Deeptalk.co.id – Setiap orang tentu pernah merasa sedih, sakit hati, hampa, putus asa, dan lain sebagainya. Pada beberapa orang, kondisi tersebut akan membuatnya kehilangan semangat untuk sekedar melakukan rutinitas mereka. Kondisi ini dikenal dengan istilah depresi.
Kata depresi sendiri tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Kamu pasti pernah mendengar teman atau orang disekitar mu berkata “aku lagi depresi banget nih”. Walaupun kondisi yang dirasakan bisa jadi bukan gangguan depresi yang diketahui dalam ilmu psikologi. Meski demikian, tidak tidak boleh mengabaikan kalimat tersebut, bisa jadi orang itu sedang mencari cela untuk bercerita dan sekedar mengurangi beban di pundaknya.
Perasaan sedih, hampa, putus asa, dan perasaan-perasaan negatif yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan berlangsung cukup lama bisa berdampak pada kondisi kesehatan mental seseorang. Salah satu gangguan yang dekat dengan kondisi tersebut adalah gangguan depresi mayor.
Simak penjelasan lebih lengkap mengenai gangguan depresi mayor dalam artikel ini.
Pengertian Gangguan Depresi Mayor

Gangguan depresi mayor merupakan kondisi dimana seseorang merasakan kesedihan yang mendalam, putus asa, hampa, dan perasaan-perasaan negatif lainnya, yang membuat mereka kehilangan minat dalam hal-hal yang sebelumnya mereka minati.
Kata mayor dalam hal ini menggambarkan bahwa gangguan depresi yang satu ini memiliki gejala yang lebih parah dibandingkan dengan gangguan depresi persisten. Meski demikian, gangguan depresi mayor tidak berlangsung lama. Biasanya akan berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Tergantung pada seberapa tinggi tingkat keparahan gangguan yang dialami.
Gangguan depresi mayor perlu mendapatkan penanganan yang serius. Pasalnya, penderita gangguan depresi mayor akan mengalami banyak kendala dari kendala sosial, emosional, bahkan fisik penderita.
Beberapa orang yang mengalami gangguan depresi mayor memilih untuk tidak meninggalkan rumah. Mereka bahkan mengabaikan pekerjaan atau sekolah yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Dengan demikian, produktivitas penderita gangguan depresi mayor juga akan menurun.
Baca juga: Ailurofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Kucing
Penyebab Gangguan Depresi Mayor

Menurut World Health Organization (WHO), gangguan depresi merupakan gangguan yang paling umum dialami oleh orang-orang di seluruh dunia dan menjadi penyebab utama kecacatan. Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan depresi mayor.
Meski demikian, beberapa faktor dipercaya dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan depresi mayor. Adapun faktor resiko gangguan ini adalah sebagai berikut:
Perbedaan biologis
Walaupun belum diketahui secara pasti struktur biologis seperti apa yang menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan depresi mayor, namun pada beberapa penderita gangguan depresi mayor ditemukan terdapat beberapa perubahan fisik terhadap struktur otanya.
Bahan kimia pada otak
Neurotransmitter kemungkinan berperan terhadap adanya gangguan depresi mayor pada seseorang. Neurotransmitter sendiri merupakan bahan kimia yang muncul secara alami pada otak. Efek dari bahan kimia tersebut dipercaya mampu mempengaruhi perubahan suasana hati seseorang. Dengan demikian, adanya bahan kimia ini dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan depresi mayor.
Hormon
Perubahan hormon sangat sering terjadi pada wanita. Misalnya saat wanita sedang dalam masa kehamilan atau dengan mengalami menstruasi. Perubahan hormon yang terjadi dapat mempengaruhi suasana hati seseorang. Dengan demikian, perubahan hormon juga berperan dalam meningkatkan resiko depresi pada penderitanya.
Gejala Gangguan Depresi Mayor

Gangguan depresi mayor memang tidak berlangsung seumur hidup. Meski demikian, gejala yang ditimbulkan cukup mengganggu kegiatan sehari-hari. Gejala depresi juga dialami hampir sepanjang hari. Adapun gejala yang dirasakan bisa berupa perasaan sedih, kosong, putus asa, kehilangan minat terhadap aktivitasnya, mudah marah dan frustasi, mengalami gangguan tidur, mudah lelah, kehilangan atau memiliki nafsu makan yang berlebihan, kesulitan untuk berpikir jernih, selalu merasa bersalah, dan adanya keinginan untuk bunuh diri.
Meski demikian, gejala yang ditunjukkan setiap orang bisa jadi akan berbeda-beda. Selain itu, anak dan remaja yang mengalami gangguan depresi mayor juga mungkin akan menunjukkan gejala yang sama. Namun terdapat beberapa gejala khusus juga.
Pada anak-anak gejala yang ditunjukkan bisa berupa perasaan sedih yang mendalam, mudah marah atau tantrum, merasa khawatir, mudah sakit atau merasa nyeri pada bagian tubuh tertentu, menolak untuk pergi ke sekolah, dan mengalami penurunan atau penaikan berat badan yang cukup drastis.
Pada remaja, gejala yang ditunjukkan bisa berupa perasaan sedih yang tak tertahankan, mudah marah dan kesulitan untuk mengatur emosi, merasa tidak berharga dan tidak dihargai, mengalami penurunan kemampuan akademik dan non akademik, dan merasa susah dipahami oleh orang lain. Beberapa remaja juga mengalihkan perasaan depresi dengan penggunaan obat-obatan terlarang atau mengkonsumsi alkohol secara berlebihan. Tidak jarang diantara mereka justru melakukan self harm atau melukai diri sendiri, bahkan berpikiran untuk bunuh diri.
Gangguan depresi mayor memang tidak berlangsung lama, namun gejala dan akibat yang ditimbulkan dapat mengancam jiwa seseorang. Untuk itu, jika kamu atau orang disekitar memiliki gejala depresi mayor, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Semoga artikel ini dapat membantu.
Baca juga: Bagaimana Cara Menghilangkan Pikiran Bunuh Diri?



