anak lebih menunjukkan perasaan yang mudah tersinggung dibandingkan depresi.
Gejala Gangguan Distimia

Penderita gangguan distimia bisa jadi menunjukkan gejala yang berbeda-beda dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pula. Gejala tersebut juga bisa datang dan pergi. Penderita bisa mengalami gejala seharian dan keesokan harinya kembali normal. Namun gejala akan muncul lagi di hari-hari lain.
Dapat dikatakan sebagai gangguan distimia jika gejala berlangsung setidaknya 2 tahun pada orang dewasa, dan 1 tahun pada anak dan remaja. Setidaknya, penderita menunjukkan 2 atau lebih gejala berikut:
· Mengalami penurunan atau peningkatan nafsu makan
· Mengalami insomnia atau hipersomnia
· Mudah lelah dan kehilangan energi
· Merasa rendah diri
· Kesulitan berkonsentrasi atau mengambil keputusan
· Merasa tidak berdaya
Selain itu, perlu dipastikan bahwa gejala yang ditunjukkan bukanlah gejala depresi mayor. Namun, depresi mayor bisa saja berlangsung di tengah-tengah distimia. Kondisi ini biasa disebut dengan depresi ganda.
Selain itu, perlu dipastikan juga bahwa tidak terdapat episode mania, hipomania, atau siklotimia. Masih banyak hal lagi yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan apakah seseorang benar-benar mengalami distimia atau tidak.
Untuk itu, diperlukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater demi mendapatkan diagnosis yang tepat. Dari diagnosis tersebutlah baru dapat ditentukan penanganan apa yang bisa diberikan kepada penderita.
Baca juga: Antrofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Bunga
Penyebab Gangguan Distimia

Sama halnya dengan gangguan depresi lainnya, penyebab dari gangguan distimia juga belum diketahui secara pasti. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan distimia, yaitu:
Kondisi otak
Penderita distimia bisa jadi memiliki perbedaan atau perubahan struktur otak. Selain itu, adanya ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak yang mengatur kebahagiaan dan kesedihan, bisa menjadi faktor pemicu seseorang mengalami gangguan distimia.
Genetik
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan, depresi, bipolar, atau jenis gangguan suasana hati lainnya, akan beresiko mengalami gangguan distimia lebih besar.
Kejadian traumatis
Seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis seperti kekerasan, kehilangan orang yang dicintai, merasakan tekanan yang besar, dan lain sebagainya juga dapat meningkatkan resiko gangguan distimia.
Kondisi kesehatan mental
Gangguan distimia bisa jadi komplikasi dari beberapa kondisi kesehatan mental lainnya. Misalnya pada penderita gangguan kecemasan, bipolar, depresi mayor, dan lain sebagainya, bisa jadi juga mengalami gangguan distimia.
Kondisi kesehatan fisik
Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, kesehatan fisik dan kesehatan mental akan saling mempengaruhi satu sama lain. Seseorang yang memiliki gangguan kesehatan fisik seperti penyakit jantung, diabetes, gegar otak, dan lain sebagainya, bisa menjadi resiko gangguan distimia. Hal ini akan menjadi lebih parah jika gangguan fisik tidak kunjung pulih. Penderita akan mengalami kesedihan mendalam dan cenderung menjadi putus asa.
Seperti itulah gangguan distimia. Walaupun tidak memiliki gejala seberat gangguan depresi mayor, namun bukan alasan untuk diabaikan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Tips Mengatasi Depresi



