Deeptalk.co.id – Suara-suara tertentu memang membuat beberapa orang merasa risih. Misalnya saat kita mendengar orang makan sambil mengecap. Meski demikian, orang-orang pada umumnya masih memberikan respon yang normal. Hal berbeda jika orang tersebut merupakan penderita misophonia. Penderita misophonia akan memberikan respon yang terkesan berlebihan.
Jadi, seperti apa sebenarnya misophonia itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai misophonia. Sebelum kita masuk pada topik utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu memiliki masalah dengan kondisi mentalmu, jangan ragu untuk konsultasi dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosa yang tepat.
Pengertian Misophonia

Misophonia adalah kondisi dimana seseorang memiliki kepekaan yang lebih besar terhadap suara-suara tertentu. Misalnya pada suara mengunyah, bernapas, menguap, dan lain sebagainya dari orang lain. Namun uniknya, penderita misophonia tidak merasa terganggu jika sumber suara tersebut adalah dirinya sendiri.
Walaupun suara-suara yang mengganggu penderita misophonia umumnya memang mengganggu banyak orang, namun pada kondisi misophonia akan lebih parah. Penderita misophonia bisa mengalami stress akut dengan mendengar suara-suara mengganggu tersebut.
Penderita misophonia akan memberikan respon flight or fight secara otomatis jika mendengar suara-suara yang dianggapnya mengganggu. Respon flight or fight tersebut umumnya merupakan respon terhadap ancaman. Dengan demikian, penderita misophonia merasa sangat tidak nyaman dan terancam akan suara-suara yang mengganggu.
Pada dasarnya, misophonia bukanlah masalah yang sangat berbahaya. Meski demikian, kondisi tersebut bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, dan juga hubungan sosial penderitanya. Selain itu, misophonia juga termasuk kondisi yang cukup sering dijumpai. Dasarkan artikel yang diterbitkan oleh siloamhospitals.com, terdapat sekitar 20% penderita misophonia dari seluruh total populasi dunia.
Suara yang dianggap mengganggu bagi penderita misophonia cukup beragam. Namun beberapa diantaranya adalah suara menyeruput, mengunyah, bernapas, menelan, mengetik, mengecapkan bibir, memainkan pena, suara detik jam, hingga suara air menetes.
Penyebab Misophonia

Walaupun kondisi misophonia terbilang cukup umum, namun sayangnya penyebab utama dari kondisi tersebut belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, para ahli berpendapat bahwa kondisi misophonia akan lebih beresiko pada:
· Penderita gangguan perkembangan saraf dan otak. Misalnya pada penderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), autisme, dan sindrom tourette.
· Penderita gangguan mental. Misalnya pada penderita depresi mayor, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan stres pasca trauma (PTSD), dan gangguan kepribadian ambang.
· Penderita gangguan pendengaran. Misalnya pada penderita tinnitus, hiperakusis, atau gangguan lainnya.
· Faktor genetik, yaitu seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi misophonia akan lebih beresiko mengalami kondisi serupa.
Baca juga: 6 Tipe PTSD
Gejala Misophonia

Gejala misophonia dapat dilihat dari cara mereka merespon suara-suara yang dianggap mengganggu. Setiap penderita misophonia bisa saja menunjukan gejala yang berbeda-beda. Meski demikian, secara umum mereka menunjukan beberapa gejala berupa reaksi berikut:
Reaksi emosional
Gejala pertama bisa berupa reaksi emosional. Reaksi emosional sendiri merupakan respon penderita misophonia terhadap suara berupa perasaan yang dialami saat mendengar suara yang dianggap mengganggu. Umumnya, reaksi emosional ini berupa perasaan mengganggu atau tidak nyaman. Beberapa diantaranya merasa jijik, cemas, takut, sedih, dan juga tersinggung.
Reaksi fisik
Gejala kedua misophonia bisa berupa reaksi fisik. Reaksi fisik adalah respon penderita misophonia terhadap suara tidak menyenangkan yang merupakan upaya untuk melindungi diri sendiri. Reaksi fisik ini umumnya mirip dengan respon seseorang saat berhadapan dengan situasi yang berbahaya. Reaksi fisik penderita misophonia bisa berupa tekanan darah meningkat, keringat berlebih, merinding, detak jantung tidak beraturan, dan juga sesak napas.
Reaksi perilaku
Gejala ketiga misophonia bisa berupa reaksi perilaku. Reaksi perilaku adalah respon penderita misophonia terhadap suara tidak menyenangkan yang berupa tindakan atau aksi tertentu. Tindakan atau aksi tersebut biasanya secara naluri dan sulit untuk dikendalikan. Reaksi perilaku pada penderita misophonia juga cukup beragam, misalnya menghindari tempat atau situasi yang memicu suara tidak menyenangkan, meninggalkan pemicu suara, secara verbal mengomentari pemicu suara, dalam beberapa kasus penderita misophonia bahkan menggunakan kekerasan untuk menghentikan suara tidak menyenangkan tersebut.
Itu dia penjelasan singkat mengenai kondisi misophonia. Pada dasarnya, misophonia merupakan kondisi yang masih belum diakui secara resmi. Meski demikian, terganggunya aktivitas dan hubungan sosial penderita misophonia membuat mereka tetap harus melakukan penanganan akan kondisi tersebut. Beberapa penderita misophonia mungkin menganggap dirinya baik-baik saja. Maka dari itu, support dari orang terdekat sangat penting untuk hal ini.
Penanganan pada penderita misophonia tentunya harus melalui serangkaian pemeriksaan oleh para profesional. Perlu dipastikan bahwa gejala misophonia yang ditunjukan bukan merupakan gejala dari masalah fisik atau mental lainnya. Setelah itu baru akan ditentukan jenis penanganan yang tepat.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Anak Mudah Tantrum? Waspada Disruptive Mood Dysregulation Disorder
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



