Deeptalk.co.id – Cukup banyak orang yang takut akan beberapa serangga. Saat dikerumuni serangga seperti semut baik itu di kaki, tangan, atau anggota tubuh lainnya, beberapa orang bisa jadi merasa jijik ataupun geli. Hal ini merupakan respon yang wajar, pasalnya tidak semua orang memiliki keberanian dalam menghadapi situasi tersebut.
Namun bagaimana jika seseorang merasa dikerumuni serangga yang sebenarnya tidak ada? Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa hal itu hanya merupakan suatu candaan atau bualan semata. Namun, merasa dikerumuni serangga namun ternyata tidak ada bisa jadi orang tersebut mengalami ekbom syndrome.
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai ekbom syndrome, artikel ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan rujukan self diagnosis.
Jika pembaca menemukan kesamaan kondisi antara isi artikel dengan apa yang dialami atau orang sekitar alami, jangan ragu untuk mengkonsultasikan kondisi tersebut dengan ahlinya seperti Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu, kamu akan mendapatkan diagnosis dan juga penanganan yang tepat.
Pengertian Ekbom Syndrome
Ekbom syndrome merupakan kondisi dimana seseorang merasa terdapat serangga atau parasit di area tubuhnya yang padahal serangga tersebut tidak ada sama sekali. Seorang Psikolog bernama Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog menyatakan bahwa ekbom syndrome merupakan bagian dari gangguan delusi.
Penderita ekbom syndrome umumnya akan mengunjungi rumah sakit atau klinik untuk memeriksakan kondisinya. Seperti yang dilansir dalam National Geographic, terdapat seorang Pria yang merasa bahwa hidungnya menjadi tempat tinggal serangga. Hal ini membuat Pria tersebut memasukkan pinset ke dalam hidungnya sebagai upaya untuk mengeluarkan serangga tersebut. Sayangnya tindakan tersebut tidak berhasil. Saat diperiksa ke dokter ternyata tidak ada serangga sama sekali di dalam hidung pria tersebut. Dengan demikian, Pria tersebut diduga mengalami ekbom syndrome.
Penderita ekbom syndrome merasa risih di bagian tubuh tertentu mereka beranggapan bahwa di salah satu anggota tubuhnya terdapat serangga. Beberapa dari mereka bahkan beranggapan bahwa serangga atau parasit berada di balik kulit mereka.
Kabar baiknya, ekbom syndrome masih masuk dalam kondisi yang cukup langkah. Berdasarkan catatan dari National Geographic, hanya ada sekitar 27 dari 100 ribu orang Amerika Serikat yang mengalami ekbom syndrome setiap tahunnya. Namun karena kelangkaan kondisi ini juga, penanganan pada penderita ekbom syndrome juga masih sangat minim.
Penyebab Ekbom Syndrome

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui secara pasti mengenai penyebab seseorang mengalami ekbom syndrome. Meski demikian, beberapa ahli percaya bahwa beberapa faktor dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami ekbom syndrome. Berikut beberapa faktor yang dimasud:
Mengkonsumsi obat-obatan terlarang
Beberapa penelitian menyatakan bahwa mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau narkoba bisa meningkatkan resiko seseorang mengalami ekbom syndrome. Hal ini dikarenakan narkoba seperti metamfetamin, heroin, dan kokain, dapat memicu halusinasi pada orang yang mengkonsumsinya.
Baca juga : Jangan Dibiarkan! Ini Dia Bahaya Dari Munchausen Syndrome
Stress berat
Selain mengkonsumsi obat-obatan terlarang, ekbom syndrome juga kerap kali dialami oleh seseorang dengan kondisi stress berat. Dimana saat seseorang mengalami stress berat, tubuh akan memproduksi hormon dopamin secara berlebihan. Dengan kelebihan hormon dopamin dalam tubuh, orang tersebut akan semakin beresiko mengalami beberapa gangguan seperti skizofrenia dan ekbom syndrome.
Penanganan Pada Penderita Ekbom Syndrome

Walaupun cukup mengganggu, sayangnya beberapa penderita ekbom syndrome enggan untuk berkonsultasi dengan Psikiater atau Psikolog. Terlebih lagi adanya pandangan negatif saat berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan mental, hal ini membuat beberapa orang tidak bersedia untuk mengunjungi Psikolog ataupun Psikiater.
Meski demikian, jika seseorang ingin terlepas dari kondisi tersebut, berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater merupakan langkah yang paling tepat. Dengan melakukan konsultasi, penderita akan mendapatkan diagnosis yang tepat. Dari diagnosis tersebutlah akan ditentukan penanganan apa yang cocok dengan kondisi penderita.
Psikolog umumnya akan memberikan penanganan berupa terapi psikologis. Tentu saja jenis terapinya disesuaikan dengan gejala dan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh penderita ekbom syndrome. Namun, jenis terapi yang paling umum dijalankan untuk kasus ini adalah terapi perilaku kognitif atau yang dikenal juga dengan cognitive behavioural therapy (CBT). CBT ini bertujuan untuk melatih cara pikir dan bertindak penderita terhadap apa yang diderita.
Sedangkan Psikiater akan memberikan penanganan dengan meresepkan beberapa obat-obatan yang dapat mengurangi gejala yang dirasakan. Obat yang umum diresepkan untuk kasus ini adalah obat olanzapin, yang dapat menekan delusi penderita. Obat tersebut juga harus melalui peresepan oleh Dokter atau Psikiater dan dikonsumsi sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh Dokter atau Psikiater.
Seperti itulah penjelasan singkat mengenai ekbom syndrome. Karena kondisi ini cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, maka jangan ragu untuk memeriksakan kondisi tersebut kepada Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu keadaanmu akan semakin membaik.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Anak Sering Memalsukan Penyakit? Waspada Gejala Munchausen Syndrome
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



